Pokemon Go vs Go Kepomen

Pokemon Go vs Go Kepomen

kiri-kanan: AA Kunto A, Irwan Kintoko, Dokter Agung

Alih-alih setuju atau menolak, saya memilih untuk memodifikasinya sebagai sarana belajar. Didukung oleh dua sahabat Dokter-penulis Stephanus Agung Kristianto dan jurnalis Heribertus Irwan Wahyu Kintoko, kami menggubah (bukan mengubah) Pokemon Go menjadi Kepomen Go. Bersyukur, Kepala SMP St Angela Bandung, Sr Yayah OSU mengizinkan 475 siswa-siswinya memainkan “permainan bergerak berbasis augmented reality” di lingkungan sekolah.

Dua hari, 21-22 Juli 2016, kami memainkannya dalam acara Journalistic Camp yang diikuti seluruh siswa kelas 7,8, dan 9, yang juga didampingi seluruh guru tersebut. Seru, anak-anak sangat antusias memainkannya. Padahal, baru sebagian yang sudah memainkannya sebelumnya. Alhasil, dalam dua hari saja seluruh siswa sudah kemasukan virus Pokemon Go.

Saat merancang pelatihan jurnalistik ini, kami berpikir bagaimana caranya materi yang tidak ringan bisa sampai secara ringan. Ya, bisa sampai, bukan disampaikan. Kami ingin anak-anak menemukan sendiri apa itu jurnalistik, bagaimana cara kerjanya, dan apa manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari. Bersamaan dengan merancang bentuk acara, demam Pokemon Go sedang melanda. Kami memanfaatkan teknik “utilisasi” secara NLP (neuro-linguistic programming), yang di jurnalistik dikenal sebagai “peg”, yakni sesuatu peristiwa yang bisa jadi cantolan.

Jadilah kami memlesetkan Pokemon Go menjadi Kepomen Go. Kepomen merupakan kependekan dari “orang-orang kepo”. Kepo: suka tanya, ingin tahunya besar, rasa penasarannya tinggi. Aha, bukankah sifat ini melekat pada jurnalis saat menjalankan tugas jurnalistiknya? Bukankah saat bertanya otak membuka dan belajar menjadi mudah dan efektif? Satu materi tentang karakter dasar jurnalis sudah mereka temukan di sini.

Kepomen Go kami jadikan permainan untuk memudahkan anak-anak kenali kerja-kerja jurnalistik: cari informasi sampai ke sumber primer, bergerak cepat dan cermat, memilah informasi, merekam teks dan konteks, dan melaporkan secara akurat disertai bukti-bukti temuan. Karena ini pelatihan jurnalistik, maka mereka wajib melaporkan temuan-temuan itu dalam bentuk berita langsung (straight news). Satu anak satu berita, meski mereka bekerja secara berkelompok.

Bahkan, mereka belajar kode etik jurnalistik—materi yang bikin otak dan jantung berdegup—lewat permainan ini. Alkisah, kami sengaja menempatkan kepomen di beberapa tempat yang sudah jelas-jelas terlarang untuk dimasuki: ruang guru, biara, dan kompleks sekolah lain (TK, SD, dan SMA).

Ada anak yang nekad memasuki area tersebut lalu melaporkan dengan bangga. Ada pula anak yang berwajah pucat mengadu telah dimarahi guru gara-gara memasuki teritori terbatas. Saya sendiri sempat “diprotes” oleh guru yang memang tidak kami beri tahu skenario ini. Barulah, saat di kelas, tragedi-tragedi di lapangan itu kami klarifikasi. Sampai mereka paham.

Termasuk, kami tegaskan, “Permainan Kepomen Go ini hanya berlaku di sekolah dan saat journalistic camp berlangsung. Sepulang acara nanti, saat kalian boleh pegang gadget, ikuti aturan yang berlaku di rumah. Juga, selesai journalistic ini, besok, jika pihak sekolah melarang kalian memainkan game ini di lingkungan sekolah, ikuti aturan ini.”

Mereka mengangguk. Mereka paham, dalam permainan ada aturan. Mereka paham, lewat permainan, apa konsekuensi melanggar aturan.
Demikianlah. Daripada mencekoki mereka dengan teori awang-awang, dan mendikte mereka dengan sederet larangan yang mengancam, ajak mereka bermain secara sungguh-sungguh. Sebab, dalam kesungguhan bermain sejatinya mereka sudah belajar secara sungguh-sungguh.

Go, Kepomen!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *