Panen Inspirasi

_DSC0192_1_resize_resize

(foto: Rini Martadi)

Kertas warna-warni itu dibagikan. Anak-anak itu girang menyahutnya. Sesudah diberi tahu maksudnya, bergegas mereka melipat kertas itu sedemikian rupa sehingga membentuk pesawat. Ada yang lancip, ada yang tumpul. Tak mengapa, yang penting mereka tahu kertas lipat itu sekarang berbentuk pesawat.

Sebelum diterbangkan, pada punggung, sayap, atau moncong pesawat itu mereka tuliskan selarik kata cita-cita. Ada yang mau jadi bidan, jadi jurnalis, jadi penyelam, jadi fotografer, jadi pustakawan, jadi penulis, jadi sutradara… Aha, mulai hari ini, 16 Maret 2015, mereka tahu bahwa cita-cita tak terbatas menjadi dokter dan pilot. Tentu tetap boleh, dan ada, menuliskan cita-cita mulia itu. Boleh. Hanya saja, sejak hari ini mereka tahu ada beragam pilihan profesi di masa yang akan datang untuk mereka persiapkan.

***

Inilah puncak hari inspirasi di SDN Kebonagung, Minggir, Sleman, Yogyakarta. Anak-anak, dari kelas satu sampai kelas enam, antusias mencantolkan pesawat-pesawat itu di seutas tali yang dibentangkan di depan kelas masing-masing. Ada pula yang menerbangkannya berulang-ulang. Ada pula yang meminta izin, “Bolehkah saya bawa pulang?” Mungkin ia mau persembahkan pesawat cita-cita itu ke ruang cerita keluarga di rumah.

Kami, para relawan pengajar dan dokumentator, menutup hari dengan hati bungah tiada terkira. Berfoto bersama guru dan peserta didik, kami membungkus Senin Wage, 25 Jumadilawal 1948, ini dengan keyakinan semoga apa yang sudah kami bagikan menjadi awal yang cemerlang bagi anak didik di perbatasan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulonprogo tersebut. Ekspresi kegembiraan terekam utuh di foto-foto yang tersaji.

Lalu, kami ingat bagaimana pagi ini kami memulai hari. Datang di pagi yang sangat dini, yakni 06.30 wib, kami mendapati halaman dan genting SDN Kebonagung diguyur cahaya mentari yang bersinar sempurna. Hati kami pun serasa hangat bersamanya. Rasa penasaran yang menemani tidur kami di malam-malam sebelumnya mulai menemui penawarnya.

DSC_0245_resize

(foto: Rudi Hatmoko)

Bagi sebagian besar dari kami, ini pengalaman pertama mengajar di Kelas Inspirasi. Bahkan, ada pula yang baru pertama kali mengajar di depan anak-anak sekolah dasar. Terbayang bukan bagaimana suasana batin kami? Terungkap, ada yang grogi tergelayuti bayang-bayang betapa bakal tidak mudah menguasai kelas. “Rileks saja. Ajak bermain,” hibur satu sama lain.

Begitulah. Tim kami sangat kompak. Saling mendukung. Bahkan, di grup Whatsapp, riuh bercanda laksana saudara lama. Beginilah, Kelas Inspirasi menyatukan kami sebagai saudara baru. Dan pagi ini, kami bersaudara memperluas jangkauan persaudaraan dengan merangkul guru dan peserta didik SDN Kebonagung.

***

Tepat pukul 07.00 wib, proses pembelajaran dimulai dengan upacara bendera dengan pembina upacara Kepala SDN Kebonagung Ibu Suryanti. Kami berbaris di samping paduan suara. Selain lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan mengiring pengibaran Sang Merah Putih, dan Hening Cipta, lagu penutup yang menggetarkan sanubari kami adalah Bagimu Negeri. Lagu ini seolah memberi kami mandat untuk menjadikan hari inspirasi ini sebagai persembahan untuk memajukan negeri.

Usai perkenalan singkat di halaman tengah sekolah, di akhir upacara, kami pun bersiap memasuki kelas sesuai jadwal yang sudah disusun. Anak-anak menyongsong kami dengan suka-cita. Mereka girang bukan kepalang disambangi para inspirator yang mengenalkan profesi masing-masing secara unik. Ada yang membuatkan kamera buatan untuk mengenalkan profesi di dunia pertelevisian. Ada yang memperagakan bagaimana memeriksa kebersihan mulut dan gigi untuk memperkenalkan profesi kesehatan dan kebidanan. Ada yang bermain sulap dan permainan ketangkasan untuk mengenalkan profesi penulis. Ada… ada… ada berbagai cara untuk semata-mata membuat anak-anak antusias menyimak. Sampai-sampai ada anak yang menjuluki salah satu dari kami sebagai “Pak Guru Hiu”. Ya, berkat cerita seru sang inspirator tentang negeri bahari dan dunia bawah laut.

DSC01242_1

(foto: Rini Martadi)

Lewat media apa pun, baik menerangkan, memperlihatkan peraga tertentu, maupun mengajak mereka menyanyi, nilai-nilai keutamaan yang disepakati di Kelas Inspirasi selalu kami tekankan. Bahwa untuk mencapai cita-cita harus bekerja keras, jujur, dan penuh rasa tanggung jawab.

Entah, saat ini nilai-nilai itu mungkin masih melintas di telinga kanan sebagai jargon, lalu keluar telinga kiri sebagai petuah belaka. Namun, dalam kebersamaan sesaat itu kami yakin, kelak mereka akan ingat nilai-nilai apa yang memastikan mereka sampai di gerbang masa depan impian.

***

Kegembiraan memang bisa melipat waktu. Ingar-bingar bersama anak-anak lekas berlalu. Saat matahari di puncak terik, saat ini pula kami menarik diri dari sekolah. Diiring lagu Sayonara yang kami lantunkan bersama, Kelas Inspirasi berakhir sampai di sini. Segala persiapan yang kami cicil beberapa minggu sebelumnya, sejak di Pendopo Agung Tamansiswa, di angkringan KR, di Kafe Semesta, hingga di beranda Perpustakaan Kota Yogyakarta sempurna sudah.

Mewakili guru dan murid, Bu Yanti menyalami kami. Tuturnya, “Kami sangat senang dan gembira menerima kehadiran tim KI untuk menginspirasi peserta didik agar mempunyai mimpi yang besar karena lokasi sekolah yang juga berada di pinggiran. Kami berharap, kegiatan seperti KI dapat berkelanjutan untuk terus menginspirasi anak negeri.”

Bu Ponijem, seorang guru, menambahkan keyakinannya, “Satu-dua1-2 murid SDN Kebonagung bakal punya profesi yang sama dengan para pengajar KI kelak. Satu-dua anak pasti mengidolakan pengajar KI. Mengidolakan dan selanjutnya bermimpi menjadi sang idola, dan berupaya mewujudkan impian itu.”

Sayonara!

Sungguh, Kelas Inspirasi tak hanya menginspirasi peserta didik. Kami pun terinspirasi. Kami terpanggil untuk terus berbagi. Kesan ini yang kami katupkan dalam kenangan akan Kelas Inspirasi di SDN Kebonagung, Minggir, Sleman:

Nama lengkap :
1. Rudi Hatmoko – fotografer: “Suka, suka, suka, dan bergembira bersama.”
2. Rini Martadi – fotografer: “Tak terlupakan.”
3. CM Ida Tungga Gautama – fasilitator: “Luar biasa….”
4. Antonius Kisworo Pinilih – penyelam, pembuat film: “Akrab, hangat, dan riuh.”
5. Titien Afriani – fasilitator: Penuh dengan semangat dan harapan.”
6. Ririn Aprilia – fotografer: “Riang, bersahabat, dan mengesankan.”
7. Muhammad Novvaliant Filsuf Tasaufi – dosen, psikolog: “Ceria dan peduli.”
8. AA Kunto A – penulis, CoachWriter: “Guyub, gayeng, gerrr.”
9. Ratno Murdiat – floor director: “Seru dan berkesan.”
10. Novy Diana Fauzie – pustakawan: “Takjub, bangga, dan bahagia.”
11. Rausanfiker Robby Maulana – videografer: “Manis, manis, manja.”

12. Ochi –jurnalis: “Mantap, aktif, dan hebat.”
13. Dilla –IT: “Sharing, caring, dreaming.”

 

 

SDN Kebonagung, 16 Maret 2015

Teks: AA Kunto A

Foto: Rudi Hatmoko dan Rini Martadi

Video: Rausanfiker Robby Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *