Pensiunan Hore

PhotoGrid_1466732584366Tak sengaja ketemu Pak Bernadus Widiyanto di peturasan ruang tunggu Bandara Adisucipto Yogyakarta, semalam. Mak jegagik! Kami sama-sama kaget.

“Arep nang ndi kowe, Kun?” Duh senangnya beliau masih ingat nama saya. “Wis, Pak, foto-foto sik,” sahut saya.

Saya memanggilnya Pak Widi. Ada juga yang memanggil Pak Bendrat–dari nama Bernadus, sekaligus untuk membedakan dengan Pak Widi Noegroho–yang belakangan beken dengan panggilan Cak Didik.

Pak Widi ini wali kelas saya di I-6 SMA Kolese De Britto. Masih muda usianya kala itu. Putrinya, Desideria Cempaka, dosen ilmu komunikasi Fisip UAJY yang sekarang studi doktoral di Perth, Australia, masih SD kala itu. Atau malah belum sekolah.

Sekarang Pak Widi sudah pensiun. Belum dua bulan, bareng dengan Pak Wartono Basuki dan Pak Ignatius Triantoro. Saya senang mereka pensiun dalam keadaan sehat. Masih bisa jalan-jalan, masih kuat hore-hore…

Meski selalu ledek-ledekan–saya yang lebih kerap meledek, setiap ketemu Pak Widi saya selalu membungkuk hormat–secara virtual, mengucap secuil demi secuil terima kasih kepadanya.

Semalam saya berterima kasih atas beberapa hal: perspektif, pointilis, dan vignette. Teknik-teknik menggambar tersebut saya serap dari kelas menggambar yang diampu pelukis yang dulu bermobil FIAT ini. Saya berterima kasih karena teknik-teknik itu begitu melekat dalam benak saya. Meski saya bukan arsitek dan seniman, perspektif membekali saya sikap untuk memandang segala sesuatu dari berbagai sisi dan sudut. Hal besar dan rumit, dengan teknik ini bisa dikecilkan dan disederhanakan–belakangan lebih saya pahami di kelas NLP.

Pointilis membekali saya tentang ketekunan. Dulu, menggambar hanya dengan membubuhkan titik-titik menggunakan ballpoint saya anggap bermain-main belaka. Belakangan saya paham, gambar besar pun diawali dari titik. Bukankah dalam menulis juga begitu? Karya besar hanyalah kumpulan huruf-kata yang dirangkai sedemikian…

Vignette menyentuh aspek keindahan. Tidak setiap hal bisa disampaikan secara lugas. Simbolik itu penting. Melukiskannya dengan rasa, menikmatinya dengan rasa pula. Karya sastra dan filsafat yang megah itu, bukankah dicinta karena sanggup memelaminankan logika dan rasa?

Belum tuntas saya menelangkupkan ukara, panggilan dari petugas menyela kami. Mesti naik ke pesawat.

“Kursi berapa, Pak?” tanya saya sembari beranjak.

Bu Widi, langsung menyurungkan tiket: 28 B dan 28 C.

Saya tertawa. Kursi saya 28 A. Kami tergelak. Tak jadi berpisah, duduk sebelah-menyebelah.

Saya ledek Pak Widi, “Kita kembali sekelas, Pak. Dulu aku murid sampeyan guru. Sekarang aku tetep murid sampeyan pensiunan guru….”

Turun di Ngurah Rai, Bali, kami berpencar. Pak-Bu Widi menyusul rombongan wisata UAJY di Kuta, saya beranjak ke Denpasar, siapkan Magnetic-Selling Copywriting Workshop yang akan saya selenggarakan esok, 25 Juni 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *