Nantikan Aku di Teluk Bayur

 

Teluk Bayur, pergi belajar untuk kembali. (Foto: Chandrasena)

Teluk Bayur, pergi belajar untuk kembali. (Foto: Chandrasena)

Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Daku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Ku harapkan suratmu setiap minggu
Kan ku jadikan pembunuh rindu

Lambaian tanganmu ku rasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasakan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur

Lambaian tanganmu ku rasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasakan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur
Nantikanlah aku di Teluk Bayur

Di tepi pantai Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, saya mengingat kembali lagu yang dipopulerkan Ernie Djohan itu. Ombak yang tenang di waktu pagi membawa suasana ke masa ketika lagu ini diciptakan. Saya membayangkan apa yang ada di benak Zaenal Arifin ketika menyusun syair lagu ini. Romantis sekali, tanpa terkesan picisan.

Membaca tulisan-tulisan tentang tradisi masyarakat Minang, lagu ini menunjukkan dengan sangat apik bagaimana tradisi merantau untuk belajar sudah sedari lama ditanamkan. Kesadaran bahwa masa tua perlu dipersiapkan dengan sekolah tinggi tergambarkan jelas di lagu ini. Saya membayangkan bagaimana pada zamannya Bung Hatta, usai sekolah di Padang melanjutkan kuliah di Batavia, menumpang kapal dari sini.

Pun terbayang bagaimana Belanda amat bergairah membangun pelabuhan Teluk Bayur di tahun 1888. Di tepian Samudera Indonesia, tentu saja Pelabuhan Teluk Bayur menjadi pintu masuk yang strategis pada masa itu. Sayang, jalur kereta menuju Sawahlunto melewati tepi Danau Singkarak kini mangkrak, meski ada yang menyebut masih beroperasi setiap hari Minggu atau jika dicarter. Padahal, jalur kereta itu menyimpan sejarah besar tentang pengangkutan batubara dari Sawahlunto, selain tentu saja jalur transportasi masyarakat. Menyedihkan memang, pemerintah kita abai pada pengangkutan publik, mematikannya, dan menyuburkan kendaraan pribadi. Saat melintas di sepanjang tepian Danau Singkarak, yang publik belakangan mengenalnya berkat gelaran balap sepeda internasional Tour de Singkarak, saya gundah menatap rel yang mulai berselimut rumput.

Untung, kini Pelabuhan Teluk Bayur kembali semarak. Di bawah pengelolaan BUMN Pelabuhan Indonesia, tahun 2011 dilakukan investasi dengan nilai Rp 675 miliar yang mampu menangani Peti Kemas CPO, Terminal Peti Kemas Teluk Bayur menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia dengan rerata 20 kapal bersandar tiap hari. 

Pun dengan diresmikannya jalan layang “Kelok 9” di Payakumbuh, yang menghubungkan Padang dengan Pekanbaru, aktivitas dunia usaha di Sumatera Barat via Pelabuhan Teluk Bayur tentu makin ramai. Kelok 9, yang sebelum ini menikung-nikung tajam, kini dengan jembatan layang baru bisa dilalui truk tronton berbadan panjang. Andai jalur kereta api dihidupkan kembali, betapa akan menariknya Sumatera Barat.

Di luar itu, pemerintah setempat sebaiknya juga memoles kembali pengelolaan objek wisata. Pantai Teluk Bayur, di seberang pelabuhan, selain tidak terkelola dengan baik, hanya dijaga petugas partikelir, juga kotor. Juga di Pantai Padang dan Jembatan Siti Nurbaya, sumpek menghalangi kemegahan pantai. Pun di Pantai Air Manih, tempat batu Malin Kundang tersungkur, sampah memenuhi sepanjang pantai. Jika bersih, ditambah informasi dan kegiatan kebudayaan yang lengkap, saya yakin pantai itu jadi objek wisata yang menarik.

Nantikanlah aku di Teluk Bayur…

 

Salam hebat,

@AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *