Percaya Perkara Besar dari Perkara Kecil

Belajar Jadi Pembicara BenarMenertawakan diri sendiri itu seru. Lebih seru ketimbang menertawakan orang lain. Tulisan ini untuk menertawakan diri saya sendiri. Begini kisahnya:

Cara belajar menjadi pembicara seminar, salah satunya, adalah dengan mengikuti seminar-seminar. Itu pula yang saya lakukan. Saya gemar mengikuti kelas-kelas seminar dan pelatihan, baik yang berbayar maupun gratisan. Baik skala lokal maupun interlokal. Baik menghadirkan pembicara level ibu kota maupun tetangga sebelah desa.

Tentu, pertama-tama, alasan keikutsertaan saya adalah materi yang bakal disampaikan menarik. Topik seputar pengembangan diri, investasi, teknologi informasi-komunikasi, ada di peringkat atas peminatan saya. Jika ada penawaran seminar itu, baik lewat pesan berantai, iklan di koran, maupun poster di tiang telepon, saya buru-buru mendaftar. Atau minimal lekas mencatat informasi penting tentangnya.

Kedua, jika pembicaranya menarik. Ukurannya beragam. Ada yang menarik sejak penampilannya di materi publikasi, hingga menarik saat membawakan materi. Umumnya saya suka pada pembicara yang kocak, atau minimal enteng dalam membawakan diri. Pembicara yang hanya membacakan slide akan saya sertakan dalam kotak slide di “recycle bin”. Buang!

Jika tidak kocak, minimal lagi, harus yang antusias dalam menyampaikan materi. Antusias itu gagah dalam penampilan, lantang dalam bersuara, dan lugas dalam merumuskan pesan. Pembicara yang suka bertele-tele saya masukkan ke kolam lele. Byur!

Itu minimal. Tentu jika ada pembicara yang penampilannya minimalis, paling banter saya hanya akan datang sekali. Penawaran berikutnya pasti saya abaikan. Saya punya syarat lebih lagi: isi otak.

Saya suka penampilan yang menarik. Namun saya lebih butuh isi yang berbobot. Oh ya, menarik itu tak berarti bahwa hanya pembicara berjas atau ber-blazer yang saya suka. Ada beberapa pembicara berkaos atau berbaju layaknya orang kebanyakan—sehingga nyaris tak ada bedanya dengan penampilan peserta—yang justru saya suka. Sebab, substansi pesan mereka memukau. Memancing berpikir dan bertanya.

Saya kritis. Kadang super kritis. Beberapa teman bahkan terang-terangan enggan berbicara di depan saya, baik sekadar ngobrol maupun di forum. Mereka gerah jika saya sudah melontarkan pertanyaan. Padahal pertanyaan saya sederhana: kata siapa, ada buktinya, tahu dari mana? Rupanya, mereka yang tak melandasi diri dengan data kerap tercolok dengan umpan balik itu.

Saya suka penampilan yang menarik. Namun saya lebih butuh isi yang berbobot.

Begitulah. Saya tak mudah percaya apa kata orang, baik lisan maupun tulisan. Lebih-lebih jika perkataan itu mengusik logika. Filter informasi saya akan bekerja efektif menyaring kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatannya. Jika tak lolos di situ, selesai sudah.

Maka, kepada pembicara yang seminarnya saya ikuti, saya pasti mencermati bagaimana mereka membangun nalar berpikir. Apa yang mereka katakan dan tuliskan, bagaimana menampilkan slide, bagaimana menghadirkan contoh, dan bagaimana menanggapi pertanyaan-pernyataan audiens, selalu menarik perhatian saya. Di ujungnya, saya ajukan filter terakhir ini, “Sejatinya dia omong apa ya?”

Karena sejatinya gagasan berangkat dari satu simpul kecil, maka uraian yang panjang mestinya bisa disimpulkan. Jika tidak, gagasan awalnya pasti ambyar!

Meski begitu, kadang-kadang saya iseng. Saya lorot kadar kekritisan demi mengikuti suatu seminar yang tampaknya menarik. Ikut saja berdasarkan informasi yang saya terima: posting di akun fesbuk sang pembicara.

Pembicara itu tak asing bagi saya. Ia sudah cukup dikenal di kalangan pembicara. Topiknya satu: properti. Buku dengan topik yang sama sudah terbit dan beredar di toko buku.

Tema properti menarik bagi saya. Ini bagian dari topik investasi yang merupakan salah satu minat saya. Lebih menarik lagi karena janji di posting yang saya baca: tanpa modal, tanpa utang. Wow! Walau bombastis, bagi saya ini tetap wow!

Mana mungkin bisnis tanpa modal sama sekali? Bukankah sesederhana apa pun bisnis tetap butuh modal? Minimal modal operasional, kan? Dan ini bisnis bernilai milyaran, masa operasionalnya nol?

Saya ingat pesan teman-teman penggila “otak kanan”: action dulu pikir belakangan. Dan itu saya lakukan.

Kalau tanpa utang sih saya percaya. Sangat bisa bisnis dengan modal tanpa utang. Salah satunya, gelontor dari tabungan sendiri atau jual aset. Ini nggak wow untuk saya. WTP, menurut istilah pemeriksa keuangan: wajar tanpa pengecualian.

Berangkatlah saya di hari yang dijadwalkan. Apalagi gratis, saya berangkat tanpa beban. Kalau tujuan sih jelas; seperti yang saya uraikan di depan. Minimal: pengen tahu.

Dan memang seru. Kelas penuh, meski tak berjubel.

Struktur acara: pengantar oleh pembawa acara, testimoni alumni-alumni, pemutaran video pembicara, penyampaian materi oleh pembicara, dan… ditutup oleh adegan khas seminar preview: pendaftaran ikuti workshop.

Acaranya gratis. Workshopnya 4,8 juta sehari. Bisa bayar uang muka 700 ribu saat itu. “Terbatas untuk 40 orang saja. Ayo, daftar saja. Kalau nggak jadi uang kembali. Apanya yang ditakutkan?” cerocos sang pembicara sembari peserta berjubel mendaftar.

Salah satu pendaftar itu saya. Saya terbawa oleh pesan pembicara: daftar saja, jika urung uang kembali. Saya ingat pesan teman-teman penggila “otak kanan”: action dulu pikir belakangan. Dan itu saya lakukan. Saya bayar dengan menggesek kartu. Sret!

Esoknya saya menimbang-nimbang. Riset tentang pembicara, tentang bisnisnya, dan tentang alumni-alumninya saya lakukan. Semua baik. Saya menilai bisnis yang ia jalankan masuk akal. Kalau pun ada satu-dua kekecewaan dari peserta seminar atau pelatihannya, saya anggap wajar.

Sambil ngecek, saya juga ngecek ke diri saya sendiri. Apakah saya sungguh-sungguh mau menekuni bisnis itu? Apakah saya mau menempuh mentoring bisnis selama berbulan-bulan dan fokus hanya untuk mengurusi bisnis itu?

Bagaimana dengan bisnis menulis dan coaching saya? Bisakah saya kerjakan secara sampingan?

Renung-merenung, timbang-timbang, ukur-ukur, rupanya panggilan saya tidak untuk berbisnis properti sebagai pengembang. Jika pun saya berminat di properti, saya lebih berminat di pemasaran. Termasuk, mengemas bahasa-bahasa penawaran dan periklanan untuk pemasaran produk properti sebagaimana saya lakukan selama ini.

Sambil ngecek, saya juga ngecek ke diri saya sendiri. Apakah saya sungguh-sungguh mau menekuni bisnis itu?

Jadi, minat saya yang terutama tetap di bisnis kreatif menulis.

Keputusan saya: batalkan ikuti workshop. Sebelum batas hari yang ditentukan, saya hubungi panitia di nomor yang tertera di tanda terima pendaftaran. Balasannya tidak mengejutkan, meski mengherankan: uang tidak bisa kembali.

160824 sms cj itu

Tak mau berpanjang-panjang, saya langsung mengambil sikap belajar. Saya ikhlaskan uang itu hilang. Saya tidak mau berdebat apalagi memperkarakan. Sedari awal saya sudah niatkan untuk belajar. Selain belajar bagaimana pembicara membawakan materi, juga belajar bagaimana pembicara memenuhi janji.

Kalau pun mau memperkarakan, saya tidak punya bukti. Sedari awal, panitia dan pembicara mengulang-ulang pesan ini: dilarang merekam dalam bentuk gambar dan suara apa pun. Nadanya memang mengancam. Saya patuh, toh memang tidak berpretensi apa pun selain belajar.

Sebagai pembicara, saya memilih tak meniru pembicara ini. Meski substansi materi bagus dan sangat bermanfaat, namun jika disertai kecurangan (cheating), hilanglah kepercayaan. Saya lebih memilih menjanjikan sesuatu yang realistis, bukan yang bombastis. Lebih-lebih dalam topik menulis: menulis itu jalan sunyi yang harus ditempuh dengan ketekunan khusus; tiada jalan instan.

@AAKuntoA
CoachWriter | www.solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *