Sederhanakan yang rumit, fokus pada yang paling!

Bermasker, memfilter hanya yang penting.

Bermasker, memfilter hanya yang penting.

Awali 2021, saya sampai pada kesadaran, pandemi covid-19 ini pengingat sangat baik untuk kehidupan. Kehidupan saya sekurang-kurangnya. Syukur jika anda juga merasa demikian.

#pakaimasker

Baik yang saya ucapkan maupun hirup: pilih, saring, batasi. Saya tidak perlu mengomentari semua hal, lebih-lebih tentang sesuatu yang saya tidak tahu persis kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatannya. Maka, tidak semua berita dan posting orang di media massa saya baca dan komentari. Selain membuang waktu, membaca dan menanggapi semua juga tak ada gunanya. Ibarat makan, melahap semua hidangan yang disuguhkan bukannya bikin kenyang melainkan kekenyangan. Berlebihan yang sia-sia.

Masker itu filter. Filter itu hanya menerima yang saya butuhkan dan menolak yang tidak saya butuhkan. Lalu fokuskan perhatian di situ. Sadari betul apa yang saya terima, sebagaimana masker memfilter oksigen, lalu kirimkan ke otak untuk didistribusikan ke seluruh tubuh. Hasil seketika segar, hasil jangka panjang sehat.

Sebaliknya, sesak dan tidak sehatlah ketika saya tidak memfilter oksigen secara tepat. Tanpa masker, debu, asap kendaraan, dan partikel-partikel kotor lainnya terhirup hingga paru-paru. Efek kejutnya batuk, efek lanjutnya radang pernafasan. Kata sederhananya: sakit.

Masker itu filter. Filter itu hanya menerima yang saya butuhkan dan menolak yang tidak saya butuhkan.

Maka, untuk hidup saya, saya putuskan untuk hanya menerima informasi, penawaran, dan penugasan yang bermanfaat menolong sesama. Ya, hanya pekerjaan berunsur “menolong sesama” yang saya ambil. Apakah saya lebih kuat sehingga bisa menolong? Hohoho, sudah tidak zamannya mengandalkan diri sendiri. Saatnya berjejaring, berkolaborasi. Menolong rame-rame, dari uluran tangan orang lain, dengan sistem gotong-royong.

Pertimbangan saya sangat sederhana. Situasinya terang. Pandemi ini menggamblangkan pandangan:

  • Orang sakit. Yang diinginkan: sembuh. Yang dibutuhkan: biaya. Pertolongan yang memungkinkan: biaya untuk sembuh.
  • Orang di-PHK. Yang diinginkan: berpenghasilan. Yang dibutuhkan: pekerjaan. Pertolongan yang memungkinkan: menyediakan lapangan pekerjaan yang menghasilkan.
  • Orang mati. Yang diinginkan: kelangsungan hidup keluarga. Yang dibutuhkan: warisan. Pertolongan yang memungkinkan: harta (tak berwujud: pengetahuan, nilai-nilai hidup, nama baik; berwujud: sertifikat rumah, rekening tabungan, polis asuransi).

Itu kenapa saya fokus di bisnis finansiaal, salah satunya, bisnis asuransi. Sebab, setelah saya filter, bisnis ini yang paling sesuai dengan kriteria bisnis “menolong orang” yang saya inginkan.

 #cucitangan

Lebih dari sekadar supaya tangan kita bersih dari virus menular, saya memaknai protokol kesehatan “cuci tangan dengan sabun di air mengalir” ini sebagai ajakan untuk “fokus pada apa yang bisa saya kerjakan”. Tangan menggambarkan kendali, kemudi, dan kontrol.

Melanjutkan pesan #pakaimasker, saya fokus pada apa yang bisa saya kerjakan. Sekali lagi, tidak sendiri. Saya juga fokus pada apa yang bisa saya kerja samakan dengan orang lain supaya pekerjaan saya makin mendekati “menolong sesama”.

Tangan adalah simbol relasi. Dan tangan saya sudah terbukti luas jangkauan relasinya. Bukan semata karena saya suka bergaul dan kenal setiap lapisan sosial, melainkan kompetensi menulis saya yang menjadikan jangkauan relasi saya sangat luas. Tangan saya tangan penulis. Tangan saya piawai menghubungkan kata dengan kata hingga pembaca menemukan makna dari jejalin kata-kata itu.

Tangan adalah simbol relasi. Dan tangan saya sudah terbukti luas jangkauan relasinya. Bukan semata karena saya suka bergaul dan kenal setiap lapisan sosial, melainkan kompetensi menulis saya yang menjadikan jangkauan relasi saya sangat luas.

Menulis seputar bisnis finansial, salah satunya asuransi, karenanya menjadi fokus kerja tangan saya. Saya warnai tulisan-tulisan saya dengan topik-topik seputar finansial, mulai dari bagaimana orang mencari uang, membelanjakan uang, hingga menginvestasikan. Juga tentang sifat uang: jika dicari serasa menjauh, jika tak dipikirkan datang sendiri. Plus, termasuk tentang misteri uang: kapan ia harum sebagai sarana kebaikan, kapan ia busuk ketika jadi kedok kebatilan.

Pada tangan saya kini ada brosur-brosur produk asuransi terbaik. Tenang, tidak kepada sembarang orang brosur ini saya berikan. Meski gratis. Meski mudah ditemukan di sini.

Saya hanya akan memberikannya kepada anda yang membutuhkan. Butuh hidup lebih nyaman. Jika sakit, butuh istirahat tenang tanpa memikirkan siapa yang membiayai perawatan. Jika giliran mati pun tiba, berbahagialah arwah anda sudah meninggalkan bekal melanjutkan hidup bagi keluarga. Jika anda tidak risau dengan ketiga hal tadi, termasuk sakti nggak mungkin mati, brosur di tangan saya tak saya berikan untuk anda.

 #jagajarak

Efek terbaik dari #jagajarak saat ini bukanlah terhindari dari terpapar virus Covid-19! Bukan. Itu sementara saja. Begitu vaksin dan obat sudah ditemukan, saya yakin, #jagajarak akan kembali ke habitat asalnya, yakni pantat truk ekspedisi antarkota antarprovinsi. Sebab, pada dasarnya manusia suka berkerumun. Aman, nyaman.

Dengan hakikat suka berkerumun itu, pesan #jagajarak saat pandemi ini jauh lebih dalam, yakni bagaimana berjarak dari kebiasaan dan lingkungan lama yang tidak mendekatkan saya pada tujuan “menolong sesama”. Sebaliknya, #hilangkanjarak dari segala sesuatu yang semakin mendekatkan saya pada tujuan.

Inilah kenapa saya di 2021 ini semakin mendekat dan akhirnya terkoneksi dengan teman-teman yang berkecimpung di industri finansial. Energi mengikuti imajinasi. Sejak saya putuskan untuk menekuni dunia finansial ini, energi menggerakkan saya mendekati sumber-sumber keuangan yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Imajinasi menuntun saya memasuki dunia finansial yang begitu luas dan besar.

#jagajarak saat pandemi ini jauh lebih dalam, yakni bagaimana berjarak dari kebiasaan dan lingkungan lama yang tidak mendekatkan saya pada tujuan “menolong sesama”.

Perubahan mencolok seketika terjadi dalam diri saya. Uang tak lagi momok yang menakutkan, yang kalau memilikinya berarti jahat atau tamak, yang karenanya harus dihindari, sekaligus bukan pula tuan yang menguasai mimpi, yang harus dikejar mati-matian, yang jika tak memilikinya sengsara. Uang itu kenyataan yang biasa saja, yaitu sarana menolong sesama. Kenyataan bahwa ada transaksi dalam hidup, dan simbol transaksi itu berupa uang. Begitu saja.

#jagajarak: tidak menolak, tidak memeluk.

@AAKuntoA | 20012021

 

foto dari sini.