Semboyan 35

Semboyan 2B: hati-hati

Di dunia perkeretaapian dikenal istilah “semboyan 35”. Sedemikian terkenal istilah ini. Padahal, secara keseluruhan ada 51 semboyan (tolong koreksi jika salah) yang mengatur dinamika perjalanan kereta api. Semboyan-semboyan itu dalam wujud suara, bentuk, dan warna. Masinis wajib menaati semua semboyan itu supaya perjalanan kereta selamat. Petugas pengatur perjalanan kereta api dan penjaga palang pintu pun wajib ingat kapan meniupkan atau melambaikan semboyan tatkala kereta api melintas. Saat semua berjalan lancar, amanlah semua.

Mengapa “semboyan 35”  demikian populer? Saya tidak tahu. Saat menulis ini pun saya tidak terlebih dahulu bertanya atau mencari tahu. Padahal beberapa teman saya penggila kereta api. Nanti, sesudah menaikkan tulisan ini, saya hendak menelisik tahu. Atau, jika sidang pembaca punya jawabnya, sudilah mengirim kabar kepada saya.

Begini saja. Anda bertanya kepada saya. Begini jawaban saya:

Menurut saya, “semboyan 35” lebih ngetop ketimbang seluruh semboyan lainnya karena ia begitu puitik. Semboyan ini ditiupkan di detik-detik yang mendebarkan, yakni saat kereta hendak beranjak meninggalkan stasiun. Begitu PPKA (pemimpin perjalanan kereta api) meniup peluit, masinis akan menyahut dengan menekan tombol terompet/klakson. “Thuuuuuuuuuuttt…”. Tuas rem pun dilepas. Kereta melaju.

Tangan pengantar melambai-lambai sembari melempar pesan, “Hati-hati ya… Sukses!”  Itu yang gembira. Mereka yang berpisah dalam sedih tentu ada. Nirperjumpaan dalam waktu lama bakal butuh sapu tangan atau tissue untuk menyeka air mata. Berharap kelak berjumpa lagi.

Apa pun, “semboyan 35” sangat istimewa. Ia menjadi penanda sebuah garis perubahan. Ia menjadi instruksi untuk lekas berangkat, lekas bergerak, lekas berpindah.

Kepada siapa instruksi itu ditujukan? Bukan kepada penumpang tetapi kepada masinis, juru kemudi kereta api. Masinis yang dipercaya menggenggam kemudi lokomotif. Di depan, menyibak malam, melibas fatamorgana jika siang hari, lokomotif memberanikan diri bergerak maju. Sepasang rel sudah jelas menyediakan diri menuju tujuan. Tinggal menempuhnya saja.

Di sepanjang perjalanan, masinis akan terus berpapasan dengan rambu-rambu lalu-lintas berkereta api lainnya. Ada bunyi peluit. Ada lingkaran hijau. Ada papan persegi empat pemantul bunyi peluit. Ada lampu merah. Ada lambaian isyarat dari PPKA di setiap stasiun dari perlintasan jalan raya. Rambu-rambu itu mengatur kapan melaju kencang, kapan menghela kecepatan, kapan meneriakkan klakson, kapan beralih jalur, dan kapan berhenti.

Menerobos semboyan-semboyan itu celaka sudah.

Dan sore ini saya serasa menerima “semboyan 35” dalam versi lain. Saya hadir di pembukaan kelas baru angkatan ke-10 @koshebat. Di Jogja. 7 peserta baru hadir dari Banjarmasin, Pangandaran, Riau, Tegal, dan beberapa kota lain di Indonesia. Mereka sejak hari ini memasuki “kamp” selama 2 bulan ke depan di dalam bimbingan langsung Master Bisnis @Putuputrayasa.

Sebagai PPKH (pemimpin perjalanan kos hebat hehe), Putu Putrayasa melimpahkan beberapa semboyan supaya peserta lekas melesat sebagai pengusaha. Ada semboyan tentang penajaman visi, ada semboyan tentang penjernihan motivasi dan identitas diri, ada semboyan tentang kepercayaan (belief) untuk bermimpi meyakini bakal sampai tujuan, dan beberapa lagi semboyan lainnya.

Sebagaimana masinis, para pengusaha yang tergabung di Kos Hebat adalah mereka yang yakin menjadi pemimpin, pengusaha yang pemimpin, bukan sekadar pedagang yang cari untung. Sebagai pemimpin, oleh karenanya, mereka perlu mendapatkan pelatihan secara khusus dan terstruktur. Pelatihan intensif ini perlu supaya mereka tidak salah jalan, tidak serampangan dalam menjalankan bisnis, dan selalu optimis menuju puncak.

Putu Putrayasa menyuntikkan virus menghidupkan, bukan mematikan, tentang bagaimana menjadi pengusaha tangguh, yang matang secara spiritual sekaligus selalu haus untuk semakin memperkaya kapasitas diri. Saya, yang sejak 2 tahun teranyar memutuskan menjadi pengusaha media, dan diundang Putu Putrayasa untuk belajar bersama menjadi pengusaha lewat Kos Hebat, turut tersetrum dengan “semboyan 35” yang ditiupkan pengusaha properti, coach bisnis, dan penulis yang saya kenal sejak sekira 4 tahun lalu itu.

Dan hari ini, tepat di usia saya yang ke-35, saya memutuskan untuk memperkencang laju kereta, laju bisnis saya, laju hidup saya. Mohon doa Anda. Semoga alam semesta dan Gusti yang empunya jagad raya ini membimbing saya.

 

Omah Renjana, 15 November 2012

AA Kunto A

[http://aakuntoa.com; aakuntoa@solusiide.com]

Ilustrasi pinjam dari sini

Incoming search terms:

  • semboyan 35 railfans tegal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *