Pupuk Organik, Tentara Organik, dan Penulis Organik

Pupuk organik: ubah sampah jadi berkah.

Pupuk organik: ubah sampah jadi berkah.

Seorang pastur menggugat uskup ketika menerima SK dari atasannya itu, “Bukankah Bapak Uskup tahu saya anti lembaga ini?”

Pastur muda itu merangkai sejumlah fakta pendukung untuk memperkuat alasan penolakannya. “Saya demo paling depan menolak dwi fungsi ABRI.”

“Apa hasilnya?” tanya balik uskup. “Pastur tahu, lembaga ini terlalu kuat untuk diubah dari luar.”

“Siap!” Paham maksud pemimpinnya, pastur ini menjadi imam katolik pertama yang menjadi anggota TNI. Organik. Ia menempuh pendidikan dan latihan-latihan selayaknya tentara. Pangkatnya bukan titular (honoris causa).

Mengubah lembaga? Tidak seketika. Ia mewarnai lembaga lewat pengajaran pada karbol-karbol. Tentara-tentara muda itu mau mendengarkan, mau mematuhi perintah, mau berubah, karena pengajarnya “orang dalam”–tentu, untuk materi tertentu butuh pengajar dari luar. Orang dalam dipercaya karena omongannya berangkat dari pengalaman, karena mengerjakan yang diomongkan, karena terlibat.

Pastur itu kini jadi wakil uskup di keuskupan militer. Jika kini menugasi imam muda untuk memasuki tugas khusus sepertinya tentu tidak ada lagi penolakan dari si penerima tugas.

NLP (neuro-linguistic programming), sebagai sikap belajar, sangat membantu saya memahami peta “alam berpikir” peserta. Namun, untuk menyelami “alam rasa dan perniknya” saya memutuskan masuk lebih dalam.

Pagi ini saya panen pupuk cair organik. Cairan coklat pupuk ini murni dari “pembusukan” kulit buah dan sampah dapur di rumah. Ember tumpuk ini bikinan JRE (Jogja Rekayasa Engineering).

Pupuk dan kisah pastur tadi berkaitan. Pupuk organik ini diyakini lebih natural menggemburkan media tanam dan menumbuhsuburkan tanaman karena berasal dari bagian tanaman itu sendiri. Ia paham apa yang dibutuhkan tumbuhan karena ia berasal dari sana.

Pupuk organik itu menyuburkan dengan melebur. Dengan melebur, ia ikut bertumbuh. Ia pun searoma dengan tanaman. Kelak, bersama dengan bagian dari tanaman itu pula ia akan diolah sebagai pupuk. Demikian seterusnya.

Pupuk organik dan pastur organik ini telah lama menjadi inspirasi saya. Sebagai penulis dan pengajar menulis nonfiksi (copywriting, selfie writing, buku popular), saya mengalami dan kemudian meyakini betapa lebih mudah menyampaikan pesan/materi jika saya memahami dunia/kehidupan/industri peserta pelatihan saya.

NLP (neuro-linguistic programming), sebagai sikap belajar, sangat membantu saya memahami peta “alam berpikir” peserta. Namun, untuk menyelami “alam rasa dan perniknya” saya memutuskan masuk lebih dalam.

Ini jawaban untuk teman-teman yang kerap bertanya, “Kunto kok pindah-pindah kerja?” Saya pindah-pindah kerja dengan pekerjaan yang sama: segala hal seputar menulis dan mengajar menulis.

Secara periodik 1-3 tahun saya masuk secara organik di suatu industri: media massa, penerbitan buku, perguruan tinggi, jamu, lembaga sosial, manufaktur-traktor pertanian, dan kini finansial-asuransi.

Sebagai pupuk mempengaruhi industri tersebut dong? Jelas! Setidaknya mempengaruhi cara berpikir kadang linear kadang lateral, cara berkomunikasi kreatif-provokatif, dan cara kerja “mata elang langkah singa”.

Saya terpengaruh balik? Tentu saja! Namanya juga organik. Saya jadi ngerti cara mengajar untuk karyawan pabrik beda dengan cara mengajar pengusaha jasa. Saya juga menemukan struktur bahasa untuk orang irit lebih kompleks ketimbang untuk orang pelit. Dan… tentu, karena saya pernah menjadi bagian dari industri-industri itu, saya kenal betul gojekan-gojekan masing-masing.

“Ember ditumpuk hasilkan pupuk. Kerjaan ditumpuk bikin bos dan pelanggan ngamuk!”

Selamat Hari TNI!

@AAKuntoA | 05102020