Rindu Panenan Bapak

Bapak yang menanam, saya yang memanen

Bapak yang menanam, saya yang memanen

Bapak saya hobi menanam. Pohon apa saja ditanam. Beliau yakin, semua yang tumbuh di atas tanah layak ditanam. Beliau juga yakin setiap tanah layak ditanami.

Jika ada tanaman yang tidak bertumbuh ketika ditanam, bukan tanamannya yang bermasalah, melainkan cara menanam dan menumbuhkannya yang belum tepat. Sekarang, tanaman yang belum berhasil beliau tanam adalah durian dan matoa. Khusus matoa, pernah tumbuh dan patah karena saya tabrak saat saya bersepeda keliling halaman.

Alhasil, di tangan beliau, apa pun yang ditanam pasti bertumbuh. Bahkan, berlimpah panenan. Manggis berbuah lebat di samping pohon alpukat. Nangka bersebelahan dengan sukun dan jeruk. Pohon sirsak betebaran di sepanjang pagar rumah. “Supaya tetangga yang suka bisa ikut memetiknya,” ujar Bapak berulang-ulang.

Alhasil, banyak tetangga yang di tengah-tengah memasak memetik daun salam yang sengaja dicondongkan ke jalan. Juga, jika tetangga punya hajat, Bapak mempersilakan mereka mengunduh sendiri kelapa yang beberapa pohonnya tumbuh di kebun samping. Tidak perlu bayar. Jika ada, Bapak minta dibayar dengan segerobag dorong kotoran sapi atau kambing tetangga sebagai pupuk.

Adakah mangga? Ada. Meski belum pernah panen berlimpah, karena sering kalah cepat dengan lalat buah yang membusukkan, Bapak tak menebangnya. Bagi Bapak, pohon yang berbuah, meski buahnya busuk, tetaplah berbuah. Dengan ketelatenannya mencari cara, beberapa butir bisa diselamatkan dan disantap.

Uniknya, perlakuan berbeda beliau terapkan untuk pohon rambutan. Beberapa pohon sudah ditumbangkannya. Padahal berbuah sangat lebat. Kali itu beliau menggerutu ketika menebang pohon yang beliau tanam sekian tahun lalu. “Dulu, awal menanam, anak-anak tetangga suka curi-curi jika menginginkannya. Padahal, minta saja pasti kukasih. Dan mereka bisa leluasa memetik banyak. Sekarang, kupetik sendiri dan kuantarkan ke rumah mereka saja nggak ada yang makan,” ujar beliau gusar sekaligus geli. Geli, melihat beliau, tetangga-tetangga meniru. Jadilah, setiap rumah di kampung kami ada pohon rambutan. Anak-anak sudah memanjat pohonnya sendiri.

Kenapa tidak dijual? Bapak saya pencinta tanah. Ia menanam pertama-tama untuk memuliakan tanah, sesuai ajaran ayah dan kakeknya. Pohon yang berbuah adalah pemuliaannya pada tanah. Tambah lagi, puluhan tahun menjadi PNS menjadikan beliau cukup dengan hidup yang secukupnya. Tak pernah berkekurangan, maka tak perlu berjualan untuk menutup kekurangan.

Ibu saya yang pelan-pelan mengenalkan konsep berjualan. Diam-diam Ibu membawa panenan ke warung dekat rumah. Bukan ditukar uang melainkan ditukar tempe, sayur, dan bebumbuan. Saat panenan berlimpah, dan kebutuhan belanja dapur yang segitu-gitu aja, pemilik warung membayar tunai panenan yang disetorkan Ibu. Sampai di rumah uang itu berwujud beras. Bapak saya senang. Beliau senang, panenannya bisa dipertukarkan dengan keperluan sehari-hari. Uang pensiunan beliau bisa untuk belanja alat pertukangan, hobi beliau yang lain.

Pesan Bapak kepada Ibu hanya satu, “Sebisa mungkin jualan setelah kita tawari tetangga dan saudara. Kalau mereka sudah dapat bagian, selebihnya kita jual.” Maka, ketika diberikan dan dijual saja sudah tidak laku, ditebanglah pohon rambutan-pohon rambutan itu. Masih tersisa tiga pohon untuk perindang halaman berumput, selain untuk dimakan sendiri jika pengen.

Waktu kecil, saya tidak paham dengan kebiasaan Bapak yang sebentar-sebentar pegang cangkul, linggis, kapak, bodem, sabit, dan semua peralatan berkebun. Yang terang, setiap sore saya mesti membantu beliau menggali tanah, memindahkan tanah ke kebun sebelah, lalu kelakkk… menggali tanah di kebun sebelah dan mengusungnya dengan gerobag dan menimbunkannya di lubang tanah sekian bulan lalu yang sudah penuh dedaunan dan sampah organik lainnya. Jika asistensi saya cukup, saya segera berlari ke lapangan untuk main bola. Yang penting, sebelum maghrib sudah di rumah untuk mengerjakan pekerjaan di dalam rumah. Arrgggghhh…

Ketika panen berlimpah, saya baru paham arti menanam sekian tahun lalu. Saya juga makin percaya, tidak ada tanah yang tidak subur. Yang ada, pengolahannya belum tepat.

Bapak saya membuktikan. Rumah kami berdiri di atas tanah cadas. Menggali tanah sedikit saja sudah terantuk bebatuan. Sumber air ada di dalam sumur yang dalam. Itu pun berkarat. Untuk minum dan masak kami “ngangsu” dari sumur tetangga.

Untuk menyuburkan tanah, selain mengandalkan air hujan, juga dengan cara menyiraminya. Paradoks: Bapak membuang air yang kami sendiri sulit memperolehnya.

Satu lagi, setiap pagi, suasana rumah kami seperti perpeloncoan di barak militer. Bapak sangat keras mengatur waktu untuk ibu memasak, kami mandi, dan beliau mencuci baju. Harus bersamaan! Kekompakan kami dalam melakukan pekerjaan tersebut bareng-bareng di pagi hari, menentukan wajah Bapak.

Semua air yang kami buang dialirkan ke kebun. Karena kami membuangkan bersamaan maka alirannya cukup besar. Tugas Bapak saya adalah memastikan air limbah itu membasahi kebun kami hingga ke ujung-ujung.

Jadilah, di segala cuaca, tanah kebun kami basah. Jadilah, di segala musim, Bapak panen. Jadilah, salak yang sebelumnya tidak pernah bisa ditanam di atas tanah seperti kebun kami, berbuah ranum dan lezat. Teman-teman yang pernah ke rumah pasti pernah menyantap sebagian atau semua buah yang berlimpah di rumah. Semua Bapak yang menanam.

Saya rindu Bapak. Saya kangen Ibu. Syukurlah, tiga minggu lalu saya pulang, bercengkerama bersama kedua beliau. Tak terlalu sedih karenanya tidak bisa pulang di libur Lebaran ini. (sambil mengusap air yang menggenang di pelupuk)

Bukan. Karena pekerjaan saya memungkinkan saya untuk pulang kapan pun, terlebih jika ada pekerjaan di Jogja, maka sedih saya tidak seperti mereka yang tidak bisa mudik kali ini.

Sedih saya adalah jika saudara atau teman-teman saya, usai sungkem kepada Ibu dan Bapak saya, memetik dan menyantap panenan terbaru Bapak yang saya belum mencicipinya: buah naga.

Bali, 24 Juni 2017
@AAKuntoA

:: meneladan Bapak, mulai menanam di easydoku dan CAR 3i-Network bit.ly/kunto3i

Incoming search terms:

  • pohon manggis berbuah lebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *