Studi Bahasa Alay

Bahasa Media Maya sebagai Kekuatan Transformasi Masyarakat Muda: Studi Bahasa Alay

Oleh AA Kunto A, praktisi media dan pemerhati youth culture. Alamat korespondensi: aakuntoa@solusiide.com

ABSTRAK Kemajuan teknologi komunikasi berupa telepon selular dan internet menghadirkan fenomena bahasa alay di kalangan orang muda. Selain menjadi fenomena bahasa, kehadiran bahasa alay juga menarik bagi kajian sosial. Muncul pertanyaan, apakah bahasa ini memiliki kekuatan transformasi bagi masyarakat, atau sekadar menjadi penanda pengakuan identitas pelakunya. Berbeda dengan bahasa gaul dan bahasa “walikan” yang memiliki pola pembentukan kata dan frasa, bahasa alay tidak.

KATA KUNCI transformasi masyarakat, bahasa alay, siasat identitas

  1. 1.      Pengantar

Orang muda selalu jadi sorotan. Pada mereka, tampaknya ada beban sejarah untuk memikul perubahan. Orang muda adalah pelaku perubahan, yang sekaligus sedang berubah. Agen perubahan sekaligus pesan perubahan itu sendiri.

Dalam hal berbahasa, demikian pula potretnya. Orang muda kerap tidak bisa dimengerti akibat cara berbahasa yang berbeda. Mereka lazim dituding sebagai perusak bahasa. Jika ada bencana komunikasi, vonis tanpa sidang langsung menghukum mereka.

Bagi masyarakat bahasa, bencana komunikasi itu kini hadir dalam rupa bahasa alay. Badainya bergemuruh di media maya, yakni SMS (short message service), BBM (blackberry messenger) dan situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Linked In, dll. Bahasa tulis tersebut kerap muncul dalam status “Dinding: Apa yang Anda pikirkan?”, “Komentari”, atau judul pada “Pesan Baru”.

Beberapa contoh bahasa alay yakni:

 

 

(Sing sabar ae yo Dul. Orang sabar disayang mbek setan.)

Alay 1 : “DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aL!n akYu ya B3!bh..!!” (Duh, guwe sayang banget sama lo… Jangan tinggalin aku ya Beib!)

Alay 2 : “km mugh kog gag pernach ngabwarin aq lagee seech? kmuw maseeh saiangs sama aq gag seech sebenernywa?” (Kamu kok nggak pernah ngabarin aku lagi sih? Kamu masih sayang sama aku nggak sih sebenarnya?)

Alay 3 : “Ouh mY 9oD..!! kYknY4w c gW k3ReNz 48ee5h d3ch..!!” (Oh my God! Kayaknya cewek/cowok guwe keren abis deh)

Tulisan ini mencoba memotret sebagian wajah bahasa alay tersebut, mencermatinya, memberinya catatan, dan menyajikan ke permukaan dalam bentuk pertanyaan apakah bahasa orang muda ini benar-benar sebuah bencana komunikasi, pelaku transformasi masyarakat, atau sekadar pesta laron di awal musim penghujan. Tidak terkhusus membidik orang muda Yogyakarta, mengingat dalam media maya, khususnya Facebook, tidak relevan mengkarantina orang muda Yogyakarta dari lingkaran orang muda yang bukan Yogyakarta. Selain orang muda pemilik akun tidak selalu menyebutkan kota tempatnya tinggal, yakni Yogyakarta, dalam hal berbahasa, tidak tampak adanya tanda yang menunjukkan pembeda Yogyakarta-bukan-Yogyakarta.

 

  1. 2.      Media Maya dan Bahasa Alay

2.1        Alay

Alay kependekan dari Anak LAYangan.  Ada yang menyebut Anak LebAY. Ada juga yang menyebut Anak keLAYapan. Apa pun itu, alay merujuk pada pengertian tentang anak-anak yang semau sendiri, semau gue, tidak mau diatur, dan berperilaku sok; sok manis, sok keren, sok cute. Mereka menempatkan diri sebagai generasi baru produk digitalisasi teknologi dalam budaya pop (pop culture).

Penulis tidak menemukan rujukan yang terang tentang stempel alay yang dilekatkan pada generasi muda permulaan abad 21 ini. Meski begitu, kiranya tidak perlu menyandung hasrat untuk mendekati mereka. Justru tulisan ini hendak menelusur jejak kehadiran mereka lewat identifikasi diri dan kelompoknya di arus utama zaman.

Sedikit menyentil, kegelisahan tentang hadirnya generasi alay ini tidak hanya menghinggapi kita. Jepang juga dihampiri wabah serupa. Sebagian orang muda di sana belakangan bertingkah merombak tatanan berbahasa yang sudah baku. Huruf Kanji, contohnya, yang lazim ditulis dari atas ke bawah, mereka selonjorkan seenak hati layaknya penulisan huruf Latin. Tentu saja, hanya kalangan mereka sendiri yang bisa membaca teks tersebut.

 

2.2 KBBA: Kamus Besar Bahasa Alay

Bahasa alay bisa didekati dari beberapa ciri berikut ini. Satu, huruf dan angka digabungkan menjadi satu. Kedua, kata dasar diperpanjang atau diperpendek dengan pengubahan. Ketiga, huruf kapital dan kecil divariasikan sedemikian rupa membentuk kata dan kalimat.

Meski mengandung ciri-ciri seperti di atas, namun semangat ketidakpastian sangat kental di kalangan pengguna bahasa ini. Berbeda dengan bahasa “walikan” khas Jogja yang memasang-seberangkan susunan huruf Jawa ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la dengan ma-ga-ba-tha-nga-pa-dha-ja-ya-nya, bahasa alay tidak memiliki kaidah itu. Setiap pengguna bisa dengan leluasa menciptakan rumusan kata seturut selera. Penerima pesan dituntut untuk nekad menyeberangi makna yang terkandung di dalam pesan tersebut.

Salah satu kenekadan yang bisa ditangkap adalah upaya pembuatan kamus bahasa alay berikut ini.

Contoh huruf/angka alay:

A: @,4
E: 3
F: pH
G: 9,6
I:1
M :| \/|
N: |\|
O: 0
Q: kyuu
S: z,sHh
U: iuu
V:  \/
W: \/\/
X: ekss,
Y: iie

Contoh kata alay:

  • gue: W, Wa, Q, Qu, G
  • aku: Akyu, Akuwh, Akku, q.
  • lo/kamu: U
  • rumah: Humz, Hozz
  • aja: Ja, Ajj
  • yang: Iank/Iang, Eank/Eang/IiaNk/IIanG (ada juga yang iiank/iiang)
  • tuh: TuWh, Tuch
  • deh: Dech, DeYh
  • sempat: S4
  • lucu: LuTHu, UcHUl, LucHUw
  • khusus: KhuZZuz
  • kalian: KlianZ
  • belum: Lom, Lum
  • capai: Cppe, Cpeg
  • kan: Khan, KanT, KanZ
  • manis: ManiEZt, ManIEs
  • cakep: Ckepp
  • keren: KrenZ, KreNt
  • dulu: DulUw
  • chat: C8
  • tempat: T4
  • add: Et, Ett
  • banget: BanGeDH, Beud, BeuT
  • telepon: Tilp
  • ini: IniYh, Nc
  • boleh: Leh
  • baru: Ru
  • ya/iya: YupZ, Ia, IupZ
  • kok: koQ, KuQ, Kog, Kug
  • nih: Niyh, Niech, Nieyh
  • [tertawa]: wkwkwk, xixixi, haghaghag, w.k.k.k.k.k., wkowkowkwo
  • nggak: Gga, Gax, Gag, Gz
  • hai: Ui
  • SMS: ZMZ, XMX, MZ
  • [mengeluh]: HuFFt
  • kurang: KraNg, KraNk
  • tau: Taw, Tawh, Tw
  • maaf: Mu’uv, MuupZ, MuuV
  • sorry: CowWYy, SoWRy
  • siapa: Sppa, Cppa, Cpa, Spa
  • kakak: Kakagg
  • lagi: Ghiy, Ghiey, Gi
  • apa: Pa, PPa
  • tapi: tPi
  • kenal: Nal
  • buat: Wat, wAd
  • cewek: CwekZ
  • cowok: CwokZ
  • bokep: Bokebb
  • sih: SieCh, Sieyh, CiyH
  • misalnya: misalna, misal’a, misal.a, mslx
  • imut: ImoETz, MutZ
  • loh: Loch, Lochkz, Lochx
  • gitu: Gtw, Gitchu, Gituw
  • salam: Lam
  • karena/Soalnya: Coz, Cz
  • masuk: Suk, Mzuk, Mzug, Mzugg
  • punya: Pya, P’y
  • pasti: Pzt
  • anak: Nax, Anx, Naq (ko-naq?)
  • cuekin: Cuxin
  • curhat: Cvrht
  • main: Men
  • paling: Plink, P’ling
  • love: Luph, Luff, Loupz, Louphh
  • makan: Mumz, Mamz
  • yuk: Yuq, Yuqz, Yukz
  • terus: Rus, Tyuz, Tyz
  • tiap: Tyap
  • dong: Dumz, Dum (apa Dumolit?)
  • reply: Repp (ini yang paling sering ditemukan di dunia maya)
  • halo: Alow (menurut kalian, apakah kita teletubbies?)
  • sayang: Saiank, Saiang
  • kalau: Kaluw, Klw, Low (oh maann…)
  • setiap: Styp
  • lupa: Lupz
  • udah: Dagh
  • kamu: Kamuh, Kamyu, Qmu, Kamuwh

Sedangkan, berikut ini contoh frasa/kalimat alay:

  • QmO dLaM iDopQhO (kamu dalam hidupku..)
  • q tWo……………… (aku tau……)
  • qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo…………. (kamu memang sulit buat sayang sama aku…)
  • tPhE qMo pLu tHwO„„„ (tapi kamu perlu tau….)
  • mY LuPi”………… (my love, cintaku)
  • aLwaYs 4’U…………… (always for you, cuman buat kamu)
  • cO’nA cMa qMo YaNk Co WaD qHo cYuM………… (soalnya cuma kamu yang cowo buat aku senyum)
  • k’tHwA„„„„„„„ (ketawa…)
  • cNeNk…………….. (senang)
  • tHanKz b’4„„„„„„ (thanks before, terima kasih sebelumnya)
  • yOz aLaWAiCe d bEzT……………. (you always the best, kamu selalu yang terbaik)
  • iN meYe heArD„„„„„„, (in my heart, dalam hatiku)
  • LupHz yOu„„„„„„, (love you, sayang kamu)
  • bU_bU„„„„„„(bubu, tidur)
  • I’m ReGrEeEeeEEeeEet nOw……………. (I am regret now, aku menyesal sekarang)
  • naFaZ„„„„„„„„ (napas)
  • bNcHi qOh nGmBAnK………………. (benci aku ngambang)
  • hOeKkkKKk…………….. (sound effect muntah)
  • nPhA jDe gnE????????? ?????? (mengapa jadi begini?)
  • i dOn’t LiKe tHaT………….. (I don’t like that, aku tidak suka itu)
  • qOh g Mo iDoP dLAM kmNfqAn………. (aku tidak mau hidup dalam kemunafikan)
  • tHiZ iZ buLLsHiT!!!! !!!!!!! (this is bullshit!, ini semua omong kosong)
  • cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa……. (sayang kamu tuh sakitnya…)
  • m_tHa apOn YoH……………… (minta ampun ya…)
  • qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo………. (aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu…)
  • bUD„„„„„„„„„ , (but, tetapi…)
  • i tHinK…………….. (aku pikir…)
  • anDeE…………………. (andaiii…)
  • adJA g2 dRe wAL…………….. (aja gitu dari awal)
  • qTaH gAg mKeN dIEM”aN gNe tOh???!?@??@ ?@??@@?@? (kita ga mungkin diem
    dieman gini tho’?)

 

Atas dasar itu, di Facebook sampai muncul kategorisasi seperti ini (dikutip sesuai aslinya):

ALAY JENIS 1 : SOK EKSIS DI FACEBO*K
e.g :
- haii,namaq aiiu ( ayu maksudnya ) , quwtinggal dii dkeeet mumphunk ( mampang maksudnya ) quw niie tmenndna kakag kaoo sii mhilaa , lam knall ya , oiyawh , aq single lowh . kaloo kmuu minadd maoo xmxx aq , xmx quuw jaa dii 0816598652 , quwwtunggu yaachh !!

. aiiu-chann . XoXoo !

HOEK

ALAY JENIS 2 : SOK ANAK SELATAN

- sumpahh dechh knapa ciih jakaltaa – tluthamaa yang dii daerahh thebedds * tebet kaleeeee * – mceedds sanggaddss !! betexx tw gag sichh !! phadahal niaddna maoo nongkrowngs di diestroww baroe .. resexx thau gak !! , boeat kwannd kwannd iangg merasakann hall iangg smaa , diiiLIKE yaii statuskhuw !! — ma’chellaaa.anag.slataan.bgeedds –

ALAY JENIS 3 : SOK JAGOAN

- njenx bgedds iaaa thu perebuddh phacarkhuw!memanx dasaar cwegg gathell.murahannbetts siih low?gag lakuu iaa emankk?? phack iuuu !! * F*ck you kaleee *

ALAY JENIS 4 : ALAY BARU PERNAH JADIAN

- beiibbhskuw chayaanx!kuuw chaiang kalii ma kmuuwh , cnenxz beuudh niiy arii bsaa ktmuuw kmuwhh!!!!cmogaaa qtaa bsaa slamanaaa blsamaaa …..

nathaacwamiikuwww-loubhe-chaaaduuds..20072009tilltheendophtaimm..lophelophe phorepherr ..

ALAY JENIS 5 : SOK PENCINTA MUSIK

- yammpoeeenn !!!! mank PUNKROCKZ iang plingg qrennd dexx!kuww stiap klii dgerr setresskuuw ilanxxss. nadaana ndaax monotonn , tempoona aseeksabissshh .idoep punkrock !! -naaaluphpunkrocxss-

DAN YANG PALING BARU : yang paling membuat perut orang terkocook…

jengjengjengjenggg !!!
ALAY JENIS 6 : *which is menurut g yang terparah ! *
SOK CINTA KOREEA ! NAJONG ..

- annyouungghaceooooo , chintaa dciinii sangaddss cintaaxxkalii maa guujunnnpiooooo .. inginndkalii bertemuuu gujunnpioku saiaaanggksss .. boeat semua pencintaaa gujhunpioo , nontoonn yaaa di indoos*arrr jam 6 !! hlii nii epichod telakhiirrr , huxhiksss .. akann sgaddsss merindukann guuw-jhunn-piooooo …… saranggheeeiiooooo gu jun piooo oppaaaaa XDXDXDXD * [I]tidak lupa : ++ diatmbahin kanji2x korea darii google translate supaya terlihat jago erbahasa koreaaa ( ini bagian paling nasty !

- [/i]** phlomm : gnech loph gu junn phyookuuw cyankksss .

 

2.3 Pola Bahasa Alay

Bahasa alay juga berpola. Meski terlihat sesuka hati, namun siapa saja yang menulis alay pasti mengikuti pola tertentu. Maka, menarik jika kita membandingkan bahasa alay dengan bahasa gaul, yang acap disebut sebagai bahasa bencong juga, dan bahasa “walikan” berikut.

Bahasa gaul:

Akika = Aku
Begindang = Begitu
Belalang = Beli
Belenjong = Belanja
Beranak Dalam Kubur = Berak
Cacamarica = Cari
Cucok = Cocok
Cumi = Cium
Capcus = Pergi
Diana = Dia
Endaaaaaaaaaang = Enak
Eike = Aku
Ember = Emang
Gilingan = G1la
Hamidah = Hamil
Hima Layang = Hilang
Jali-Jali = Jalan-Jalan
Jayus = joke-garing
Jijay Markijay = Jijik
Kanua = Kamu
Kawilarang = kimpoi
Kesindaaaang = Kesini
Kemindang = Kemana
Kencana = Kencing
Kepelong = Kepala
Kesandro = Kesana
Krejong = Kerja
Lambreta = Lambat
Lapangan Bola = Lapar
Lekong = Laki-laki
Maharani = Mahal
Makarena = Makan
Maluku = Malu
Mandole = Mandi
Mataram = Mati
Mawar = Mau
Merekah = Marah
Metong = Mati
Minangan = Minum
Motorola = Motor
Mukadima = Muka
Mursida = Murah
Nanda = Nanti
Naspro = Nasi
Organ = Orang
Organ Tunggal = Orang Tua
Pere = Perempuan
Pertiwi = Perut
Piur = Pergi
Rambutan = Rambut
Sastra = Satu
Sekong = Sakit
Sepong = Siapa
Sirkuit = Sedikit
Soraya Perucha = Sakit Perut
Tinta = Tidak
Titi DJ = Hati-hati di jalan
EGPCC= emang gw pikirin cuih cuih…
SDMB=sori dori mori bow
Akikah lapangan bola = aku lapar bo’
LUPUS = Lupain Pacar Utamakan Selingkuh
panasonic = panas
pecongan = pacaran

Bandingkan lagi dengan bahasa “walikan” ini.

Panyu = aku

Nyothe = kowe, kamu

Poya = ora, tidak

Tene = gede

Pahiny = apik, baik, bagus

Dab = mas

Dasuny = mabuk

Hongibi = polisi

Setelah diteliti, dibandingkan dengan bahasa gaul dan walikan, contohnya, bahasa alay juga menggendong “cacat wicara”. Pada bahasa gaul dan walikan, antara teks asli dan terjemah tampak sekali bukan saja perbedaan penulisannya, melainkan juga cara pengucapannya. Tidak perlu berkerut alis untuk mengeja kata hingga meraba makna. Dengan sedikit kerja keras di awal, yakni mencermati pola penyusunannya, mudah sekali ditemukan makna pada kata atau frasa bentukan baru.

Itu sebabnya pola bahasa alay mudah sekali mengusir orang untuk batal mengenalinya. Sedemikian menjengkelkan, sampai muncul akun khusus di Facebook “Say No to Alay”. Seperti diungkapkan beberapa status pengikut, tidak semua mereka sama sekali membenci kehadiran bahasa alay. Mereka jijik ketika bahasa alay hadir secara berlebihan.

 

 

 

 

2.4 Bahasa Alay dan Transformasi Masyarakat

Terlalu sempit menempatkan bahasa hanya sebagai alat komunikasi. Terlalu memiskinkan bahasa jika tujuan berkomunikasi pun sekadar pesan berterima di antara pengirim dan penerima informasi.

Bahasa punya peradaban yang jauh lebih luas dari itu. Bahasa adalah ruang berada.

Catatan-catatan di muka membawa kita kepada pertanyaan akankah terjadi transformasi masyarakat berkat kemeriahan bahasa alay? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dulu perlu dihadirkan pengertian dari transformasi masyarakat.

Menurut Ralp Tunner dan Lewis M. Killin (Narwoko dan Bagong, 2006), transformasi masyarakat mensyaratkan kolektivitas yang bertindak terus-menerus guna meningkatkan perubahan dalam masyarakat atau kelompok. Sedangkan menurut Piotr Sztompka (2008), perubahan sosial harus mempunyai struktur, baik ketat maupun longgar, yang dapat dilihat (sel, individu), yang tergabung dalam unit-unit yang lebih kompleks (organ, institusi) dan dipersatukan oleh jaringan hubungan tertentu (anatomi organik, ikatan sosial).

Merunut dari pengertian tersebut, dan membenturkan dengan fakta-fakta yang diulas, transformasi masyarakat masih jauh panggang dari api. Penggunaan bahasa alay di kalangan orang muda belum memenuhi syarat-syarat terjadinya transformasi masyarakat. Tren bahasa ini belum berlangsung terus-menerus, serta tidak diikat oleh jaringan hubungan tertentu. Pula, kalau ada efeknya, tidak menyentuh wilayah dasar sesuatu yang bersifat transformatif, yakni perubahan dalam masyarakat atau kelompok.

Meminjam analisis Ariel Heryanto (1996) tentang bahasa plesetan, bahasa alay juga bisa dimengerti masih sebatas siasat untuk mengekspresikan kejengkelan, ketidakpercayaan, dan frustrasi masyarakat terhadap kekuasaan. Dalam hal ini, masyarakat adalah orang muda, sedangkan kekuasaan adalah arus utama berbahasa, yakni bahasa Indonesia.

Bahasa alay muncul di kalangan orang muda sebagai ekspresi pemberontakan mereka atas kaidah berbahasa yang sedemikian membelenggu. Belenggu bahasa ini sangat mengerangkeng “takdir” mereka sebagai orang muda yang sedang berubah, sedang mencari bentuk, sedang mendefinisikan jati diri. Usia muda adalah rentang dinamis untuk merumuskan identitas, yang tidak lagi kanak-kanak, namun belum juga dewasa, termasuk dalam hal berbahasa. Maka, dalam berbahasa pun, mereka mencoba-coba sesuatu yang berbeda, menjungkirbalikkan tatanan yang sudah berlaku. Mereka tidak lagi hormat pada apa yang disebut sebagai baku, baik, dan benarnya bahasa. Semangat mereka sederhana saja, bermain-main.

Semangat bermain-main tersebut persis melawan apa yang digagas Michel Foucault (1972). Menurut pemikir posmodernisme ini, kendati manusia menguasai bahasa tidak berarti ia bebas mengekspresikan apa saja yang ia kehendaki. Bahasa, baginya, mengendalikan manusia. Nah, orang-orang muda di atas mematahkannya secara telak. Ternyata, bahasa tidak menghalangi hasrat berekspresi. Secara bermain-main, dan ternyata berterima di kalangannya, mereka mengacak-acak norma berbahasa, melawan penjajahan bahasa. Ruwet, tanda bentuk, namun menyenangkan. Tidak masuk dalam pertimbangan mereka dampak penyimpangan bahasa tersebut.

Meski bermain-main, ada yang khawatir akan keberadaannya. Dalam wawancara dengan Gatra (2010), Ketua Program Studi Indonesia Universitas Indonesia, Maria Josephine Mantik, menyatakan kegelisahannya terhadap fenomena bahasa alay. Ujarnya, “Bahasa Indonesia yang baik dan benar pun jadi korbannya dan kalau mau menggunakan bahasa Indonesia total saja. Jangan dicampur dengan bahasa rekaan sendiri atas nama bahasa gaul.”

Saat ini, tambah Maria, pengetahuan kaum muda, termasuk mahasiswa dalam penggunaan bahasa Indonesia sangat minim, ini diketahui saat mereka membuat makalah atau presentasi. Banyak mahasiswa yang tidak mengerti penggunaan tata bahasa Indonesia karena kerap  menggunakan bahasa “alay” dalam percakapan sehari-hari. Menurutnya, sebagai identitas bangsa, bahasa Indonesia tidak patut digerus oleh hadirnya teknologi komunikasi, sekalipun sekadar atas dasar pergaulan.

Eros Jarot dalam tulisannya di Kompas (2000), politisi yang juga seniman, pun turut resah atas meluasnya kecenderungan orang berbahasa secara asal-asalan tanpa memikirkan dampaknya. Eros menyoroti fenomena berbahasa kaum elit. Dalam konteks ini, jika dihubungkan, keacakadulan berbahasa orang muda tidak lain merupakan bantulan dari perilaku kaum dewasa yang tidak bisa memberi contoh bagaimana sebaiknya berbahasa yang santun.

Pertanyaannya, apakah bahasa alay ini mampu hadir sebagai kekuatan transformasi masyarakat? Merunut uraian di depan, terlalu terburu-buru untuk mengiyakan. Perangkat yang dimiliki bahasa alay belum cukup berotot untuk menyodorkan perubahan sosial. Fenomena ini baru sebatas menyuguhkan realitas baru, yang kesesaatannya belum teruji waktu. Bisa saja kehadiran bahasa alay ini hanya semusim jagung yang bakal rontok oleh hujan deras pembaruan teknologi komunikasi. Begitu teknologi komunikasi baru mencuat, lenyap sudah keberadaannya.

Pisau analisis lain berkenaan dengan pelaku. Bahasa alay muncul dari kelas menengah, orang muda yang sangat lekat dengan fasilitas teknologi, yang mencuat di antara 25 juta pengguna Facebook (2010) di Indonesia, yang sekadar tampil sebagai bentuk keinginan untuk diakui keberadaannya; sedangkan bahasa gaul dan walikan menyembul sebagai wujud perlawanan kaum bawah, yakni preman dan banci, yang muak diinjak represi penguasa Orde Baru di tahun 1970-an. Sampai sekarang bahasa gaul dan walikan masih “laku”, meski zaman tak lagi represif.

Bahasa gaul dan walikan dirancang untuk gerakan bawah tanah, dengan semangat kerahasiaan yang tinggi lewat kode-kode yang hanya dimengerti kalangan mereka, agar perjuangan mereka tidak terendus penegak hukum; sedangkan bahasa alay justru ditampilkan supaya keberadaan mereka diketahui –tanpa perjuangan apa pun.

 

  1. 3.      Penutup

Zaman bergerak. Orang muda terdesak. Teknologi komunikasi merangsang orang muda untuk memainkan perannya dalam pergerakan zaman. Lewat bahasa alay, orang muda menyatakan identitasnya, menyeruak di antara arus utama bahasa Indonesia. Kesesaatannya masih diuji, apakah bahasa ini mampu bernafas panjang mengantarkan masyarakat kepada perubahan, atau lenyap dengan sendirinya tergulung perubahan teknologi yang berlari-lari ini.

 

Daftar Pustaka

 

Foucault, Michel . 1980. Power/Knowledge: Selected Interviews & Other Writings. 1972-1977. New York: Pantheon Books.

Latif, Yudi dan Ibrahim, Idy Subandi. 1996. Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Bandung: Mizan.

Narwoko, J. Dwi,  dan Bagong Suyanto. 2006. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.

Sztompka, Piotr. 2008. Sosiologi Perubahan Sosial,  Terj. Jakarta: Prenada.

 

Kompas, 16 Juni 2000

Gatra, 10 Oktober 2010

http://www.blogotainmen.com/perbendaharaan-kata-alay

http://mudjiarahardjo.com/artikel/100-bahasa-dan-transformasi-sosial.html

 

 

BIODATA:

AA Kunto A, Ketua Divisi Kerjasama Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Daerah Istimewa Yogyakarta. Menempuh pendidikan menengah di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Sosiologi di Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Menjalani karir jurnalistik sejak SMA, yakni sebagai wartawan di Harian Bernas, Majalah Basis, Majalah Utusan, dan Majalah Marketing. Di industri perbukuan, ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Penerbit Galangpress untuk kemudian mendirikan penerbit sendiri, yakni Wanajati Chakra Renjana dan Solusi Ide. Selain menulis dan menyunting sejumlah buku, ia juga menulis artikel di berbagai media massa.

 

 

Incoming search terms:

  • pertanyaan tentang bahasa alay
  • pertanyaan untuk bahasa alay

2 Comments

Add Yours
    • 2
      AA Kunto A

      Halo Wen,

      Gimana kalau hasil risetmu ditulis dengan bahasa alay? Jadi membacanya perlu enkripsi hehe. Setelah Munir, sudah siap karya apa lagi? Selamat studi yo…

      Salam,
      @AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *