Siapa Berkuasa

Jika dituruti, jalanan bikin emosi. Jika dialihkan, emosi bisa jadi energi yang menyehatkan.

Siang terik di perempatan Denggung. Tadi. Gerombolan pemotor berknalpot buntung sedang berhambur dari lapangan kabupaten. Suaranya memekakkan telinga. Aksi mereka pun tak mengundang simpati.

Polisi ditemani pentolan gerombolan sibuk di tengah jalan. Niat mereka mengatur lalu lintas. Macet di mana-mana. Simpang empat itu pun mampat. Mungkin ada yang mengumpat.

Saat sedang gaduh, seorang pengendara berusaha menyerobot jalan. Ibu dan seorang putrinya berusaha menyeberang jalan yang ruwet. Mengenakan helm lengkap, ibu beranak terebut tak sabar mengantri.

Melihat gelagat itu, seorang polisi melangkah mendekati sang ibu. Langkahnya lelah. Polisi itu membentak sang ibu. Ekspresinya menunjukkan itu. Tak terdengar apa isi bentakannya. Yang terlihat, si ibu urung memajukan motornya. Bibirnya meruncing, mau bersuara namun tertahan. Si anak menangis. Entah tak rela ibunya dihardik atau takut pada si polisi… atau sebab yang lain.

Pengendara lain diam saja. Saya juga diam. Situasi terkendali. Hanya polisi yang marah. Pengendara tak turut marah. Semua pasrah.

Ini baik, batin saya. Dalam situasi seperti itu, diam lebih baik. Percuma turut marah-marah. Kemacetan tak akan terurai dengan kemarahan. Salah-salah malah bikin perkara baru. Si polisi ngamuk, umpamanya. Atau dikeroyok gerombolan knalpot.

Saya maklum. Polisi itu hilang akal. Tak beranilah ia menghardik gerombolan knalpot. Walau mereka tak pakai helm, knalpot memekakkan kuping, dan cara mengendara mereka melanggar rambu lalu lintas namun jumlah mereka banyak. Sedangkan pengendara motor, meski jumlahnya banyak, namun mereka sendiri-sendiri. Beranilah pada yang sendiri-sendiri. Walau benar, pengemudi motor itu lebih mungkin dibentak dan disalahkan daripada gerombolan.

Di jalanan, potret itu masih ada. Waras lebih baik daripada beringas…

Dan saya memilih waras. Bagi saya, jalanan adalah tempat ideal melatih kesabaran dan ketenangan. Sesekali saja saya menghardik orang tertentu di jalan, entah pengemudi yang melaju pelan di tengah jalan, pengemudi yang keluar dari gang memasuki jalan raya tanpa menoleh kiri-kanan, atau penyalip yang memakan habis lajur berlawanan. Sesekali saja. Usai menghardik kembali santai seperti sedia.

Klakson selalu saya hindari. Kecuali untuk menyapa, atau hendak menyalib, atau di tikungan tajam, saya enggan menekan klakson. Berisik. Saya sendiri tak suka suara klakson. Pengalaman menunjukkan, klakson nyaris tak pernah mengubah keadaan apa pun. Jalan tidak sekejap lancar berkat klakson.

Terlebih kepada sepeda, becak, dan vespa, saya sama sekali tidak mengklakson. Sepeda dan becak tak akan serta merta ngebut jika saya meneriaki mereka dengan klakson. Mereka akan cuek. Bagaimana dengan vespa? Tidak saya klakson semata alasan primordial: sesama pencinta vespa.

Selow saja. Ya, meski saya paling suka nyopir dengan kecepatan tinggi namun saya lebih memilih bersikap santai. Ngebut tanpa kemrungsung. Cepat tanpa terburu-buru. Jika giliran macet, dan harus berhenti, ya nikmati saja kemacetan itu. Jika memang buru-buru, jalan tikus siap ditembus.

Tanpa sikap seperti ini, jalanan hanya akan jadi ajang menaikkan tekanan darah. Lelah dan tak sehat. Daripada larut dalam nestapa yang merugikan suasana batin, lebih baik menguasai emosi dan tetap lanjutkan hari cerah sebagaimana saya selalu inginkan terjadi.

 

Salam kuasa,

CoachWriter @AAKuntoA

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *