Sama-sama berisiko, apa pentingnya pendidikan dan asuransi?

Pendidikan dan asuransi adalah bahasa lain dari berjaga-jagalah sebab segala kemungkinan bisa terjadi.

Pendidikan dan asuransi adalah bahasa lain dari berjaga-jagalah sebab segala kemungkinan bisa terjadi.

Pendidikan, yang tak pernah menjamin orang pintar dan sukses, kenapa diminati?

Sedangkan asuransi, yang tak pernah menjamin orang sehat dan hidup panjang, kenapa tak diminati?

Dua pertanyaan itu menggelitik saya. Semoga juga menggelitik anda. Maka, mari kita urai bareng secara ringan dan menyenangkan.

Pendidikan, cari apa?

Saya tidak ikut berpendapat ini, “Sekolah nggak ada gunanya. Nggak ada yang kepake di dunia kerja!”

Tidak ada yang tidak berguna dari sekolah. Sekurang-kurangnya, sekolah meletakkan cara berpikir runtut. Sekurang-kurangnya, sekolah mendasari sikap bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah. Sekurang-kurangnya, sekolah mengasah kemampuan bertanya—kunci pembuka pengetahuan.

Tanpa pendidikan sama sekali mustahil orang mengerti logika, tata bahasa, dan dirinya sendiri. Memang, perangkat untuk mempelajari itu kini tersedia bebas di internet. Namun, kemampuan dan ketepatan mengakses tidak muncul begitu saja tanpa pembekalan dari pendidikan.

Pendidikan, yang tak pernah menjamin orang pintar dan sukses, kenapa diminati?

Sedangkan asuransi, yang tak pernah menjamin orang sehat dan hidup panjang, kenapa tak diminati?

Tentu, pendidikan tak sebatas sekolah formal. Namun pendidikan juga tak bisa dibebaskan pengertiannya secara asal-asalan “pengalaman adalah guru terbaik”. Omong kosong bisa omong seperti itu jika ia tak memiliki pisau yang dapat memilah dan memilih mana dari antara pengalaman-pengalaman itu guru dan mana yang terbaik.

Artinya, tak ada orang tak berpendidikan sahih menilai pendidikan tak berguna. Sebab, tanpa pendidikan mustahil orang punya alat ukur untuk menilai sesuatu.

Tak ada orang tak makan sekolahan yang tepercaya mengatakan sekolah tak ada gunanya. Yang ada adalah lulusan sekolahan yang tidak sadar dan rendah hati mengakui bahwa pernyataannya dibentuk oleh pengetahuan dan pencakapan di sekolah.

Sebaliknya, hanya orang bijak yang mengakui bahwa andil sekolah dalam hidupnya begitu besar, yang kadang tidak hadir dalam peristiwa-peristiwa besar. Misalnya, ketahanan menghadapi tekanan pekerjaan tentu berkat penanaman pengetahuan tertentu di sekolah tentang bagaimana menempatkan diri terhadap masalah; apakah asosiatif atau disosiatif. Misalnya lagi, kelihaian memutuskan secara tepat tentu berkat senam otak yang diajarkan di sekolah dalam materi silogisme dan manajemen risiko.

Asuransi, dapatkan apa?

Seperti halnya pendapat tentang pendidikan di depan, saya juga tak menganut pendapat ini, “Asuransi nggak ada gunanya. Nggak ada yang kepake selama saya sehat dan hidup!”

Itu betul. Asuransi tidak terpakai selama kita sehat dan hidup. 100% betul. Lalu, mengapa saya tidak setuju dengan pendapat itu?

Sederhana saja alasan saya, yakni sebab sehat dan hidup di luar kendali kita. Ada kuasa lain yang menentukan kapan kita tidak sehat dan tidak hidup.

Betul bahwa untuk sehat kita tahu dan bisa mengusahakan cara-caranya. Berolahraga, menjaga pola makan, dan mengatur pola istirahat adalah beberapa cara yang bisa ditempuh untuk tetap sehat. Sungguh baik. Lakukan saja.

Sehat dan hidup di luar kendali kita. Ada kuasa lain yang menentukan kapan kita tidak sehat dan tidak hidup.

Pertanyaannya, adakah orang yang sudah melakukan semua itu dengan sangat baik dan disiplin sakit? Ada. Banyak. Mulai dari yang ringan seperti pilek sampai yang berat seperti gagal jantung dan stroke tak sedikit adalah olahragawan yang disiplin menjaga pola hidup sehat.

Nasib, begitu kata penghiburan untuk menengahi pertanyaan-pertanyaan bernada menggugat “kenapa bisa” dan beragam penjelas/pembelaan “bisa jadi karena”. Panjang urusan jika sudah memperdebatkan ini. Toh faktanya kejadian “sehat tiba-tiba sakit” dan “hidup tiba-tiba mati” itu ada. Bisa mengenai siapa saja dan kapan saja.

Pendidikan dan asuransi, di mana ketemunya?

Nah, di titik “bisa mengenai siapa saja dan kapan saja” inilah pendidikan dan asuransi menjadi relevan. Pendidikan menjawab bagaimana mengatasi masalah yang bisa datang mengenai siapa saja dan kapan saja. Asuransi menjadi alat yang menyertai pertanyaan bagaimana mengatasi tersebut.

Analogi lain adalah suatu perjalanan. Pendidikan menyediakan pengetahuan untuk menjawab, “Apa yang harus kulakukan ketika ban mobil bocor di jalan.” Pengetahuan itu membimbing kita untuk meminggirkan kendaraan ke tempat aman dengan cara aman, mengecek kondisi ban, mengganti dengan ban cadangan, baru kemudian melanjutkan perjalanan. Pengetahuan itu ada dan mengikuti kita sejak kita belajar akannya. Tanpa kejadian ban bocor, pengetahuan itu mengikuti kita. Baru sadar “ternyata aku punya pengetahuan” begitu ada kasus.

Itu pentingnya pendidikan, formal maupun informal. Bayangkan tanpa pengetahuan sama sekali buah dari pendidikan, apa yang akan kita lakukan selain panik dan bingung?

Itu pula manfaat asuransi. Saat kita sudah pegang polis, apakah kesehatan maupun jiwa, kita tidak merasakan manfaatnya sedikit pun. Alih-alih justru penyimpanan dokumen penting kita penuh. Baru terasa ketika ada kejadian, “Ini solusinya.” Sebaliknya, karena tidak mau repot menyimpan dokumen, ketika terjadi peristiwa sakit atau mati hanya bisa panik dan bingung, “Dari mana biayanya?”

Setuju kan manfaat pendidikan dan asuransi?

@AAKuntoA | 210216