Paus Ingkung

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Buku 99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis karangan Romo Elis Handoko SCJ (foto: AA Kunto A)

Hidup bertetangga di kampung itu hidup dalam aliran rejeki. Jika tak memberi ya menerima. Jika tak menyumbang ya meminta tolong. Jika tak mengubur ya menyambut kelahiran.

Seperti pagi ini. Usai takziah atas kematian Yesus di Jumat Agung lalu, lalu semalam merayakan kebangkitannya, pagi ini tetangga depan rumah mensyukuri bertambahnya keluarga mereka. Sebesek “ater-ater” diantarkan ke rumah: nasi ingkung ayam.

Dalam tradisi Jawa, yang saya dengar dari tuturan-tuturan simbah, ingkung bermakna penyucian. Bayi yang lahir digambarkan suci. Keluarga bayi memohonkan supaya penerima ingkung mendoakan agar mereka diampuni dosa-dosanya supaya kembali suci.

Pas sekali. Semalam, dalam perayaan malam Paskah, ada ritus pembaruan janji baptis. Baptis adalah simbol penyucian. Membarui janji baptis berarti ajakan untuk kembali kepada semangat suci itu.

Istimewa sekali. Saya membayangkan, jika Yesus anak Mariam itu lahir di Jawa, Yohanes akan membaptis-Nya di Sendangsono, seperti Van Lith membaptis Barnabas Sarikromo dan 171 umat Katolik pertama di Jawa. Lalu, tanpa perlu debat klasik “duluan ayam atau telor”, sesudah baptis ada pesta “ingkung paskah”. Anak-anak pasti suka kalau ada lomba mewarnai ingkung, mediumnya lebih besar dari telor.

Dan lagi-lagi kalau Yesus lahir di Jawa (mungkin Yusup akan memberinya nama Yoso), kelak ia tidak akan menghebohkan publik dengan pesta “lima roti dan dua ikan”, melainkan “lima singkong dan dua ingkung. Ya, seperti imajinasi F Rahardi dalam novel “Lembata”-nya, mestinya di Flores hosti diganti jagung titi dan anggur dilukir moke. Daripada impor gandum dan anggur.

Ah, sudahlah. Tak perlu berandai-andai. Wong Paus Fransiskus saja mengajak untuk tak berandai-andai kok. Hadapi dunia, bukan khayalkan dunia. Jenderal besar Gereja Katolik itu dengan gayanya yang lugas-pedas menampar-nampar pengikutnya, “Jangan melepaskan ide dari kenyataan! Peluklah mereka yang menderita!” Tak hanya dalam kata, dalam tindakan ia menunjukkan. Seperti saat prosesi Kamis Putih lalu, ia membasuh kaki orang-orang yang sungguh-sungguh tersingkirkan: migran muslim. Ia mencium kaki saudara yang berbeda keyakinan. Tahun lalu ia menyungkurkan diri di punggung kaki narapidana.

“Siapalah aku ini (kok) menghakimi?” pertanyaan retorisnya menohok sekali. Alih-alih menghukum dan melabeli “kamu berdosa”, ia merangkul pendosa itu untuk bertobat. Jesuit sekali: pendosa yang dipanggil. Maka, salah satu ajakannya yang tak gampang dilakoni namun melegakan sesudahnya adalah, “Deringkan teleponmu untuk para lawan dan pengritikmu!”

Dari mana saya tahu tentang spirit paus yang waktu lahir 17 Desember 1936 diingkungi di Buenos Aires-Argentina, dengan nama Jorge Mario Bergoglio ini? Dari buku “99 Cara Belajar Hidup Ala Pope Francis” karangan sahabat saya Romo Elis Handoko yang saat ini berkarya mendampingi anak-anak dan remaja di Keuskupan Agung Palembang. Terima kasih Penerbit Grasindo atas kiriman buku inspiratif baru yang sekarang sedang banyak dicari di toko buku ini.

Angka 99 bermakna “Asmaul Husna”, selaras dengan prinsip Paus “Ad Maiorem Dei Gloriam – Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar”.

Tahun depan, Paus Fransiskus dijadwalkan mengunjungi Indonesia menghadiri Hari Kaum Muda se-Asia (Asian Youth Day). Tempatnya di Yogyakarta. GP Ansor mendukung kalau lokasinya di Gunung Kidul.

Saya usul: suguhi Paus ingkung.

#Paskah #Easter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *