Penulis Kejar Tayang

IMG_20160229_103706

Bersama Mas Tony Prasetiantono (tengah), Presiden Alumni De Britto, yang juga penulis. (Foto: Benedictus Yanuarto Purnomo)

Pertanyaan Mas Hanung Sa di forum “Menjadi Pengusaha Tangguh” DBBC (De Britto Business Community), Sabtu (27/2) tidak segera saya tanggapi: “Bagaimana cara menulis yang hits-nya tinggi?” Saya memutuskan menceritakan hal lain.

Dan tulisan ini tidak akan menuliskan ulang apa yang saya ceritakan kemarin. Biarlah cerita saya kemarin jadi konsumsi teman-teman yang hadir. Yang tak hadir, dan penasaran, silakan gunakan akal untuk mendapatkan cerita tersebut.

Sekarang saya mau cerita tentang “penulis kejar tayang”. Iya, istilah ini tercetus dari tayangan sinetron di televisi. Tidak semua buruk namun dari yang mungkin baik pun tidak ada yang layak saya tonton. Tema tidak menarik, sudut pengambilan gambar monoton, dialog mendominasi visual, plot cerita serampangan, dan nihil pesan edukatif. Ini kesan subjektif saya atas beberapa tayangan yang pernah secara khusus saya simak untuk temukan polanya.

Di balik layar ada cerita lewat media-media hiburan bahwa sinetron tersebut digarap sambil lari. Pagi ini syuting sore nanti sudah tayang. Jangankan artis menghayati peran, naskah yang harus dipahami, minimal dihapalkan, saja tidak ada. Atau ditulis secara ngebut dengan asumsi artis boleh improvisasi.

Saat tayang sore harinya, artis tadi sempat menyaksikan penampilannya di layar kaca? Tidak. Ia sudah syuting sinetron lain, dengan produser berbeda, di lokasi berbeda, dengan peran mirip-mirip supaya mudah hapal dialog juga. Begitu seterusnya, sampai-sampai ketika ada penggemar menyapa bingung sendiri, “Oh, saya pernah main di sinetron itu ya?”

Penulis juga ada yang seperti itu ritmenya: kejar tayang. Saya menghargainya sebagai pilihan berkarya. Penulis kejar tayang bekerja atas ukuran kecepatan dan volume. Tema yang diulas biasanya memenuhi dua ciri ini: jika tidak beragam ya seragam dengan banyak turunan. Belum selesai menulis satu topik sudah menimpali dengan topik baru. Ada yang memayungi diri dengan label “kecerdasan multi” untuk menggaransi fokus dan kualitas tulisan. Ada yang “supaya dapur ngebul”.

Dari aspek penulisan, pola kerja seperti ini tidak soal. Sama halnya dengan sinetron, syuting kejar tayang terjadi karena ketersediaan slot tayang. Dan tentu juga karena ada penontonnya.

Demikian pula kehadiran penulis kejar tayang juga dimungkinkan karena spasi untuk mereka ada. Pun ada pembaca yang demen diberondong tulisan-tulisan tertentu. Saya sendiri, untuk banyak pekerjaan menulis “pesanan klien” juga mesti bekerja model kejar tayang: sangat cepat, koreksi belakangan.

Dari pengalaman ini saya belajar. Terutama sebagai penulis kejar tayang, mengawal kualitas adalah keniscayaan. Sebab, menjawab pertanyaan Mas Hanung di depan, dalam SEO (search engine optimizer) sekalipun, faktor utama popularitas blog/web pertama-tama adalah kualitas isi itu sendiri. Setelah pastikan isi berkualitas barulah beranjak ke teknologi optimasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *