Naikkan Harga

Sell the Mentor 1 Arus besar tak harus diikuti. Fokus pada mereka yang mau keluar dari arus yang melemahkan. Fokus pada yang hanya mau naik kelas.

 

Di saat perekonomian disebut-sebut sedang memburuk seperti sekarang, dan banyak orang bersepakat atasnya, dan sebagian dari mereka berjamaah menggerutui keadaan, dan kemudian makin benarlah keburukan itu, saya merasa ini saat yang tepat bagi saya untuk menyampaikan sikap. Bukan sikap yang menentukan perekonomian bangsa, lebih-lebih yang kemudian mengubah keadaan menjadi lebih baik, lebih-lebih yang kemudian mampu membangkitkan orang-orang dari keterpurukan, lebih-lebih membalik keadaan, melainkan hanya untuk mengurangi satu suara bahwa tidak selalu yang umum itu patut diikuti apalagi jadi rujukan kebenaran.

Ini secara khusus tentang menulis. Tentang dunia saya. Tentang dunia yang mungkin juga tentang anda. Jika iya maka ini tentang dunia kita.

Pertanyaan yang menggelitik hingga kemudian melahirkan catatan ini adalah apakah saya menyikapi keburaman perekonomian ini dengan menurunkan tarif, baik sebagai coachwriter untuk sesi write coaching, maupun sebagai trainer untuk kelas pelatihan publik, maupun sebagai penulis untuk pekerjaan-pekerjan copy writing dan ghost writing? Tidak. Saya tidak menurunkan tarif. Sebaliknya, saya malah menaikkan tarif.

Ah, bagaimana ini? Bukankah mestinya saya menurunkan tarif dengan asumsi kemampuan beli orang atau lembaga menurun? Bukankah secara hukum pasar ketika permintaan turun sedangkan penawaran tetap maka harga turut melemah?

Hukum pasar berlaku di pasar. Lebih spesifik lagi, hukum pasar berlaku di pasar komoditas. Di jasa komoditas bolehlah berlaku hukum itu, yakni harga mengikuti kemampuan beli pasar.

Menulis, bagi saya, bukan pasar komoditas. Penulis, bagi saya, juga bukan penjaja jasa komoditas. Penulisan bukan pasar perdagangan umum. Ini pemahaman pertama saya.

Pemahaman kedua, secara mental, tidak pada tempatnya ketika mentang-mentang keadaan merosot kita ikut-ikut ngelesot. Mental pengikut seperti ini membahayakan kawanan. Sebab, bisa jadi, keadaan tak benar-benar buruk sebelum kita turut memperburuk, apalagi dengan mengajak-ajak gerombolan lain ngambruk.

Ketiga, dan ini juga secara mental, saya memahami, menulis adalah pengembaraan kreativitas. Tulisan yang dibaca adalah tulisan yang bertabur ide. Penulis yang dinanti-nanti adalah penulis yang hadir menabur gagasan. Tanpa kreativitas, tak ada apresiasi.

Atas itu semua, saya bersikap untuk tidak ikut arus. Arus derasnya meratap. Saya memilih menatap, bukan ke arah ratapan, melainkan ke pengharapan. Menepi, keluar dari arus, tanpa melawan secara berlebihan, saya menghela untuk kemudian mengambil jarak dari arus yang menghanyutkan.

Menaikkan harga adalah sikap saya. Menariknya, harga bukan semata uang. Jauh di atas itu, harga adalah tentang nilai, tentang value. Nilai ada jauh di atas uang. Nilai tak sebanding dengan uang. Uang itu penting, sedangkan nilai itu pokok. Maka, saya menaikkan harga pokok, sesuatu yang jauh lebih penting.

Berangkat dari keyakinan ini benarlah apa yang kemudian saya yakini.

Sell the Mentor 2Ini yang saya yakini. Situasi ekonomi yang disebut-sebut memburuk saya ibaratkan sebagai keadaan ketika banyak orang beramai-ramai tenggelam di lautan. Sudah tenggelam, mereka beramai-ramai menyeret diri ke dasar mencari pijakan. Mereka pikir pijakan itu yang akan menopang dan kemudian menyelamatkan. Mereka lupa bahwa yang diperlukan adalah oksigen, udara untuk bernapas. Dan udara itu tidak ada di dasar melainan di permukaan.

Analoginya, jika saya menurunkan harga maka saya sedang menawarkan kepada mereka gandengan tangan untuk membawa mereka menyelam semakin dalam ke arah dasar lautan. Terasa benar karena pikiran mereka sedang ke sana, sedang turun ke arah dasar, ke arah pijakan. Menjadi tidak benar karena penyelaman menuju dasar itu adalah petaka menuju kematian. Makin ke dalam, dengan tanpa cadangan tabung oksigen, makin tidak bisa bernapas. Selesai.

Yang mereka butuhkan adalah uluran tangan untuk berenang ke atas, ke sumber cahaya, ke permukaan yang lega, ke sumber udara yang menyediakan kesegaran. Dan ini tidak mudah. Mengajak orang-orang yang tenggelam dalam kepanikan untuk menjejak-jejakkan kaki ke atas, sembari menyibak-nyibakkan tangan menggapai permukaan, tidaklah mudah. Kekurangan oksigen bahkan menggelapkan nalar mereka untuk sekadar rileks hingga mengizinkan tubuh mereka mengambang dan menyembul ke permukaan.

Ini yang terjadi di jagat penulisan. Sementara banyak orang mengiba-iba minta keringanan biaya supaya bisa belajar menulis, saya menaikkan harga. Analogi orang tenggelam di atas yang saya pakai. Jika saya menurunkan harga, sejatinya saya sedang menjerumuskan mereka ke kegelapan mental. Bahwa mereka patut dikasihani. Hmmm, bisa dibayangkan, apa yang akan dicapai oleh pembelajar menulis yang dibelaskasihani? Mereka tidak akan bersungguh-sungguh belajar.

Saya naikkan harga untuk membantu mereka yang optimis hendak meraup udara di permukaan. Secara mental, mereka yang mau keluar dari kegelapan keadaan memilih untuk berenang ke atas, dengan gerakan naik, sehingga selaras dengan penawaran saya yang naik. Ya, naik disambut dengan naik.

Ikhtiar mental ini, ketika saya yakini sungguh-sungguh, ternyata bersambut positif. Teman-teman yang datang untuk belajar menulis, entah disebut klien atau coachee, adalah orang-orang yang juga terpilih secara mental sebagai orang-orang yang mau “naik kelas”. Mereka paham benar, justru ketika sekitar mereka muram dan bersungut-sungut lalu mengiba-iba minta turun ini-itu, mereka senyum dan bersuka-gembira menyambut kenaikan secara ringan. Ketika saya naikkan harga saya, saya bertemu pembelajar yang juga mau menaikkan harga mereka. Ya, seperti yang anda pikirkan, harga ini tentang nilai, bukan semata yang orang tahu sebatas harga komoditas.

Beberapa teman belajar yang sedang saya dampingi, sekadar menyebut contoh, tanpa perlu saya sebutkan namanya, adalah kandidat doktor yang mau mau menulis buku sebagai ahli pertama di bidangnya, adalah mahasiswa semester enam yang sudah memenangi kompetisi bisnis dan sedang bersiap memenangi ajang penulisan internasional, adalah guru-guru dari beberapa sekolah yang mau menaikkan kelas pribadi dan lembaga supaya makin unggul dalam kancah persaingan dunia pendidikan. Saya merasakan energi berlimpah bersama mereka.

Sekali lagi ini tentang ikhtiar mental. Saat kita fokus untuk naik kelas maka kita akan bertemu dengan mereka yang juga fokus naik kelas. Saat kita mengulurkan tangan kepada mereka yang mau naik kelas maka mereka yang sungguh-sungguh mau naik kelaslah yang menyambut hangat uluran tangan kita.

Maka, sejatinya, menaikkan harga hanyalah kail untuk menyeleksi siapa pembelajar sejati itu.

 

Salam naik,

@AAKuntoA

CoachWriter

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *