Ora Kemrungsung

Satu kejadian bisa lahirkan respon yang berbeda. Apa sebabnya? Seperti apa persisnya respon itu?

Jumat, 21 Februari 2014, hujan lebat sekali sejak siang hingga petang. Saya girang bukan kepalang. Sudah beberapa hari hujan tak turun. Saya dan mungkin kebanyakan orang Jogja saat itu risau jika hujan tak lekas turun. Tak terbayang jika itu terjadi.

Ternyata hujan turun juga. Lebat pula. Saya dan mungkin warga Jogja lainnya bersuka cita menyambutnya. Hujan ini legakan hati kami. Abu vulkanik Gunung Kelud yang menempel di daun-daun, melekat di atap rumah, dan mengendap di rerumputan, sirna sudah oleh guyuran air dari langit.

Sebelum hujan lebat turun, genteng dan pekarangan rumah penuh debu. Ditiup angin, debu abu yang begitu lembut itu menyusup hingga ke sudut-sudut rumah. Nyaris tak ada sudut yang bebas dari sergapan debu. Sebagian terlihat dari warna perabot yang berubah menjadi kusam, sebagian lagi baru terasa berdebu saat saya colek. Ujung jari saya mengenali mana debu biasa dan mana debu vulkanik.

Hujan menghapus bayang-bayang saya akan hari-hari yang kelabu. Semua pemandangan yang temaram, berkat hujan, kembali mekarkan warna seperti sedia. Daun menghijau, genteng coklat kemerahan, hmmm… pipi merah merona. Hujan kembali hadirkan kehidupan.

Tak perlu lagi masker untuk menyaring nafas. Hidung kembali lega menghirup dan menghempas udara. Lega. Paru-paru pun serasa menari kegirangan beroleh gelontoran oksigen yang murni. Degup jantung pun terasa lebih tegas.

Di tengah hujan yang mendungnya mengaburkan batas gelap dan petang, saya berkemas. Sore ini jadwal saya terbang ke Jakarta. Tiket sudah di tangan, jadwal acara keesokan paginya pun sudah final. Tak ada pemberitahuan dari maskapai andai penerbangan sore itu ditunda. Dengan satu tas ransel yang berisi bekal pakaian untuk acara seminggu, saya bersegera ke bandara yang jaraknya sekira 10 km dari rumah. Berhubung mobil ngadat setelah seminggu tak dipanasi akibat fokus bersih-bersih abu, saya memanggil taksi.

“Rp 70.000,” pinta sang sopir. Aha, hujan menjadikannya semena-mena, batin saya. Biasanya, dengan argo, tarif ke bandara hanya separonya. Dengan tip—jika pelayanan ramah—tak akan lebih dari selembar uang biru. Hujan tak menyediakan pilihan, begitu mungkin batin si sopir. Dan saya pun tak sedang memilih. Saya iyakan saja permintaannya. Yang penting lekas sampai di bandara. Saya mesti check-in lebih awal karena web check-in yang disediakan maskapai ngadat tak mau melayani.

Ternyata, bandara tak seramai yang saya bayangkan. Cukup lengang. Turun dari taksi bergambar satwa penghuni kebun binatang tersebut, saya hanya butuh 5 menit untuk melibas antrian. Tanpa bagasi, dan telah mendapatkan tempat duduk di pintu darurat, lalu membeli airport tax, saya bersantai di ruang tunggu. Seperti biasa, saya duduk di pojok tepi supaya bisa memantau pergerakan penumpang lain. Selalu pasti, dengan cara itu saya bisa tahu siapa saja orang yang saya kenal hendak terbang. Jika sedang mau, saya hampiri orang tersebut untuk sekadar ngobrol. Dan benar, malam ini saya berjumpa dengan beberapa teman.

Hujan sudah reda ketika petugas bandara menyebarkan pengumuman bahwa pesawat yang saya tumpangi mengalami penundaan terbang lebih dari sejam. Karena alasan cuaca, demikian saya dengar dari pengeras suara tentang alasan keterlambatan, bahkan pesawat yang bakal saya tumpangi belum mendarat dari penerbangan sebelumnya.

Haruskah saya dongkol dengan penundaan penerbangan ini? Penumpang lain tampaknya begitu. Terdengar dari mereka gerutu yang tersumbat. Terasa juga raut wajah kecewa mereka.

Ditemani segelas plastik air mineral plus roti bantat tak berasa yang dikemas dalam dos bergambar maskapai yang terkenal dengan sebutan “delay air” tersebut, saya nikmati saja penundaan tersebut. Saya memilih tidak menggerutu, toh tidak mengubah apa apun.

Tiba saatnya, mundur sekira 1,5 jam, kami dipanggil masuk pesawat. Hujan sudah reda. Tak ada khawatir pesawat bakal tergelincir karena landasan sudah mulai mengering. Nanti, sampai di kota tujuan tengah malam, saya bersyukur ketika kemudian mendapati jalanan keluar dari bandara begitu lengang. Tak ada macet, hanya lancar belaka.

Pilihan saya tidak keliru. Dengan rileks rupanya saya justru mendapatkan serentetan kemudahan. Yup, urip ora sah kemrungsung.

Salam,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com | http://solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *