Nikmati Hidup. Sesekali Pergi Tanpa Tujuan!

Spontanitas itu deposito berharga yang boleh dicairkan sewaktu-waktu, meski dengan risiko kena pinalti. Dan seperti deposito, spontanitas hanya bisa dicairkan jika ada saldonya.

Seperti semalam. Spontan saja saya dan Kang Herman Joseph Sriyanto(Joyo) bersepakat untuk bertemu dengan suami-istri Juan Constantine Elang Perkasa (Elang) dan Nastiti Pamuji Tri (Nina). Kami bermufakat saat saya baru saja kelar membawakan sesi “presentasi efektif” untuk para instruktur BLK Kementerian Tenaga Kerja bersama Haryo Bimo Utomo,Teddy W Laurentius, dan Putera Lengkong dari Ekselensi Training Indonesia. Salah satu hasil belajar bersama hari itu: presentasi harus bertujuan. Seikat!

Segera merampungkan pekerjaan menyunting artikel opini dan menulis tajuk rencana untuk Harian BERNAS, pulang mandi dan lukar baju, kami menjejak pukul 10 malam. Di belahan sana, Elang dan Nina melejit dari Semarang. Kami janjian ketemu di Ngablak, rumah orang tua Nina. Jarak 66 km kami tempuh dalam 90 menit. Ada ruas tanpa marka di tanjakan berkelok-kelok yang memaksa Kang Joyo mengurangi kecepatan.

Tiba di Ngablak, di rumah di depan pasar, kami langsung disuguhi beberapa penghangat: anglo (tungku kecil berarang menyala) sebagai perapian, kopi sachet yang dicomot dari warung, dan “anget-anget” lain yang tidak perlu saya ceritakan…

Ngobrol sebentar, Nina dan Elang meminta kami lekas masuk kamar dan tidur. Sebelum digigit dingin, ancam mereka sembari menawari kaos kaki (yang setelah dibuka ternyata kaos tangan).

Pagi-pagi benar, mendapati tubuh masih terbalut selimut, kami bangun. Tuan rumah sigap menyediakan kopi dan gorengan. Habis tempe tepung sepotong, tanpa berpamitan pada Ibu yang baru saja bangun dan sedang mandi, kami undur diri. Pulang.

Belum sampai batas desa, saya dan Kang Joyo tergelak-gelak. “Kita ngapain ke sini?” Nggak ngapa-ngapain. “Memangnya segala sesuatu harus ada tujuannya, ya?” Jleb!

Kami berteman sejak lama. Ada banyak deposito cerita sepanjang pertemanan kami. Terpisah jarak dan kesibukan masing-masing jarang kami bertemu. Maka, ajakan impulsif seperti semalam sering kami tanggapi ekstra-antusias, justru di waktu-waktu yang mepet. Rasanya rehat sejenak “tanpa ngapa-ngapain” selalu membugarkan semangat kami untuk “ngapa-ngapain” lagi dalam pekerjaan dan keseharian yang penuh dengan kerumitan: tujuan, goal, outcome, impact…

“Makan soto, yuk!” ajak Kang Joyo selepas batas desa. Saya yang pegang kemudi mengangguk tanda setuju, dan makin dalam menginjak pedal gas. Dan kami lanjutkan obrolan tanpa tujuan di sepanjang jalan. Ehm, dan 64 km sesudah ide makan soto itu tercetus kami baru menepi di Warung Soto Sorgapuro yang legendaris.

Kenyang, usai mengantar saya pulang, Kang Joyo langsung bergegas ke SMA Kolese de Britto. Mengajar. Tanpa mandi.

Incoming search terms:

  • pergi tanpa tujuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *