Blog

Membaca Tanda Kematian

Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong, sedang menghampiri siswi-siswi SMK Pariwisata dan Kelautan Ancop di asrama mereka di Likotuden. Sekolah ini baru berdiri tahun ini.

Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong, sedang menghampiri siswi-siswi SMK Pariwisata dan Kelautan Ancop di asrama mereka di Likotuden. Sekolah ini baru berdiri tahun ini.

Berjuluk “sripaholic” (Jw, sripah: kematian), lama-lama saya mulai mencermati tanda-tanda kematian. Juga membaca mana kematian yang pantas dirayakan dan mana kematian yang berujung batu kutukan.

Tidak. Kali ini tidak tentang kematian manusia melainkan kematian organisasi. Tentu, ada manusia di organisasi. Tentu, kematian organisasi tak lepas dari kematian manusianya. Sebab, organisasi hanya ada jika ada manusia di dalamnya, yang menggerakkannya, dan yang kemudian menghentikannya.

Seribu Kata Mengenang Kristupa

170710 Kristupa Saragih RIP“Good morning from Denpasar, Bali,” komentarku atas status FB-mu 25 Juni 2017, “Good morning from Sanur, Bali.” Sahutmu singkat, “Mantappp.”

Sahutanmu itu pertanda jelas bagiku. Kamu sedang sibuk. Terhadap tanda seperti itu aku tak berani menerjangnya. Aku hanya mau menemuimu jika kamu meneruskan sahutan itu lewat japri, “Dolan ndene, Kun!” Dan itu dua tahun sekali. Itu pun untuk obrolan yang belum pernah ujungnya kita eksekusi.

“Sik, Kun. Aku belum nemu angle yang tepat,” kilahmu setiap kali aku menagih, “Mana bukumu?”

Pelihara Naluri Binatang

Bersama Servasius Bambang Pranoto

Bersama Servasius Bambang Pranoto

Penasaran dengan status-status provokatif Servasius Pranoto di FB, Minggu (2/7) saya meluncur ke Gianyar, Bali. Saya menuju ke pusat kegemparan bernama KUTUS KUTUS TAMBA WARAS.

Ini kali pertama bertemu. Sambutan sang empunya sangat hangat. Saking hangatnya, obrolan kami berpindah-pindah topik dan tempat. Untuk tempat, dari ditemui di restoran yang ia khususkan bagi wisatawan Prancis, pindah ke teras samping sanggah pemujaan Padmasana, ruang produksi jejamuan, hingga di teras kamar keluarga. Dari tengah hari hingga malam.

Hidup Bertetangga: Srawung

Hidup bertetangga: srawung

Hidup bertetangga: srawung

Di rantau, tetangga itu saudara. Kenal di sini, sama-sama kerja di sini, baiklah saling mengunjungi.

Hingga tengah malam ini, saya berkunjung ke tetangga sebelah. Tetangga ini yang pada malam takbiran mengirim sepaket opor dan ketupat. Mereka yang berlebaran, saya turut merayakan.

Di rantau, suasana kampung bisa diusung. Asal kita tak membusung. Di rantau orang juga ingin hidup seperti di kampung. Setiap saat. Maka, ketika tak bisa mudik, tak berarti kehilangan kebersamaan seperti di kampung. Di rantau, sama-sama pendatang, baiklah menegakkan semangat hidup ala kampung.

Rindu Panenan Bapak

Bapak yang menanam, saya yang memanen

Bapak yang menanam, saya yang memanen

Bapak saya hobi menanam. Pohon apa saja ditanam. Beliau yakin, semua yang tumbuh di atas tanah layak ditanam. Beliau juga yakin setiap tanah layak ditanami.

Jika ada tanaman yang tidak bertumbuh ketika ditanam, bukan tanamannya yang bermasalah, melainkan cara menanam dan menumbuhkannya yang belum tepat. Sekarang, tanaman yang belum berhasil beliau tanam adalah durian dan matoa. Khusus matoa, pernah tumbuh dan patah karena saya tabrak saat saya bersepeda keliling halaman.