Rahasia Menulis Buku Laris

Sebelum belajar tentang bisnis, dan bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah pemasaran nasional, saya tidak tahu mengapa ketika menulis harus berorientasi pada pembaca. Dulu saya berpikir yang penting dalam menulis hanyalah sekadar menuangkan ide sebebas-bebasnya. Yang penting menulis.

Sebelum saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi sebuah penerbit nasional, yang salah satu tanggung jawab jawab saya adalah memastikan buku yang kami produksi laris di toko buku, saya juga baru tahu bahwa menulis dan menerbitkan buku sekadar fokus pada kualitas isi. Dulu saya tidak paham apa arti penting daya tarik judul, desain sampul, visual isi, ukuran buku, dan harga jual.

Pun sebelum saya belajar NLP (Neuro-Linguistic Programming) dan coaching, saya mengajar menulis di kelas-kelas pelatihan dengan cara-cara yang saya pelajari dan kuasai. Saya memaksa peserta mengikuti metode saya. Baik mengajar untuk penulis, editor, dosen, guru, pelajar, maupun untuk anak-anak, saya mengajar dengan materi yang sama.

Perbandingan ini yang Jumat (9/10) kemarin saya bagikan kepada mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta dalam acara “Character Building” di Kaliurang. Kepada mereka juga saya sampaikan apa pentingnya mahasiswa S2 menulis dan berapa besar nilai bisnis menulis jika mereka memiliki kapasitas menulis apa pun profesi dan pekerjaan mereka nanti.

Setelah belajar NLP dan coaching, menjadi pemimpin redaksi penerbit dan koran online, mengajar  creative writing di perguruan tinggi bisnis, saya menjadi paham pentingnya memahami dunia pembelajar sebelum mengajari atau mendampingi mereka menulis. Bahkan, saya menjadi paham bagaimana persisnya istilah berorientasi pada pembaca (reader oriented) bekerja.

Praktik terbaru tentang bagaimana berorientasi pada pembaca saya terapkan ketika menulis dan menerbitkan buku “7 Steps of Writing Coaching” (Penerbit Wanajati Chakra Renjana, 2015), yang kemudian dalam waktu sebulan mengalami cetak ulang hingga 3 kali. Lebih laris dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Begitu muncul ide menulis buku tersebut, yang saya lakukan pertama bukan menulis. Yang saya lakukan pertama adalah mendesain 3 pilihan cover buku, menayangkan di Facebook, dan meminta pendapat teman-teman tentang judul-desain-warna. Dan benar, media digital adalah dunia orang-orang baik yang bersedia meluangkan sejenak waktunya untuk menilai.

Puluhan teman meninggalkan komentar di status saya. Dengan ungkapan masing-masing, mereka berpendapat tentang bagaimana sebaiknya buku saya tampil lebih menarik, tentang apa saja materi yang mereka inginkan, dan tentang pelatihan yang sebaiknya saya selenggarakan sesudah buku terbit. Saya terpukau.

Dari daftar nama yang berkomentar tersebut, sebagian besar menyatakan minat membeli buku. Lebih dari itu, mereka menransfer sejumlah uang untuk memastikan keseriusan membeli. Padahal, buku saya 3 kali lebih mahal dibandingkan jika dijual di toko buku.

Gila. Ini namanya bisnis tanpa modal. Ini namanya bisnis pakai modal orang lain. Ini namanya menulis pakai ide orang lain!

Ya, menulis pakai ide orang lain. Nama-nama teman yang memesan buku menjadi responden saya ketika saya “mau menulis apa?”. Saya tinggal kirim pesan personal ke akun mereka untuk sekadar bertanya “materi apa yang anda inginkan?”

Begitulah, 7 hari saya selesai menulis buku secara mudah berkat ide yang berlimpah dari mereka. Saya tidak pernah kehabisan ide. Bahkan, saya merasa berkelimpahan ide karena setiap alinea ada sumbangan ide dari teman-teman bakal pembeli.

Biaya cetak sudah ditanggung para pembeli. Saya tidak keluar sepeser pun untuk mencetak. Bahkan, saya sudah menangguk untung sebelum buku terbit. Kelimpahan yang berlipat-lipat.

Ketika buku sudah terbit, dan sampai di tangan para pemesan, saya dibanjiri pujian, “Mas, ini buku yang saya cari selama ini. Isinya pas banget dengan kebutuhan saya.” Sambil mengucapkan terima kasih, saya membatin, apa yang mereka sampaikan sudah saya skenariokan dari awal. Tepat, sesuai apa yang saya pikirkan, sehingga saya tidak kaget atau senang berlebihan.

Pelajaran besar saya unduh. Ketika saya berpikir apa yang dibutuhkan pembaca, dan saya berniat pertama-tama membantu pembaca, rupanya keberlimpahan dengan sendirinya memeluk saya. Buku saya menjadi laris karena pembeli pertama menceritakan pengalamannya membaca buku saya kepada teman-temannya. Terjadilah pesan berantai (viral marketing). Dan gulungannya di luar perkiraan saya. Pembaca buku saya akhirnya suka rela turut memasarkan buku saya. Padahal mereka sudah membeli mahal. Padahal saya tidak memberi komisi atas jasa mereka.

Langkah menjual langsung lewat media sosial, tanpa lewat toko buku, pun sudah saya rancang sedari awal. Saya pernah menulis dan menerbitkan buku untuk dijual lewat toko buku. Atas pertimbangan tertentu yang mungkin saya ceritakan di kesempatan lain, kali ini saya hanya menjual buku secara langsung kepada pembaca lewat media sosial, termasuk jejaring pertemanan di dunia nyata.

Ide ini mencuat dan mengristal ketika saya sedang membantu seorang pebisnis menerbitkan buku “Menjual dengan Hati: How to Lead Sales Force with Heart”. Robby Suhardjo, pebisnis tersebut, seorang distributor produk rumah tangga, yang menjual barangnya hanya mengandalkan tenaga penjual dengan sistem penjualan langsung (dirrect selling). Sembari berdiskusi dan menulis pokok-pokok suksesnya dalam berbisnis, saya penasaran untuk turut memraktikkan ilmu dan keahliannya berjualan.

Dan luar biasa. Sebagai penulis, saya beroleh ilmu memahami pembaca. Ketika saya memraktikkan ilmu jualan, saya beroleh ilmu “membantu pembaca membeli”. Menggabungkan kecakapan menulis dengan kelihaian berjualan, saya makin paham apa arti “menulis berorientasi pada pembaca”. Mungkin anda juga belajar sesuatu dari pengalaman saya.

 

@AAKuntoA

Penulis Buku “7 Steps of Writing Coaching”

Pemimpin Redaksi HarianBernas.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *