Puasa bermedsos, cara detoks dari racun

Yang pernah bermanfaat jadi sampah. Sampah pun bisa kembali bermanfaat jika dibersihkan.

Yang pernah bermanfaat jadi sampah. Sampah pun bisa kembali bermanfaat jika dibersihkan.

Pagi ini sudah seperti yang kuimpi. Matahari belum meninggi tapi sinarnya sudah mendarat di jendela belakang kamar. Tidak kesiangan meski tak jua bangun pagi-pagi.

Kebiasaan lama, sebelum beranjak buka hape yang tertidur di samping kasur. Cek WA tiada pesan masuk. Tak ada warna hijau.

FB, IG, dan Twitter tak kubuka. Sejak semalam aplikas-aplikasi itu kunonaktifkan. Tepatnya aku “sign-out”. Semalam juga, pas pergantian hari, aku “left” dari semua grup WA, kecuali beberapa grup kerja dan grup keluarga inti.

Ini Rabu Abu, hari pertama pantang dan puasa di masa prapaskah. Akan 40 hari umat Katolik di dunia bermati raga jelang sengsara dan kebangkitan Yesus Kristus. Sebagai seorang Katolik, yang dalam setahun pandemi Covid-19 ini jalani misa secara daring, yang itu dalam hitungan jari kuikuti, yang di antaranya baru sekali terima komuni saat jadi panitia acara ber-misa, aku turut menjalankan ritual ini.

Secara khusus, aku putuskan puasa “bersosial lewat media” dan pantang “tahu kabar melintas”.

Tidak. Aku tidak puasa “makan kenyang sekali” atau pantang “minum manis”. Itu pernah kulakukan. Kini beda. Secara khusus, aku putuskan puasa “bersosial lewat media” dan pantang “tahu kabar melintas”.

Aku penasaran, apa yang akan kurasakan selesai jalani ini nanti. Kalau “apa yang akan terjadi” sih aku tahu: apa pun bisa terjadi seperti hari-hari biasa. Tapi “apa yang kurasakan” hanya bisa kubayangkan. Bisa jadi juga nggak akan merasakan apa-apa. Hahaha…

Yang terang, aku mau mengikis kelekatan (John Bowlby, 1958) pada hal-hal yang tidak membawaku pada tujuan tertentu. Kali ini kelekatan pada media sosial dan bersosial lewat media yang ingin kugerus. Bukan untuk menghapus sama sekali karena toh kebaikan-kebaikannya masih kuperlukan. Selesai paskah ini semoga kutemukan sikap baru yang tak lekat akan sesuatu.

Dan pagi ini pagi pertamaku. Mulus hingga jelang tengah hari. Sebuah pesan khusus masuk via WA, “Mas A meninggal.” Kaget karena tidak mendengar kabar sakitnya, aku berusaha cek kebenaran informasi ini. Lucu, ya nggak ketemu. Semua jalur informasi kan nggak ada. Padahal biasanya jika ada kabar seperti itu tinggal cek grup atau medsos akan ada informasi. Kecuali aku orang pertama yang mendengarnya.

Aku mau mengikis kelekatan (John Bowlby, 1958) pada hal-hal yang tidak membawaku pada tujuan tertentu. Kali ini kelekatan pada media sosial dan bersosial lewat media yang ingin kugerus.

Seusainya aku merenungkan kejadian pagi hingga siang.

Satu, tenang. Sungguh, tak tahu hiruk-pikuk kabar itu tenang.

Kedua, yang butuh akan mencari. “Aku wapri karena kulihat kamu keluar dari grup,” ujar teman yang berkabar siang itu. Menurutnya, kabar itu penting untukku sehingga aku dihubungi langsung.

Ketiga, terfilter informasi yang penting. Ketika aku ada di WAG maka semua informasi lewat di depanku, entah kubuka atau tidak. Lalu, kubuka atau tidak, sejatinya jelas, informasi itu tidak ditujukan untuk aku. Jika tak kubuka membebani memori, jika kubuka lucu karena jelas-jelas itu tidak spesifik ditujukan kepadaku. “Kalau ternyata bermanfaat?” Ya itu apes, eh, bonus.

Maka, keluar dari semua itu ibarat bebersih diri dari racun (toxic). Memang, racun tidak selalu mematikan, tapi jika dibiarkan bakal merusak. Bebersih racun perlu dilakukan sesekali untuk kelak lebih mawas ketika kembali nyemplung pada perlintasan informasi lewat medsos.

Supaya apa? Supaya setiap pagi menjadi pembuka hari terang, bukan penutup malam gelap. Saat bangun, terangnya nyata, bukan mimpi.

@AAKuntoA | 180221