Simpang Bingung

Simpang Bingung, Pekanbaru, urung bikin saya bingung. Justru polisi yang mencegat saya yang bingung.

Siang ini mobil minibus silver yang saya kemudi dicegat polisi. Ada operasi rupanya. Polisi yang gelar operasi. Ah, polisi, operasi apa pula di siang bolong ini?

Menepi, saya buka kaca samping kanan. Tanpa melucuti sabuk keselamatan dan apalagi turun dari kursi kemudi, saya meladeni permintaan polisi itu untuk menunjukkan surat-surat. Lengkap. Ada SIM A, ada STNK.

“Mau ke mana, Pak?” usainya memeriksa surat-surat.

Jalan-jalan, jawab saya sekenanya. Tak mengada-ada, memang saya dan keluarga hanya mau jalan-jalan melongok sosok “simpang bingung” yang disebut-sebut sebagai persimpangan membingungkan saat keluar dari Kota Pekanbaru hendak ke Bengkalis, Dumai, atau kota-kota lain di Riau. Bentuk persimpangan yang meliuk-liuk tak tak beraturan memang membingungkan.

“Iya, tujuan Bapak ke mana?” polisi non lalu-lintas itu mencecarkan pertanyaan.

Memangnya kenapa, Pak? Saya balik bertanya.

“Kami mau memastikan mobil ini bukan travel liar….” kilah brigadir polisi itu.

Waks, saya dikira sopir travel liar. Ups, tapi ini kan tuduhan saya. Tuduhan balik atas tuduhan. Sama-sama menuduh.

Dasar suka iseng, saya tohok balik polisi itu dengan sederet pertanyaan. Apa urusan polisi dengan travel—termasuk travel liar? Apakah ini operasi resmi? “Resmi, Pak. Itu Kapolsek kami.” Ada provoost? “Ada Pak, itu yang pakai baret biru.”

Saat dia bengong sambil mungkin menebak-nebak sedang berhadapan dengan siapa, saya terus menyodorkan pertanyaan. Bertanya saja. Saat merasa bahwa pertanyaan balik saya dijawabnya dengan ragu, saya ucapkan selamat siang sambil kembali melajukan mobil. Ia tak dapat mencegah karena memang tak punya alasan untuk mencegah.

Begitulah. Jalanan telah melatih saya untuk menyesuaikan diri. Termasuk melatih saya memperlakukan polisi yang bertugas di jalanan. Sama-sama orang jalanan, demikian saya memosisikan diri.

Hukum jalanan berlaku. Siapa kuat dia menang. Polisi salah satu pihak kuat itu. Mereka punya kuasa atas jalanan, entah benar atau tidak. Entah benar atau tidak ini yang banyak orang tidak peduli, sekaligus kerap dimanfaatkan oleh mereka yang merasa punya kuasa itu.

Ketidakpedulian itu yang kemudian meruntuhkan semangat kritis untuk mempertanyakan. Seolah, semua operasi polisi di jalan legal. Jika pun legal, apakah tepat? Jika pun tepat, apakah baik? Jika baik, apakah berfaedah?

Di jalan, terlebih sopir, karena larut dalam konsentrasi mengemudi, daya kritis itu acap terlupakan. Fokus perhatian hanya pada objek-objek yang ada di depan dan sesekali di samping atau belakang lewat kaca spion. Dalam bahasa hipnosis, keadaan ini disebut trance.

Pada saat trance, orang kehilangan daya kritis. Secara hipnosis, inilah yang membuat orang mau melakukan apa saja ketika tiba-tiba polisi mencegat. Alam bawah sadar secara super cepat kirim informasi-informasi benar “polisi penegak hukum”, “patuhi rambu-rambu lalu-lintas”, “warga negara yang baik patuh hukum”, dst. Hanya butuh tiga kebenaran universal saja, pengemudi pasti patuh pada apa pun yang diminta polisi “bisa tunjukkan surat-surat?”, “bisa buka bagasi?”, “tahu kesalahan anda?”. Pernah mengalami? Betul kan, anda kehilangan daya kritis pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas itu?

Pada sisi berseberangan, polisi paham betul kondisi psikologis trance tersebut. Merasa diri sebagai penegak hukum, berseragam, berpangkat, berdiri tegak, dan berucap tegas, mereka yakin pengemudi yang dicegat pasti tahu siapa mereka. Rasa diri seperti itulah yang membuat mereka lupa atau sengaja melupakan kewajiban untuk menyebutkan identitas diri mereka sebelum meminta identitas orang lain. Pernahkah anda terjaring operasi dan menemui polisi yang sebelum meminta surat-surat terlebih dulu memperkenalkan nama, pangkat, kesatuan, dan sedang menjalankan operasi apa?

Saat menjalankan operasi, polisi juga mengalami trance dalam pikiran mereka. Rasa berkuasa menjaketi mereka dari sikap profesional yang sewajarnya. Dalam keyakinan mereka, setiap pengemudi yang dicegat pasti patuh.

Tidak dengan saya. Walau selalu melengkapi diri dengan SIM, STNK, dan KTP, dan patuh pada rambu-rambu yang wajib dipatuhi, jika sedang ada waktu luang alias tidak terburu-buru, saya kerap menghardikkan jurus-jurus anti-trance. Sederhana saya: memberondong polisi dengan pertanyaan demi pertanyaan.

Di Simpang Bingung mereka bingung…

 

Salam bertanya,

@AAKuntoA | aakuntoa@solusiide.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *