Sering Ditolak, Agen Literasi Seperti Agen Asuransi

Teknologi sudah berganti; ada yang sejak zaman itu hanya ingin dan ingin...

Teknologi sudah berganti; ada yang sejak zaman itu hanya ingin dan ingin…

Akhirnya saya tahu persamaan menulis dan asuransi. Lebih spesifik lagi nanti saya ungkap persamaan memasarkan pelatihan menulis dan memasarkan produk asuransi. Kalau boleh disebut sih persamaan agen literasi dan agen asuransi. Nah!

 

Mau menulis tapi tidak sekarang

Sebagai pengajar menulis, saya kerap mendapatkan tanggapan seperti ini:

“Mas, sebenarnya saya pengen belajar menulis. Tapi nggak punya ide dan nggak punya waktu.”

Atas keluhan seperti itu saya sempat menyampaikan begini:

“Ide ada di mana-mana. Hal yang remeh-temeh dalam keseharian pun bisa jadi ide menulis. Tentang waktu? Jika memang tak punya waktu, kan bisa menulis di ponsel sambil menunggu antrean di bank, atau sambil naik grab… bahkan sambil buang air besar!”

Raib. Biasanya setelah saya berbusa-busa, orang yang beralasan tadi entah diam-diam atau pamit akan undur diri. Tentu tak kembali lagi. Mereka kukuh pada keyakinannya bahwa menulis itu sulit.

Di kesempatan lain, jauh waktu sesudah itu, ketika ada orang lain sudah menulis, keinginan menulis muncul lagi. Kalau ketemu selalu mengungkapkan keinginan yang sama, “Mas, sebenarnya aku masih pengen nulis.” Dan saya diam saya. Biarkan keinginan itu terungkap lalu menguap lagi.

Jika orang itu serius, suatu saat, dia akan datang lagi dengan menunjukkan selembar-dua lembar tulisan yang sudah ia mulai. Saat itu ia bertanya, “Bagaimana kelanjutannya?” Barulah saya akan menanggapi dan membantunya di SOLUSIIDE

 

Mau berasuransi tapi tidak sekarang

Demikian juga dengan asuransi. Orang sadar bahwa hidup ini penting. Orang pun sadar bahwa hidup ada risiko. Namun, orang belum tentu mau mengambil keputusan untuk melindungi yang penting dari kemungkinan risiko tersebut.

“Saya mau asuransi tapi tidak punya uang. Besok menunggu kalau sudah punya uang,” adalah jawaban klasik ketika orang ditawari asuransi.

Mumpung masih muda. Polisnya kecil.

“Oh, tidak. Besok saja kalau penghasilanku sudah banyak,” kilahnya lagi.

Dan agen asuransi mundur teratur. Sampai suatu hari, orang yang menolak itu datang. “Saya sakit. Bisa ikut asuransi sekarang?” Tidak bisa. “Meski aku punya uang banyak?” Iya, pakai uangmu untuk berobat. “Ya, tapi tidak cukup.” Tidak bisa.

 

Mereka tahu dan menolak  

Sama, menulis dan asuransi ada kesamaan. Jika orang sadar asuransi ketika sudah sakit, dan perusahaan asuransi ganti menolak pengajuan polisnya, orang juga baru sadar menulis ketika ingatannya sudah berkurang, dan ingatan itu menolak untuk mengingat ide apa yang sudah ditulis.

Ujungnya juga sama. Mereka yang menolak asuransi, ketika mati, tak meninggalkan apa pun untuk ahli warisnya. Begitu juga mereka yang tidak menulis, ketika mati, tak meninggalkan apa pun untuk dikenang ahli warisnya.

 

Namun, sebagaimana agen asuransi yang dikenal gigih mengenalkan asuransi, dan sangat siap dengan seribu penolakan dari seratus orang, sebagai agen literasi pun saya sudah siap menghadapi penolakan-penolakan. Saya tetap gigih menjalankan peran sebagai agen literasi. Saya tetap menyebarkan penawaran agar orang mau belajar menulis. Saya berusaha meyakinkan bahwa menulis adalah investasi untuk masa depan.

Beruntung, di tengah upaya saya belajar tentang penolakan, saya menemukan suatu bisnis yang memungkinkan saya menggabungkan antara peran sebagai agen literasi dan agen asuransi sekaligus, yakni 3i-Networks CARMenariknya, bisnis ini tidak hanya menawarkan keuntungan untuk masa depan melainkan juga untuk saat ini. Sungguh beda dengan skema lain yang hanya memberi imbal keuntungan di masa depan saja. Menariknya lagi, bisnis ini memberikan peluang bukan hanya NABUNG UNTUNG melainkan bisa GRATIS NABUNG.

 

Ternyata mau itu sesederhana ini

Sungguh unik: umumnya menabung itu mengeluarkan uang, namun di bisnis ini menabung sekaligus mendapatkan penghasilan. Caranya juga amat sederhana: hanya mengajak teman menabung. Tabungan itu akan dikelola oleh manajer investasi ke dalam portofolio seperti saham, reksadana saham, reksadana pendapatan tetap, dan obligasi.

Jadi, sekarang saya bisa menulis dengan lebih tenang. Sementara bisnis menulis saya jalan, saya pun bisa mempraktikkan ilmu bercerita untuk menceritakan bisnis asuransi—yang hasilnya lagi-lagi menjadikan saya lebih tenang menjalankan bisnis menulis. Sekaligus, dengan menjalankan bisnis ini, dengan segala penolakan dan cara menembusnya, saya jadi tahu bagaimana mengatasi penolakan dari mereka yang enggan belajar menulis.

Go Crown!

 

Bali, 1 Mei 2017
@AAKuntoA
www.solusiide.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *