Sudah Berbenah

Kereta api ini beranjak tepat waktu pukul 18.30 WIB. Senja baru saja menepi. Perlahan, kereta melaju ke barat, mengejar matahari yang belum lama membenamkan diri.

Saya pun segera membenamkan diri di kursi nomor 10D. Petugas tiket memberi saya tempat duduk sesuai pesanan, “Di tengah mepet jendela ya, Mas.” Memilih mepet jendela supaya bisa menyandarkan kepala saat mengantuk nanti.

Ini perjalanan berkereta saya sejak lebih dari dua tahun lalu. Sebuah acara mengundang saya ke Jakarta. Tak memburu waktu, saya memilih naik kereta. Dan kereta yang saya pilih adalah kereta favorit saya: Senja Utama Yogyakarta. Nama yang sederhana sekaligus puitis: senja. Telah lama saya merindukannya. Padahal, dulu, kereta kelas bisnis ini kerap saya tunggangi untuk pulang kampung. Murah, nyaman.

Secara penampilan, tak tampak perubahan. Tubuh kereta masih berselimut cat putih berbalut strip biru. Tempat duduk masih sama, sandarannya bisa dibalik arah. Jendela juga sama, bagian atas bisa disingkap ke atas. Bagasi di atas jendela menjulur dari depan ke belakang, berupa jejeran pipa menyerupai jemuran handuk.

Adem. Ini yang berbeda. Rupanya, kini kereta bertarif Rp 200.000 sekali jalan ini berpendingin udara. Tiga pasang AC “rumah” yang saling membelakangi, menggantung di atas selasar, mendinginkan gerbong yang jika penuh bermuatan 64 penumpang ini. Malam ini berisi separonya saja. Tak ada yang ndlosor di gang. Patut diduga, pada akhir pekan, arus utama penumpang meninggalkan Jakarta. Sedangkan saya menujunya. Karena pertimbangan ini pula saya baru pesan tiket beberapa jam sebelum kereta jengkar.

Saya duduk sendiri. Sebelah saya kosong. Saat beberapa penumpang naik dari Stasiun Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak satu pun singgah menduduki. Juga, saat kereta mampir di Stasiun Kroya, tak seorang pun datang menghampiri. Tepat pukul 21.00 wib, kereta melambat di Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah. Luar biasa! Sebelum ini, dalam pengalaman saya, waktu tempuh ke stasiun ini dari atau ke Yogyakarta paling cepat tiga jam. Malam ini hanya 2,5 jam. Sangat tak bisa dibandingkan dengan jika mengendarai mobil sendiri atau naik bus, menempuh empat jam perjalanan sudah beruntung.

Tanda-tanda menyenangkan semakin saya rasakan. Kali ini kereta melaju begitu cepat, nyaris tak menyisakan keheningan untuk berbincang-bincang dengan sebelah. Tak mengapa, toh memang tak ada yang bisa diajak ngobrol. Lagi pula, waktu tempuh itu terasa cepat karena saya tetap bisa beraktivitas mengetik dengan laptop. Secara offline, karena modem Smartfren yang saya pakai, tak mampu merawat sinyal sepanjang Kutoarjo-Kebumen. Dua colokan (stop kontak) yang terpasang rapi di bawah tatakan minum menjamin laptop saya tak bakal kelaparan setrum.

“Bang, sampai Jakarta jam berapa ya?”

Seseorang mengalihkan konsentrasi saya. Lelaki yang duduk di kiri seberang saya itu bertanya secara serius. Ia tadi datang bertiga dengan teman-temannya. Dari lagaknya, tebak saya, ia tidak terbiasa bepergian ke Jakarta membonceng kereta api.

Saya, yang lebih dari dua tahun tak naik kereta ke Jakarta, menjawab dengan mimik serius, “Biasanya sih 04.30 sampai di Jakarta sudah bagus.” Lelaki itu mengangguk sambil mengucap terima kasih. Ia kabari teman-teman lainnya. Ia menelpon, mungkin menyepakati janji dengan penjemput. Mungkin.

Esoknya, ternyata informasi saya keliru. Saya telah “sok tahu”. Segera saya meminta maaf kepada lelaki berperawakan seniman (rambut gondrong dikuncir, kaos hitam, mengusung bingkai dan sarung gitar) yang tidak tidur tersebut ketika menjelang pukul tiga dinihari kereta melambat di Stasiun Bekasi. Ups, saya salah besar. Kereta tiba tepat waktu, seperti janji di karcis.

Jadilah saya nongkrong di warung padang di depan Stasiun Senen, akhir dari perjalanan malam ini. Masih terlalu pagi untuk menjemput bus pertama yang beranjak dari terminal yang hanya di depan stasiun. Usai sarapan dan minum teh manis panas, saya mandi di “toilet umum”. Rp 2.000 ongkos menukar kesegaran. Di Stasiun Hall, Bandung, ada tempat yang lebih layak untuk mandi di dalam stasiun. Jasa ini disediakan oleh tenant swasta. Ongkosnya Rp 20.000: dipinjami paket mandi dan disediakan minum. Ruang tunggunya pun nyaman dan bersih.

 

Budaya perusahaan

Sejenak saya membayangkan sosok Ignanius Jonan. Direktur Utama PT KAI itu kerap disebut-sebut di media mengotaki perubahan budaya di jajarannya. Saya merangkumnya demikian. Ketepatan waktu, yang saya rasakan ini, wujud dari perubahan budaya.

Banyak yang berubah dalam tubuh BUMN perkeretaapian Indonesia tersebut. Bagi saya yang dulu kerap sekali nebeng berkereta, pengalaman malam ini begitu mengesan. Ketepatan waktu salah satunya. Ketika kereta berhenti di Stasiun Purwokerto, petugas stasiun mengumumkan lewat pengeras suara, kereta akan berangkat kembali dalam tiga menit. Para perokok yang terjebak di ruang antiasap pun bergegas keluar untuk memantik api. Dan benar, menjelang menit ketiga yang saya hitung, petugas sudah mengumumkan bahwa kereta akan kembali melaju. Dulu tak ada informasi sejelas ini.

Pun, kini, tak ada pengasong dan pengamen yang nyelonong masuk menjajakan dagangan. Perhentian di stasiun kini begitu hening. Di luar pun tak ada pengasong yang menyodorkan nasi+telor ke bibir jendela.

Baiklah, zaman bergerak–seperti judul buku Takeshi Siraisi An Age of Motion. PT KAI memilih untuk berbenah, memutuskan untuk memoles diri. Di luar kegundahan saya akan beberapa hal yang hilang—termasuk bergantinya wajah peron stasiun dengan hadirnya minimarket berjejaring dan kafe modern seiring lenyapnya pedagang tradisional—perubahan saya rasakan sebagai pertanggungjawaban perusahaan plat merah ini supaya bisa bertahan di tengah persaingan bisnis yang kian ketat. Hanya penumpang dengan tiket yang bernama sama dengan identitas diri yang boleh menembus pintu masuk. Pengantar tak boleh lagi mengucap salam perpisahan hingga tepian rel.

Saya mengapresiasi perubahan yang lebih baik. Malam ini saya merasakan pelayanan yang lebih ramah. Kondektur, sambil memeriksa karcis ditemani Polsuska (polisi khusus kereta api), menitipkan pesan pada saya dan tetangga di seberang, “Mohon barang-barang berharga dijaga sendiri ya, Pak.”

Tertib, walau sejatinya saya gundah. Saya merasa kehilangan sesuatu.

Dulu, pengasong adalah penolong sekaligus penanda. Saat lapar, semua jenis makanan mereka jajakan. Tak pernahlah saya bawa bekal. Semua makanan, terutama untuk makan malam, tersedia di atas kereta: hangat dan murah. Nyaris tak pernah saya beli makanan yang dijajakan petugas restorasi. Di Stasiun Cirebon saya biasa membeli nasi bungkus.

Pengasong adalah juga penanda. Logat bicara dan jenis barang dagangan sangat jelas mengabarkan perjalanan sudah sampai di mana. Logat ngapak-ngapak menandakan perjalanan sedang sampai di seputaran Banyumas. Mereka biasa menawarkan nopia, kue bulat berkulit keras seperti bakpia. Penjual “telor asin” mengabarkan bahwa kereta sedang menyibak Brebes, selangkah sebelum menyeberang Jawa Barat. Penyapu sampah mengirimkan sinyal bahwa sebentar lagi sampai Jakarta!

 

Salam,

@AAKuntoA

http://solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *