Raja Singa, Gugatan Sunyi Aksi Kamisan

Didampingi Alvon dan Bowo, Donny Verdian nyanyikan "Raja Singa" sebagai dukungan pada Aksi Kamisan.

Didampingi Alvon dan Bowo, Donny Verdian nyanyikan “Raja Singa” sebagai dukungan pada Aksi Kamisan.

Menulis tentang Donny Verdian (DV) itu kesia-siaan. Lebih baik menulis tentang Yesus.

(Catatan pembuka: yang tidak punya selera tawa, yang hidupnya melulu kaku oleh dogma, yang tak ramah laku kontemplasi, urungkan baca tulisan ini. Minggir saja!)

Yesus tidak menulis tentang dirinya sendiri. Orang lain yang menulis tentang-Nya: Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes. Oh, sama Barnabas, yang di-DO dari deretan jurnalis pemula itu gara-gara “typo”.

Karena tak ikut kelas pelatihan menulisku penyebab Yesus tak bisa menulis. “Lho, tapi DV jago menulis, bahkan ngeblog dan ngevlog Kabar Baik tentang Yesus, padahal ia tak belajar menulis darimu, Kun?”

Itu dia. Sudah kubilang, menulis tentang DV itu kesia-siaan. Kalau pun aku menulis tentang Yesus, DV sudah lebih dulu, lengkap, dan beruntun melakukannya.

Yesus hanya bisa mengubah air menjadi anggur. DV bisa mengubah anggur menjadi air kata-kata. Dari sekadar kata hingga kata berbalut makna. DV menguasai bahasa pemrograman 01 sehingga kata bisa mengandung emosi, warna, dan gerak.

Yesus membuat mukjizat lima roti dan dua ikan. DV membelah isi otak, keterampilan tangan, dan kejernihan suara untuk menghibur, menyemangati, dan menggugah gelisah banyak orang. DV piawai bermusik sejak muda, sedangkan Yesus hanya bisa memetik gitar di film “Jesus Christ The Superstar”.

Yesus menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati. DV menerjemahkan kiasan-historis itu ke dalam aksi kekinian, mendukung sahabatnya Alvon Ditya Arudiskara dengan membuatkan website sanggarnotoyudan.id. “Hasil penjualan lagu ini sepenuhnya untuk Sanggar Seni Notoyudan,” deklarasinya pada peluncuran single “Raja Singa” hari ini, 10 Agustus 2020. SSN membuka kesempatan bagi anak-anak-tak-mampu belajar musik secara gratis. Kedua sahabat “bermusik dan penyertanya” di zaman SMA ini mengaktualisasi gerakan “menghidupkan orang mati” dengan menghidupkan pengharapan orang-orang terpinggirkan.

Hebat to, DV? Sangat. Dia bisa banyak hal, namun seperti tak berdaya pada satu hal: ketidakadilan. Sampai di sini, ia tak seberapanya Yesus. Tak sampai ia menyerahkan nyawanya untuk menegakkan keadilan.

Sebatas ini yang ia bisa: mencipta lagu “Raja Singa”. Sebatas ini??? Lebih tepatnya, sebatas ini yang kujangkau dari hasil penciptaannya.

DV menggugat ketidakadilan pada penguasa. Menurutnya, mudah bagi penguasa menyingkap peristiwa ketidakadilan itu. Tapi mengapa tak dilakukan? Penguasa sudah berganti penguasa namun semua tak menunjukkan kuasa. Padahal, jika mengaum, penguasa itu bak raja singa.

DV membandingkan dengan rajanya. Bukan raja singa namun berani membereskan ketidakadilan. Berani kotor bahkan mati. Merunut jejak DV, raja yang dimaksud ya Yesus.

Dengan portofolio ketuhanannya, jika Yesus meraja, terbuka sudah keadilan. DV berharap penguasa yang meraja itu menyurupi diri dengan sosok Yesus.

Namun, dasar DV, ia menggugat secara bebas. Dari sebaris syairnya, dia mempertanyakan, “Raja kami raja untuk semua, tapi mengapa kau diam saja?” Yesus diam saja, menurut DV.

Krisis imannya pada Yesus? Ya! DV kecewa pada Yesus yang tak mau menyelesaikan perkara yang kemudian dijeritkan lewat lagunya.

DV piawai menulis; Yesus tidak. Kepiawaian menulisnya ia terapkan. “Terus mau lari meninggalkan-Nya? Kuwi nek kowe! Nek aku beda.” Dugaanku, percakapan itu melintas di kepala plontosnya.

Alih-alih lari, ia malah mendekati perkara. Melipir latar “kamisan”, ia mengajak Ignasius Bowo Sarjito, yang tinggal di Jambi, berkolaborasi turut mengurai ketidakadilan lain yang nyata-nyata sedang diselesaikan oleh Alvon: kemiskinan.

Konsep kursus musik gratis SSN berangkat dari potret kemiskinan Silvester Alvon Ditya Arudiskara yang mesti ke Malioboro untuk pinjam alat dan belajar bermusik. Sebab, bermusik itu mahal. Ketika bingkai fotonya diperlebar, ternyata banyak anak bernasib serupa dengannya. Hingga hari ini, hingga penguasa istana berganti dan berganti.

DV persembahkan hasil penjualan lagunya untuk SSN. Mengaku mengimani Yesus itu bukan cengeng menuntut Dia yang menyelesaikan perkara-perkara dunia, melainkan turun tangan sendiri bersama sahabat-sahabat seperjuangan. DV menggugat dirinya sendiri dan merangkul kita berbuat sesuatu.

(Catatan penutup: yang imannya mudah terganggu oleh ritual midodareni, yang meragukan komitmen kebangsaan DV, ALV, BOWO, dan SSN gara-gara interpretasiku tentang Yesus, sumpel telingamu dengan kapas dan jauhi seni)

Huh, setelah muter sana-sini, bisa juga aku menulis tentang DV. Tak kuharap ia senang. Satu yang kuharap darinya: terus merdeka mencipta. Dalam diam bersuara.

@AAKuntoA | 10082020

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.