Revolusi Harapan

Belum bisa. Usahakan. Bisa.

Hari itu Selasa, 10 Desember 2013. Saat warga dunia merayakan hari Hak Asasi Manusia, seseorang bernama Roseno Aji Affandi mengibarkan tekadnya merayakan asasinya dengan cara yang keren: menulis buku. Sejak itu, untuk periode tertentu, Mas Aji—demikian saya memanggilnya—mempercayakan proses penulisan buku kepada saya. Saya menyanggupi peran sebagai coach untuknya.

Enam bulan kemudian, Mas Aji mengabarkan bahwa buku pertamanya telah terbit. Sebuah penerbit di Jakarta mempublikasikan karyanya.

 

Mas Aji—selanjutnya saya tulis Aji—seorang pembelajar yang hebat. Ia begitu gigih mengusahakan supaya karyanya terbit. Tekadnya besar. Satu pintu tertutup ia ketuk pintu berikutnya. Seorang diri.

Sebagai CoachWriter, saya salut pada keteguhan hatinya. Saya catat prosesnya.

Saat memutuskan menulis buku, time schedule penulisan segera kami susun atas kesanggupannya. Sebagai penulis buku pemula, karena belum pernah menulis buku, saya rasakan Aji begitu berani. Ia targetkan menulis 90 halaman dalam waktu 15 hari saja.

Tampak mustahil memang. Sebelum sampai pada angka itu memang sempat ada keraguan. Namun, karena agenda seminar di berbagai kota yang sudah ia jadwalkan, maka keraguan itu ia tepis. Ia ingin, saat seminar-seminar itu, buku yang ditulisnya sudah jadi sehingga bisa diberikan kepada audiens.

Dalam NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang saya pelajari dan kuasai praksisnya, apa yang ditempuh Aji disebut outcome. Di kalangan pembelajar motivasi disebut sebagai afirmasi. Penjelasannya sederhana. Outcome adalah menghadirkan sesuatu-peristiwa di masa yang akan datang sekarang. Bukunya belum jadi, bahkan belum dimulai penulisannya, namun Aji sudah menghadirkan event seminar seolah-olah berlangsung sekarang.

Jadwal yang kami sepakati berangkat dari “visual akhir” ini. Ia mulai merasa bangga membayangkan rencana itu terwujud. Ia mulai merasa hidupnya makin berarti ketika buku yang akan diselesaikannya menginspirasi pembaca. Ia mulai merasakan bagaimana menenteng buku karyanya ke mana ia pergi.

Malam-malam, selama 15 hari, Aji duduk tepekur di rumah. Saat keluarga sudah tidur, ia mengunci diri menuangkan seluruh isi pikiran dan referensi. Sungguh, ia mengunci diri dari aktivitas lain selain menulis. Hebatnya, demi buku ini, selama 15 hari ia putuskan cuti dari semua pekerjaan rutinnya sebagai pengusaha dan konsultan.

Pada beberapa malam, kami sempat bersahut kata lewat pesan di perangkat telpon pintar. Ada energi berlimpah di malam-malam itu. Sesekali Aji bertanya, saya menjawab. Itu pun tentang tanya-jawab yang sederhana, hal teknis seputar teknis menulis. Saat Aji meminta saya untuk mengomentari isi tulisan, saya katakan, “Teruskan sampai selesai, Mas.”

Di tahap ini, saya menerapkan “cara Walt Disney” yang pertama: kreatif. Pada fase ini, penulis membayangkan apa pun yang ada dalam benaknya seliar mungkin. Bebaskan pikiran. Umbar ide. Pakai otak kanan, cetus para motivator. Nanti, fase ketiga baru dihadirkan setelah fase pertama berlanjut ke fase kedua. Fase kedua adalah eksekusi saja apa yang melintas di fase pertama. Ini fase kepatuhan. Fase ketiga adalah kritis, mengambil jarak untuk mengoreksi kekurangan atau kesalahan.

Benar saja. Di hari ke-15, target tercapai. Rehat sebentar baru kami berkomunikasi untuk memeriksa ulang apakah hasil tulisan sesuai dengan perencanaan awal (TOR) yang sudah disusun rapi. Ini fase kritis. Saya masuk dengan pertanyaan, “Apakah menurut anda tulisan ini sudah mencakup seluruh gagasan?” Dalam hening, Aji kemudian memoles kembali tulisan dengan contoh kasus, ilustrasi cerita, dan data.

Saya membayangkan, di fase ini, Aji mengalami pergulatan intelektual yang seru. Pertanyaan “apakah naskah ini layak diterbitkan” adalah manifestasi dari dialog batinnya sebagai pemikir. Saya berpendapat: layak. Namun, pembaca kan bukan hanya saya. Khalayak luaslah yang lebih sahih menilai. Dan untuk mencapai mereka perlu perantaraan penerbit yang berdaya jangkau luas.

“Apakah Mas Kunto punya kontak penerbit?” Tentu, banyak, sambil saya sebutkan nama-nama penerbit. Dari sekian banyak, saya hanya mengabulkan satu permintaan tolong memperkenalkannya dengan satu penerbit nasional. Saya hubungkan lewat email dan telpon. Sekali saya pertemukan Aji dengan pemimpin redaksi penerbit tersebut. Hasilnya: ditolak. Redaksi tidak merekomendasikan naskah Aji mereka terbitkan.

Aji berjiwa besar. Saya mendorongnya untuk mencari dan menemukan sendiri penerbit berikutnya. Ditolak itu biasa. Bukan berarti tema atau penulisan tidak menarik. Bisa jadi, tema tidak sesuai dengan genre naskah yang dilansir penerbit. Atau, di ujung sana, ada pertimbangan pasar yang menyangsikan kelarisan buku kelak.

Sejak di sini, Aji bergerak sendiri. Sebagai coachee, ia tangguh luar biasa. Entah bagaimana—karena di fase ini ia belum bercerita—ia melangkah hingga menemukan penerbit yang sekarang, yang terang ia melakukannya sendiri, tanpa campur tangan saya. Dan saya mencatat, sekali lagi, energi Aji untuk menuntaskan proses menulis buku ini memang besar sedari awal. Tidak banyak coachee sesemangat dia. Kebanyakan butuh banyak dan sering lecutan kala loyo. Aji hanya butuh sapaan untuk kemudian apinya menyala sendiri berkobar-kobar.

Begitu pula dalam mendapatkan komentar penguat (endorsement) dari tokoh-tokoh. Ia tempuh sendiri.

Secara keseluruhan, inilah gambaran write coaching yang baik, yang dicontohkan Aji. Coachee menemukan sendiri tujuan akhirnya, menentukan cara mencapainya, dan mengukur sendiri kualitas proses-hasilnya. CoachWriter hanya membantu proses perpindahan dari 0% pengalaman menulis buku hingga 100% mengalami sendiri menulis buku.

Mas Aji, terima kasih atas pembelajaran hebat ini. Sampeyan sungguh luar biasa. Selamat atas terbitnya buku Revolutian of Hopes (Rene Books, 2014). Sukses!

 

Salam kreatif,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *