Para Pembunuh

Sekonyong-konyong, teman-teman baik saya menjadi pembunuh. Sekurang-kurangnya, aktivitas mereka mengarah ke tindakan pembunuhan.

Saya jadi berkunang-kunangmenyikapi pertemanan saya dengan mereka. Dalam hati saya percaya bahwa mereka orang-orang baik, setidaknya kepada saya. Saya rasa, mereka bukan orang jahat, setidaknya kepada saya. Saya yakin mereka pun tidak sedang merencanakan atau melancarkan aksi pembunuhan, juga setidaknya kepada saya.

Semalam saya bersama para pembunuh itu. Di Kopi Jo, kami duduk bercengkerama hingga waktu melompati pergantian hari. Minum kopi, itu yang menyatukan kami. Kopi biasanya dikembaridentikkan dengan kesukaan para pembunuh itu. Bedanya saya dengan mereka, saya hanya minum kopi, tidak “meminum” yang lain yang menyebabkan mereka dikategorikan sebagai pembunuh. (Di Jogja, aktivitas peneman minum kopi itu disebut “ngunjuk ses”, minum rokok. Entah, bagaimana asalnya merokok disebut minum.)

Kopi yang kami minum beda. Diperciki sedikit susu—dan coklat sepertinya, sehingga dari situlah rasa manis lahir, Kopi Jo dijerang di atas tungku dalam wadah kuali dari tanah liat. Bukan diguyur air mendidih seperti kopi-kopi pasaran, bukan pula disaring-saring seperti cara mendewasakan rasa kopi aceh. Kopi Jo diracik dan dihidangkan nyaris tanpa atraksi yang heboh. Satu-satunya yang bikin heboh di kedai seukuran setengah lapangan badminton yang terbuka tanpa pintu dan penyejuk udara ini adalah tayangan film yang dipancarkan oleh televisi layar datar sekira 32” berpengeras suara menggelegar. Tepatnya film yang diputar dari lempengan bundar, bukan tayangan tv. Jika sedang berhimpun, kami tak menoleh ke layar datar itu.

Para pembunuh, yang duduk di depan saya, di samping saya, tak hirau dengan kehirukan itu. Bincangan di antara mereka, termasuk dengan saya, tak kalah memikat untuk saling kami simak. Termasuk, obrolan tentang keikutsertaan teman-teman yang memutuskan diri berkampanye menjadi calon anggota legislatif. Ini gosip seru yang membuihkan mulut hari-hari belakangan.

Banyak gosip di warung kopi. Para pembunuh juga nimbrung di dalamnya. Ikut ngobrol sambil ngopi dan meminum yang lain. Gosip berat jadi ringan, gosip ringan terasa lebih ringan. Saat bergosip seperti itu tak bakal terasa bahwa saya berada di tengah para pembunuh. Saat mereka menghisap rokok dan kemudian menghempaskan asapnya lewat mulut atau hidung, saya pun tak merasa bahwa mereka sedang menghunuskan pedang pencabut nyawa.

Benar bahwa mereka merokok, namun apakah mereka bermaksud membunuh seperti bunyi peringatan “merokok membunuhmu” itu? Jika merokok membunuh, maka perokok pembunuh, bukan? Jika benar perokok pembunuh, maka saat nongkrong di warung kopi bersama para perokok berarti saya sedang bersama para pembunuh. Dan jika benar begitu, maka dengan atau tanpa laporan saya, mestinya aparat penegak hukum menangkap mereka. Bukankah di negeri ini membunuh adalah kejahatan melawan hukum, dan karenanya patut diganjar hukuman?

Salam kopi,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

 

1 Comment

Add Yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *