Seribu Kata Mengenang Kristupa

170710 Kristupa Saragih RIP“Good morning from Denpasar, Bali,” komentarku atas status FB-mu 25 Juni 2017, “Good morning from Sanur, Bali.” Sahutmu singkat, “Mantappp.”

Sahutanmu itu pertanda jelas bagiku. Kamu sedang sibuk. Terhadap tanda seperti itu aku tak berani menerjangnya. Aku hanya mau menemuimu jika kamu meneruskan sahutan itu lewat japri, “Dolan ndene, Kun!” Dan itu dua tahun sekali. Itu pun untuk obrolan yang belum pernah ujungnya kita eksekusi.

“Sik, Kun. Aku belum nemu angle yang tepat,” kilahmu setiap kali aku menagih, “Mana bukumu?”

Sudah kubilang, tema apa pun yang kau tulis pasti menarik. Jika kau tulis topik yang rumit, orang akan berkomentar, “Dia memang ahlinya.” Sedangkan, jika kau tulis topik remeh-temeh, orang tetap angkat topi padamu, “Sekelas dia mau menulis topik sederhana begini.” Kau mengangguk.

Aku tahu cara membuatmu mengangguk. Yakni, menohok harga dirimu.

Sebagai fotografer, kau pernah tunjukkan penawaran tertinggimu kepada klien kala itu. Demi mendapatkan angle terbaik memotret kawasan usaha klien dari angkasa, kau minta disediakan helikopter. Kala itu drone masih di angan-angan. Kubayangkan, klien tak membeli kemampuan fotografimu semata, melainkan membayar kesungguhanmu. Foto udara itu pun dijepret oleh matamu, bukan oleh mata satelit.

Sebagai geolog, kamu punya pengalaman amblas bumi. Turun ke kedalaman. Kotor dan gelap. Kau bersahabat dengan bebatuan. Orang kebanyakan sepertiku hanya bisa menyebut tanah untuk yang diinjak, dan perut bumi untuk lapisan di bawahnya. Kamu bisa menguraikannya detail.

Itu harga dirimu. Kamu sanggup mengangkasa ke awang-awang, dan kamu sendiri jadi bintang, kamu pun sanggup melesak ke isi bumi, dan kamu tidak peduli jadi siapa.

Kamu sudah setuju menulis buku. Hanya kamu belum setuju, buku yang melangit atau yang membumi. Ledekku, “Salahmu semua tahu!”

Saat aku menulis buku “Selfie Writing for Authentic Personal Branding” kembali kutagih, “Mana bukumu?” Kukutip pernyataanmu di halaman 3, “Satu foto berbicara seribu kata. Dan seribu kata melahirkan berjuta interpretasi.”

Kau sudah menghasilkan ribuan foto terbaik, dan jutaan foto baik, dan lebih banyak lagi foto biasa, mana seribu kata itu? Masa cuma menulis di blog? “Asu!” balasmu saat tak lagi bisa mengelak. Lalu kita berbincang yang lain. Dan aku terus membayangimu dengan teror kata-kata, “Sehebat apa pun kamu, tanpa menulis buku, tak ada yang tahu apa dan bagaimana kamu menjadi hebat.”

Kamu tahu, aku tidak menasihatimu. Kamu tahu diri tak suka dinasihati. Kamu suka ditantang. Dan aku menantangmu karena aku mengagumimu. Sangat mengagumimu! Dengan atau tanpa buku.

Entah mana yang lebih dulu, aku mengenalmu tahun 1993. Aku kelas satu, kamu kelas tiga, di SMA Kolese de Britto. Kamu kukenali dari tulisan-tulisanmu di KDJB, GEMA-BERNAS, dan HAI. Semester berikutnya aku bergabung di salah duanya, dan bertemu denganmu. Sesudah atau sebelum itu aku berteman dengan adikmu Pittor Saragih. Kami seangkatan.

Pilihanmu bertekun di fotografi menginspirasiku untuk bertekun di dunia menulis. Keunggulanmu, selain foto, tulisanmu bagus. Tidak denganku: hanya menulis. Toh, berkaca dari perjalanan profesionalmu, aku turut bertekun dalam jalan yang kupilih. Berkatmu.

“Yang penting berkarya,” adalah frasa pendamai kita untuk mengakhiri pertikaian tentang mana yang lebih penting. Lalu kita berpencar lagi. Setiap hari aku baca pergerakanmu di linimasa, untuk dua-tiga tahun berikutnya baru bersua nyata lagi. Dengan topik yang sama lagi: mana bukumu?

Pertanyaan itu tak lagi kutodongkan ketika kita berjumpa di RS BROS, Denpasar, Bali, 3 Juli 2017. Tidak untuk melanjutkan sapaan kita seminggu sebelumnya, melainkan untuk mendoakanmu, “Cepat sembuh!”

Sebentar ke Jakarta, sekembali di Bali, kita bersua lagi, 8 Juli 2017. Kamu berpulang di RSUP Sanglah, Denpasar. Langit sedang diguyur terang bulan. Saudara-saudara di Bali sedang sembahyang Purnama. Puitis sekali kepergianmu.

Di tengah malam itu, aku terkesiap saat ikut mendorong ragamu ke ruang jenazah. Kukira, ada petugas yang akan memandikanmu. Ternyata tidak. Sambil menyodorkan sabun, petugas mempersilakan kami memandikanmu, “Pakai selang ini.”

Bengong sejenak, kami langsung bergerak. Bapakmu memimpin dengan sangat tegar. Dewandra, sahabatmu yang menyelesaikan segala urusanmu, cekatan mengguyur jasadmu. Aku dan beberapa teman De Britto (Boneng, Gori, Endi, Andre, Boni) ambil bagian untuk memastikan tubuhmu bersih dan wangi. Termasuk membelikan sabun, celana dalam, dan singlet di luar.

Bagiku, memandikan jenazah bukan pengalaman baru–entah bagi teman-teman. Namun, aku tak menyangka malam itu bakal memandikanmu. Batinku saat menyabuni dan membasuhimu, dari mahkota hingga anusmu, “Pertarungan sudah selesai. Tak ada lagi tagihanku mana bukumu.”

Selesai. Pada ketelanjanganmu aku bercermin, pada akhirnya bukan apa-apa. Kau terbaring tanpa embel-embel. Lencana-lencana pencapaian hidup sudah kau tanggalkan, dan hidup dalam kenangan siapa pun yang mengenalmu. Kau tidak berdaya, bahkan untuk menjangkau telapak kakimu. Kau sudah tiada.

Dalam ketiadaanmu, saat mengenakanmu singlet, hem lengan panjang, jas, celana dalam, celana panjang, ikat pinggang, sarung tangan, kaus kaki, dan sepatu, aku teringat, apa yang kulakukan padamu tak ada apa-apanya dibandingkan yang sudah kau lakukan di dunia fotografi. Kamu sangat tekun mengajari mereka yang bukan siapa-siapa hingga kemudian bisa dan pantas sebagai fotografer. Kamu sangat telaten memantaskan banyak orang. Berkat tangan dinginmu, mereka yang hebat itu dulu juga telanjang.

Kamu keren! Permintaan kami kau turuti, “Ayo, Kris, lemesin jarinya. Pakai kaus tangannya.” Putih, kaus tangan itu membalut kedua tangannya tertelangkup dalam khidmat. “Nunduk dikit, Kris.” Dan jas yang diperkirakan bakal susah dipakaikan itu kamu kenakan cepat.

Bagus Budi Tama Saragih, adikmu, memilihkan celana jins kesayanganmu untuk menemani perjalananmu ke surga. “Pakai ini, Bang, biar makin ganteng,” pintanya. Dan kamu nurut sama adikmu. Dewandra Djelantikmembekalimu sepatu.

Tak ada air mata malam itu. Juga tak ada di matamu. Kita malah ngobrol dan bercanda. Ya, kita. Kami dan kamu. Dengan kata-kata kami mengajakmu bicara. Kami menganggapmu ada. Dan kamu menanggapi dengan caramu. Kamu nggak protes diatur begini-begitu. Kamu maklum, tak seorang pun dari kami berpengalaman sebagai juru rias.

Selamat jalan Kristupa Saragih. Perjuanganmu sudah selesai. Kamu telah memenangi pertandingan. Rayakanlah di surga.

Bali, 10 Juli 2017
@AAKuntoA

#RIPKristupa

Sumber foto dari sini.

Incoming search terms:

  • status fb yang pas saat foto sambil nali sepatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *