Pisowanan Agung yang Tak Agung

Saya ada di sana. Tapi, kali ini, saya merasa tidak menjadi warga Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perkara mau maju jadi presiden, itu hak siapa saja, termasuk Sultan HB X sekalipun. Silakan.

Namun, menggunakan acara kebesaran budaya hanya untuk menyatakan kesiapan menuju RI-1, menurut saya, maaf, kok tidak pada tempatnya. Seperti sore ini tadi.

Di hadapan ribuan masyarakat, dari berbagai daerah, yang berkumpul di Alun-Alun Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pada neton-nya Selasa Wage, Sultan mendeklamasikan sikap,

Untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi Presiden 2009.

Hanya itu. Tidak lebih. Tidak ada pernyataan tentang kebangsaan, tentang keindonesiaan, alih-alih keistimewaan Jogja.

Sangat berbeda dengan Pisowanan Agung 20 Mei 1998. Saat itu, Sultan HB X didampingi Paku Alam VII (alm), secara lantang mengajak rakyat mendukung gerakan reformasi. Bahwa sehari kemudian Soeharto terjungkal dari kursi presiden, itu efek saja. Reformasi bertujuan lebih jauh dan luhur dari itu. Seruan Sultan pun jauh ke depan, mendukung gerakan reformasi: memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pada Pisowanan Agung 28 Oktober 2008 ini? Entah. Saya tak bisa memahami raja saya.

Sultan sudah mengikrarkan tekadnya. Saya menghormati. Siapa to saya ini? Namun, perkara memilih atau tidak, saya punya sikap: tidak! Jabatan presiden terlalu sempit untuk seorang pengageng kabudayan Jawi. Maaf.

Separator image Posted in sikap.

4 Comments

Add Yours
  1. 2
    Agus Wibowo

    perlu pemahaman makna budaya yang komprehensif…”saya bukan wong agung yang bebas dari kesalaha” (Kata Sultan)…Kebudayaan sendiri merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, ketika berkolaborasi dengan politik, apa salahnya…bukankah suharto sendiri pernah menggunakan budaya itu sebagai legitimasi kekuasaan??? Bukankah munculnya beragam tradisi dan mitos itu, juga sarat dengan muatan politis?

  2. 3
    sri romo wijaya

    tahta untuk rakyat….sang raja turun dari tahta untuk turun berperang menjadi ksyatriya pinandita….bukankah hal ini yang diharapkan. jangan dikecilkan semata – mata diy ataupun nyapres. ini baik untuk direnungkan, ketika sang raja menurunkan tahtanya dan berniat maju perang, sepantasnya jika kita ikut mempersiapkan. begitulah sikap keberanian menghadapi jaman dan jagat. jadi ….jangan memanjakan sultan menjadi wong agung, ingat orang agung justru yang berani turun kebawah untuk rakyat.

  3. 4
    aakuntoa

    @ dedi: saya juga merenung…
    @ aguw wibowo: semoga sultan tidak menjadi suharto
    @ sri romo wijaya: menjadikan sultan sebagai wong agung justru tidak memanjakan. wong agung itu tugas berat, jauh lebih berat daripada presiden.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *