Presiden Jokowi

Jokowi presiden kegembiraan

Jokowi presiden kegembiraan (foto: anonim)

Judul tulisan ini sudah terang-benderang menunjukkan keberpihakan politik saya. Saya sungguh berharap Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia. Untuk itu, saya turut mengusahakan agar keluarga, teman, dan warga masyarakat di sekitar saya naik di gerbong yang sama.

Sepakat dengan semangat “orang baik pilih orang baik”, saya pun mengupayakan cara-cara baik dalam menghimpun dukungan. Cara baik yang saya tempuh adalah mencari dan mengumpulkan informasi penting tentang calon presiden Jokowi, memetakan kebaikan dan prestasinya, mengritisi kekurangan dan kelemahannya, menghitung konsekuensi atas berhasil-gagalnya pilihan saya ketika Jokowi nanti menjadi presiden, dan—ini yang tak kalah penting—kontribusi apa yang akan saya sumbangkan sebagai warga negara ketika Jokowi menjadi presiden.

Sampai di sini mungkin ada di antara anda yang bertanya kenapa saya langsung menyebut Jokowi? Kenapa saya tidak menyebut pasangannya?

Secara teknis, memilih Jokowi sudah dengan sendirinya sepaket dengan pasangannya. Saya tahu, saat saya menulis “pasangannya”, dalam benak anda, atau mungkin terucap, melintas nama seseorang. Anda boleh menyebut nama orang baik itu. Saya mengatakannya dalam hati.

Secara linguistis, saya sedang memastikan pikiran saya fokus pada hasil. Fokus tidak mengabaikan yang lain, melainkan memilih untuk memusatkan perhatian pada apa yang saya mau. Energi yang terpusat lebih berdaya tembus daripada menyebar.  Fokus saya pada keterpilihan Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia.

Saya kenal dekat Jokowi. Di jalur-jalur blusukan yang pernah ia kunjungi, baik sebagai Walikota Surakarta maupun sebagai Gubernur DKI Jakarta, saya menemukan jejak prestasinya lewat narasi-narasi yang diperdengarkan warga. Saat siang makan timlo di Pasar Gede, saat malam makan sega liwet di Gladag, saat tengah malam minum wedang kacang di Keprabon, kala itu, tuturan-tuturan tentang kiprah sang walikota bercaturan antara pedagang dan pembeli. Sayup-sayup terasa ada getaran kebanggaan. “Kami merasa diuwongke,” tukas mereka. Kami merasa diperlakukan secara manusiawi. Saya kagum.

Beberapa kali ke Jakarta saat Jokowi jadi gubernur, wajah kota yang pernah saya tinggali ini banyak berubah. Memang macet masih kerap menggila namun warga mulai bercakap-cakap akan harapan pada gubernur agar lalu-lintas menjadi lancar. Memang banjir masih menggenang di Gudang Peluru, sehingga suatu pagi saya mesti memutar ke Cawang-Pancoran, namun ada harapan bahwa gubernur mulai mengurai sumbatan-sumbatan. Kali ini warga mulai membicarakan pemimpinnya, tak lagi acuh tak acuh seperti dulu.

Ya, perkenalan saya sebatas itu saja. Saya belum pernah bersalaman dengan Jokowi, apalagi berbincang dengannya, apalagi bertamu di rumahnya, apalagi memperkenalkan diri padanya. Saya mengenalnya, mengenal jejaknya, namun ia tak mengenal saya.

Uniknya, saya rasa, dengan mengenal jejaknya saja saya merasa mengenalnya secara dekat. Entah kenapa.

Saya lama berkecimpung sebagai jurnalis—sekarang saya bukan jurnalis. Kerja lapangan adalah keseharian saya. Blusukan mencari narasumber, wawancara, dan mengumpulkan informasi jadi napas sehari-hari. Tak heranlah saya pada blusukan gaya Jokowi. Biasa saja, khas orang lapangan. Kalau kemudian disebut pencitraan ya nggak papa. Tidak salah dengan pencitraan. Namanya juga politik. Namanya juga diliput media. Yang kemudian menentukan kadar pencitraan adalah hasil kerja. Saya menilai, blusukan Jokowi membuahkan banyak hasil: PKL tertata, Waduk Pluit kembali bersih, warga DKI beroleh pengobatan gratis, dan… kinerja aparatur pemerintah daerah lebih tertib.

Dari teman-teman jurnalis yang meliput Jokowi pun saya mendapat cerita di balik berita tentang sosok pendaki gunung ini. Cerita sederhana: kebiasaan makan, cara berkomunikasi, cara berjalan, dan hal-hal remeh-temeh lainnya. Sudah lama saya tak mendengar cerita remeh-temeh tentang pejabat publik. Teman-teman bercerita dengan enteng, dengan tawa yang lepas. Insting lapangan saya menangkap kekaguman teman-teman jurnalis pada sosok Jokowi. Saya menangkap, mantan Walikota Surakarta ini tak suka tampil mengada-ada.

Pikirannya yang mengada-ada. Gagasannya menata PKL mengada-ada. Idenya menyurutkan banjir di Jakarta mengada-ada. Mustahil. Jadilah ide-idenya kontroversial. Banyak yang menentang. Wajar, ide pemimpin visioner biasanya susah diikuti. Eh, saya lihat, Jokowi sangat visioner. Memang, ia tak pandai berpidato mempertontonkan visi. Namun, ia beberkan visi itu lewat kerja-kerjanya. Ah, saya kok terbawa terminologi “kerja-kerja”-nya ya hehe…

Dari kerja-kerja lapangannya pula saya menemukan banyak kelemahan Jokowi. Saya punya daftar kelemahan Jokowi. Panjang. Lagi-lagi, kerja lapangan sebagai jurnalis tetap meminta saya untuk kritis-skeptis. Saya tetap mencadangkan keraguan akan kemampuannya.

Bagi saya, daftar kelemahan itu baik supaya saya tidak mendewakan Jokowi. Supaya saya tidak memuja dia berlebihan. Maaf, saya tidak setuju dengan sikap partisan media yang larut mendukung Jokowi hanya gara-gara tunduk pada pemilik media yang memihak Jokowi. Kelak, saya berharap Jokowi berani menolak cara-cara seperti ini. Pers mesti kembali menjadi pengontrol yang berimbang.

Sore ini saya menulis secara santai. Mengalir saja tulisan ini. Sambil minum teh karena saya tidak puasa, saya tergerak untuk menulis di malam penentuan ini. Ingin menulis kemarin-kemarin kok tertunda. Hanya di akun twitter @AAKuntoA sedari lama saya sudah tentukan sikap memilih dan mengampanyekan Jokowi. Di blog ini malah belum terbuka. Dan ketika akhirnya saya menulis ini, saya hanya sedang menuangkan sikap saya, bukan sedang membujuk anda mengikuti langkah saya.

Saya mendukung Jokowi dengan harapan sederhana: kelak saya tetap bisa menulis secara santai. Sebagai penulis, saya membutuhkan kebebasan dalam berpendapat, kebebasan dalam menuangkan isi pikiran. Tanpa rasa takut, tanpa rasa sungkan. Di antara dua pasang calon presiden, hanya kepada Jokowi saya mendapatkan jaminan rasa aman dan nyaman sebagai penulis.

Saya tak perlu menyebutkan kenapa rasa aman dan nyaman tak saya dapatkan dari capres sebelah. Buku Perang Panglima yang pernah saya tulis sudah menjelaskan sebagian kenapa saya tidak mungkin memberikan mandat kepada capres sebelah. Tak perlu lagi saya ungkapkan. Bahkan, ketika beberapa pihak meminta saya mencetak ulang buku tersebut tatkala media gencar kembali mengulas perseteruan para jenderal, saya memilih diam. Buku sudah saya tutup. Sudah saya buka buku baru, harapan baru. Saya rindu angin perubahan. Dan kini saya turut meniupkannya. Bangsa Indonesia bergerak ke depan. Dan saya turut meniupkan pergerakan ke depan ini.

Yang istimewa pada Jokowi, bagi saya, adalah kehadirannya sebagai simbol perubahan. Saya merasa, saya tidak sedang menjagokan calon presiden yang akan merampungkan seluruh persoalan bangsa. Sebaliknya, saya sedang mendukung presiden yang menginspirasi rakyat untuk bersama-sama bekerja membangun bangsa. Ah, gendeng kan? Begitulah. Saya memilih Jokowi dengan kesadaran penuh bahwa nasib saya nanti ya bergantung pada kerja saya. Saya memilih Jokowi dengan kesadaran penuh bahwa nanti saya akan ikut capek menerjemahkan “revolusi mental” yang ia cetuskan. Kerja saya akan turut mengubah nasib warga negara di sekitar saya. Menyuar, lalu bangsa ini kokoh dari bawah karena warganya saling bergandeng tangan.

Saya ikut udu, nyumbang Jokowi, baik dengan menransfer ke rekening maupun nitip ke teman tukang becak yang mendukung dengan cara menggowes becaknya dari Jogja ke Jakarta. Asyik saja, urunan. Nanti, di pemerintahan Jokowi pun, saya akan urun kerja sesuai dengan profesi saya sebagai penulis, pengajar, dan pekerja industri kreatif.

Presiden Jokowi, demikian saya menyebutnya, hadir sebagai pemimpin perubahan. Selamat datang presiden baru!

 

Yogyakarta, 8 Juli 2014

#GembiraPilihJokowi

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *