Situs Korban Disrupsi

Memasuki kawasan Candi Muara Jambi, imajinasi saya melayang jauh ke depan. Suatu ketika, generasi masa depan akan mendapati kampus-kampus megah seperti almamater saya Universitas Gadjah Mada dan SMA Kolese de Britto tertimbun tanah lalu di atasnya tumbuh ilalang, hutan bambu, atau malah jadi lahan parkir suatu pusat perbelanjaan dan hiburan kelas mega.

Universitas dan sekolah punah? Pada saatnya akan begitu. Sekarang saja tanda-tanda sudah ada. Perguruan dasar, menengah, dan tinggi mulai ditempatkan untuk peran formalisasi pendidikan. Sementara pendidikan itu sendiri makin mudah diakses dan dikuasai secara leluasa berkat internet. Belajar tidak lagi bermakna sempit menguasai ilmu tertentu dan meraih gelar. Belajar juga sekaligus berbagi dan memproduksi pengetahuan.

Dan tak perlu sentimentil dengan pembelaan genit, “Nggak mungkin menimpa kampusku. Kampusku kan peringkat atas dunia….”

Memasuki kawasan Candi Muara Jambi, tempo hari, saya dihadapkan pada kaca benggala, betapa apa pun yang pernah dibesarkan akan mengecil, apa yang pernah ditinggikan akan tenggelam, dan apa yang pernah diciptakan akan lenyap.

Seperti candi yang ditengarai berdiri dan eksis pada abad 7-12 M di tepian Sungai Batanghari ini. Kawasan ini disebut-sebut sebagai kompleks universitas terbesar pertama di Nusantara. Bahkan di dunia, sebab pembelajar dari berbagai negara pun berlayar dan mendarat di kampus seluas 17,5 kilometer persegi dan terdiri dari sekira 82 candi dan reruntuhan candi secara tersebar (Kompas.com).

Oleh zaman ia terdisrupsi.

Oleh zaman pula apa yang sekarang berjaya akan terdisrupsi. Jika sanggup menyesuaikan akan berubah bentuk dan selamat. Jika tidak akan lumat.

Supaya tidak, mau tidak mau, berubah sesuaikan zaman. Nah, di perjalanan ke dan dari Candi Muara Jambi, saya mendengarkan cerita bagaimana teman saya Oenang Satya bersiasat menyelamatkan diri dari gelombang perubahan zaman.

Teman SMA yang lulusan teknik sipil UAJY ini meninggalkan bisnis yang bertautan dengan konstruksi karena terkena disrupsi. Sebagai distributor gypsum, jalurnya digunting teknologi. Pabrik langsung berjualan ke konsumen akhir secara daring.

Asem. Tentu saja ia jengah. Namun ia tak mau menggunakan politik balas budi: “Masa pabrik tidak ingat siapa dulu yang membukakan pasar.” Ia bisa menerima keputusan pabrik untuk memotong rantai distribusi. Teknologi memungkinkan, konsumen pun menginginkan.

Hmmm, saat ia bercerita tentang sikapnya ini, dalam hati saya bertanya, sebagai “distributor ilmu”, apa yang sudah disiapkan kampus supaya selamat dari guntingan rantai distribusi? Ketika masyarakat bisa mengakses langsung penulis teori, dan mengunduh utuh, untuk apa mesti membayar pengecer slide presentasi?

Oenang keluar dari sengkarut perdebatan ini. Disrupsi bisnis ia manfaatkan sebagai pemantik “destruksi diri”. Ia rusak citra yang sudah melekat pada dirinya sebagai pebisnis gypsum, ia bakar kartu nama dan larung abunya, lalu ia mengarungi lautan dan membangun citra baru sebagai pengusaha jasa pariwisata dan perjalanan.

Mengarungi lautan itu metaforik yang denotatif; perumpamaan yang nyata. Ia pindahkan keluarganya ke Batam, Kepulauan Riau, lalu ia bangun usaha dari sana: mendatangkan wisatawan ke Jambi.

Dari caranya menceritakan apa saja destinasi wisata di Jambi yang belum tergarap, plus gagasan-gagasan konseptualnya bagaimana berjejaring dengan instansi pemerintah, saya merasa ia cakap memasuki bisnis barunya. Siapa tahu, ketika bisnisnya menggurita kelak, ada wisatawan yang mengajukan pertanyaan, “Ini situs apa, Pak?”

Jawab Oenang enteng, “Bukan situs. Ini reruntuhan pabrik gypsum.”

@AAKuntoA | 27042019

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *