RIP Romo Koelman: Sekolah Tak Mengurusi Rambut

 

RIP Romo G Koelman SJ

Sumber foto: Sesawi.Net

Cerita turun-temurun dari kakak kelas itu tentang gaya seorang pastor Jesuit yang nyentrik. Tiga yang saya catat:

Pertama, adu jotos. Saat menjadi pamong di SMA Kolese de Britto di tahun 1970-an, Yogyakarta, ia geram jika mendengar ada muridnya berkelahi. Geram jika perkelahian tidak berimbang, lebih-lebih jika keroyokan. Ia cari murid yang bertikai itu sampai ketemu, lalu giring mereka ke lapangan dan tunggui mereka berkelahi satu lawan satu. Ya, satu lawan satu.

Kapan selesainya? Ketika salah satu menyatakan kalah dan minta maaf? Bukan. Ketika yang menang memaafkan dan keduanya berpelukan. Perdamaian dicapai bukan ketika ditemukan mana yang benar dan mana yang salah, melainkan ketika yang merasa hebat mengampuni yang lemah.

Tempo hari saya dengar, kolese mengeluarkan dua siswa yang menganiaya wasit saat pertandingan antarkelas. Wasit itu teman sendiri beda kelas. Tak berimbang, wasit itu dikeroyok hingga “babak bundas”. Apakah keputusan itu tepat? Saya tidak tahu karena tidak tahu persisnya. Namun, jika pamong ini masih bekerja di sana, dua siswa itu tidak akan dikeluarkan. Mereka akan diadu satu lawan satu.

Kedua, cari ke rumah. Pamong ini gusar jika ada anak membolos. Bukan tidak boleh membolos. Silakan saja, toh ada hak murid untuk tidak masuk sekolah sekian hari dalam setahun. Tapi, katanya, mbok ya kalau cari alasan yang keren dan elit. Kalau alasannya “sakit”, pamong ini langsung meluncur ke rumah atau kost si murid untuk membesuknya. Jika bohong, si murid akan diusung ke sekolah diboncengkan Vespanya. Saya membayangkan isi kepala pamong ini, “Saya lebih rela kamu mati karena berkelahi daripada terkapar di kost karena kehilangan nyali.”

“Siapa bilang sekolah membolehkan siswa berambut gondrong? Mana buktinya? Yang benar sekolah tidak mengurus rambutmu.”

Ketiga, rambut gondrong. Saat menjadi pamong, rektor yang menjadi atasannya, Romo Oei Tik Djoen SJ, tak kalah sableng. Romo Oei ini tercatat merumuskan konsep “pendidikan bebas” yang dianut kolese hingga kini. Nyentrik, Romo Oei sendiri berambut gondrong—penampilan yang kemudian banyak disalah mengerti sebagai simbol “pendidikan bebas”. “Siapa bilang sekolah membolehkan siswa berambut gondrong? Mana buktinya? Yang benar sekolah tidak mengurus rambutmu,” ujarnya suatu ketika di acara reuni alumni yang saya ikut jadi panitia.

Rambut gondrong, merujuk pamong ini, bukan tujuan pendidikan bebas. Bahkan, penampilan nyentrik seperti ini, ditambah bisa bersekolah pakai kaus, sarung, dan sandal jepit—kala itu, sama sekali bukan tanda pendidikan bebas.

Pendidikan bebas tak sebatas “bebas dari aturan”, “bebas dari kekangan”, “bebas dari batasan”…bukan, bukan secetek BEBAS DARI, melainkan BEBAS UNTUK “bebas untuk pintar”, “bebas untuk berekspresi”, “bebas untuk menyatakan diri”, “bebas untuk melayani sesama”, dan bebas untuk memuji dan memuliakan Allah—AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam; demi kemuliaan Allah yang semakin besar).

Pagi ini, Sabtu, 3 Desember 2016, di RS Elisabeth Semarang, sang pamong sudah bebas. Bebas dari tugas dunia, lalu bebas untuk meninggalkan semangat kebebasannya pada dunia, pada murid-murid sepanjang waktunya. Requiescat in Pace, Pater Gebraldus Koelman, SJ (85 tahun).

Saya tidak kehilanganmu, Mo. Mati itu biasa. Kematianmu juga biasa. Yang tidak biasa adalah hidupmu. Saya yang tak pernah menjadi murid langsungmu saja merasakan hidupmu, apalagi mereka yang pernah kau tempeleng mentalnya.

Pergilah ke surga secepat Vespa-mu diiringi doa murid-muridmu. Merokoklah di surga sepuasmu. Bukan karena di surga tak ada larangan “dilarang merokok” namun karena Gusti Allah nggak ngurusi rokok…

Bali, 3 Desember 2016
@AAKuntoA
CoachWriter | www.dokudoku.id

Incoming search terms:

  • romo koelman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *