Pelihara Naluri Binatang

Bersama Servasius Bambang Pranoto

Bersama Servasius Bambang Pranoto

Penasaran dengan status-status provokatif Servasius Pranoto di FB, Minggu (2/7) saya meluncur ke Gianyar, Bali. Saya menuju ke pusat kegemparan bernama KUTUS KUTUS TAMBA WARAS.

Ini kali pertama bertemu. Sambutan sang empunya sangat hangat. Saking hangatnya, obrolan kami berpindah-pindah topik dan tempat. Untuk tempat, dari ditemui di restoran yang ia khususkan bagi wisatawan Prancis, pindah ke teras samping sanggah pemujaan Padmasana, ruang produksi jejamuan, hingga di teras kamar keluarga. Dari tengah hari hingga malam.

Untuk topik, dari De Britto, tempatnya sekolah hingga kelas 2, Philips di Belanda, tempatnya bekerja, Prancis, tempat ia bekerja profesional sebelum banting hidup kembali ke jalan sunyi: tinggalkan semua harta benda, menempuh perjalanan darat bersama istri dengan bekal 3 pasang pakaian, hingga sampai dan menetap di Bali. Anak-anak ditinggal dengan bekal hibah harta yang sangat cukup. Lama tinggal di Eropa, anak-anak tidak kaget dengan keputusan orang tuanya.

Di Bali, Mas Bambang, demikian saya memanggil, bersama istri hidup dari nol. Mereka hanya makan dari hasil bekerja di Tanah Dewata. Harta milik yang dulu ditinggalkannya sama sekali. “Pernah tidak makan karena nggak punya beras,” kenangnya.

Apa sih yang dia cari? Mengapa kemapanan dicampakkannya begitu rupa?

“Kita ini binatang. Harus lapar supaya bisa makan. Kita nggak bisa makan terus-menerus,” ungkapnya simbolik.

Ia rindu lapar. Ia rindu perjuangan. Ia rindu hidup yang sungguh hidup.

“Saya dulu kalau tidak barang bermerek tidak mau pakai. Bayangkan, diajak nggembel Mas Bambang ya saya ikut. Saya tinggalkan dunia sosialita. Saya ikut Mas Bambang. Saya percaya dia,” tukas istri yang mengakui dulu memilih suami karena ukuran materi.

Rindu lapar, Mas Bambang tahu besarnya hasrat menerkam. Dan macan lapar itu sepenuh tenaga mengejar dan menerkam buruannya. KUTUS KUTUS adalah hasil kelaparan sangat mendalamnya. Bukan sekadar kelaparan fisik melainkan juga kelaparan spiritual. Maka, gerakannya bukan semata “strategi penjualan” melainkan “revolusi sosial”.

KUTUS KUTUS adalah gerakan sosial. Dasarnya adalah bacaan-bacaan filsafat yang dilahapnya. Dasarnya adalah kelompok Studi Teater Mahasiswa yang ia kelola semasa kuliah elektro di UKSW, Salatiga. Dasarnya adalah “pelaksanaan kata-kata Mas Willy” WS Rendra sohibnya di Bengkel Teater. Dasarnya adalah penguasaan teknologi terbaru di genggaman tangannya.

Dan, dasarnya adalah bukan apa-apa: hanya 3 lumpang dan alu di teras belakang untuk menumbuk jamu. Menumbuk adalah mengalirkan energi kesembuhan. Menumbuk adalah kemampuan sangat mendasar tukang jamu tradisional. Ia menumbuk tengah malam kala semua orang tidur.

Tangannya terampil menumbuk sekaligus memencet perangkat digital. Ia tekun menempuh jalan sunyi sekaligus bergegap gempita di keramaian. Modern dan tradisional ia pertemukan dan jalani. “Saya malu kalau sampai ada teknologi baru tidak saya kuasai,” ujarnya.

Mas Bambang melakoni hidup yang paradoksal. Di satu sisi berburu seperti binatang, di satu sisi berpasrah seperti tumbuh-tumbuhan yang mengelilingi rumah terpencilnya. “Nggak usah diapa-apain tanaman itu tumbuh sendiri. Untuk makan cukup,” renungnya.

Pelihara lapar. Makanlah saat lapar. Dan begitu kenyang, pasti tak ingin makan. Tunggu lapar lagi.

Dan begitu selesai makan malam, Mas Bambang mengusir saya, “Kalau mau pulang silakan lho.” Ia paham, pembicaraan saat kenyang itu tiada guna.

Bali, 3 Juli 2017
@AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *