Blog

Menilai diri membebaskan batas

Senang mengajar tak serta-merta membikin saya senang menilai. Betah mengajar seharian namun gundah ketika sejam saja duduk sebagai juri memilih karya orang lain; atau sebagai guru membubuhkan nilai.

Bukan soal menilai itu tidak penting. Saya yang merasa tidak sreg menilai; juga tak memiliki bekal memadai bagaimana menilai secara profesional dan adil. Lebih hepi melatih banyak orang lebih cakap menulis daripada menyingkirkan potensi-potensi penulis demi memilih satu-dua yang memenuhi kualifikasi tertentu.

4 hal paling menyebalkan dari De Britto (3)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Magis

Ada dua pengertian magis yang saya resapi dari prinsip dan dasar Latihan Rohani Ignatian yang saya kenal sejak sekolah di De Britto. Pertama, jika bisa lebih bagus kenapa hanya bagus saja? Kedua, justru karena sulit maka tantangan wajib diterima.

4 hal paling menyebalkan dari De Britto (2)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Bagus

Menjadi orang biasa tidak dianjurkan di De Britto. Juga tak diajarkan. Yang ditanamkan oleh guru adalah bagaimana menjadi pribadi yang luar biasa. Unggul bahasa lainnya. Berkarakter istilah halusnya.

4 hal paling menyebalkan dari De Britto (1)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Beda

Persis seperti pembuka tulisan ini, hal pertama yang sangat menyebalkan dari De Britto adalah tentang beda, pembeda, dan perbedaan. Mantranya: “Cah De Britto ki kudu beda.” (Cah berasal dari kata bocah, untuk mewakili siswa dan alumni) Orang luar pun menebalkan label “Cah De Britto ki pancen beda”. Kudu dan pancen. Harus dan memang. Harus: yang akan dikerjakan berbeda. Memang: yang sudah dikerjakan selalu berbeda.

Sederhanakan yang rumit, fokus pada yang paling!

Bermasker, memfilter hanya yang penting.

Bermasker, memfilter hanya yang penting.

Awali 2021, saya sampai pada kesadaran, pandemi covid-19 ini pengingat sangat baik untuk kehidupan. Kehidupan saya sekurang-kurangnya. Syukur jika anda juga merasa demikian.

#pakaimasker

Baik yang saya ucapkan maupun hirup: pilih, saring, batasi. Saya tidak perlu mengomentari semua hal, lebih-lebih tentang sesuatu yang saya tidak tahu persis kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatannya. Maka, tidak semua berita dan posting orang di media massa saya baca dan komentari. Selain membuang waktu, membaca dan menanggapi semua juga tak ada gunanya. Ibarat makan, melahap semua hidangan yang disuguhkan bukannya bikin kenyang melainkan kekenyangan. Berlebihan yang sia-sia.