Pengangkut Harapan

Cinta tanah air itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Orang gila yang sanggup mewujudkannya.

Sambil mengucapkan terima kasih kepada Bli @MadeAndi atas undangannya, saya tuliskan catatan ini. Bahwa Rabu, 30 April 2014, saya menghadiri “Entrepreneurship Talk bersama CEO of Susi Air” di Teknik Geodesi dan Geomatika Fakultas Teknik UGM. Duduk di baris kedua dari depan, bersebelahan dengan Mbak Listiya—alumni Geodesi yang kini bekerja di grup Susi Air, saya dan 250-an hadirin antusias menyimak cerita Susi Pudjiastuti, pembicara tunggal yang adalah CEO Susi Air dimaksud. Selanjutnya saya sebut beliau Ibu Susi.

Mahasiswa-mahasiswa saya sedang sibuk jadi penghelat acara (event organizer) pameran pangan dan komputer di Jogja Expo Center (JEC), sedang yang lainnya kuliah atau sibuk dengan bisnisnya, sehingga saya datang seorang diri. Seorang diri pula tampaknya saya sebagai pendengar yang datang dari “luar teknik”. Sebagian besar adalah mahasiswa teknik yang berminat mengetahui sepak terjang salah satu perusahaan di dalam grup Susi Air, yakni Geosurvey, “The Airborne LiDAR Company”. Tentang perusahaan penginderaan ini silakan telusuri di sumber-sumber informasi lain.

Saya akan cerita tentang pemetaan versi saya, yakni pemetaan atas sosok Ibu Susi beserta pemikiran dan tindakannya. Saya berminat memodel secara NLP (Neuro-Linguistic Programming) sosoknya supaya bisa menularkan kepada mahasiswa saya yang kini sedang bertaklim menjadi pengusaha. Ya, sudah saatnya Indonesia memiliki banyak sosok gila seperti Ibu Susi ini.

Pertama, melihat yang tak orang lain lihat. Saat saya mengacungkan tangan dan diberi waktu bertanya, ini pertanyaan saya yang saya lontarkan. Apa yang ada di kepala Ibu Susi sehingga terbersit ide menerbangkan bisnis-bisnisnya. Untuk sedikit mengingat, Ibu Susi yang drop out dari SMA 1 Yogyakarta ini memutuskan berjualan di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Saat berjualan itu, ia melihat bahwa potensi laut selatan Jawa begitu berlimpah. Ikan-ikannya segar.

Kedua, jalankan bisnis berkelanjutan. Tegas ia tekankan, “Saya ini pengusaha yang aktivis.” Ibu Susi mengaku sangat mencintai lingkungan. Bisnis yang ia dirikan selalu ia pijakkan dari semangat ini. Bisnis ikan lobster, contohnya, ia tekuni karena bisnis ini berkelanjutan. Ikan bisa dibudidayakaan. Ia menolak berbisnis yang sekadar mendapatkan uang tapi merusak alam. Penambangan, misalnya, tak ia lirik. Ada prinsip menarik yang ia kemukakan: dirikan bisnis yang berkelanjutan, bukan projek yang berkelanjutan. Plak! Saya merasakan ungkapan ini tamparan yang sangat membilukan pipi dan membakar kuping. Dengan kepekaan hati, tak perlu menuding sana-sini, kita tahu ke mana arah sorotan Ibu Susi.

Yang keren, melalui lontaran ini, terkuaklah ide gilanya. Supaya bisa bersaing di pasar ekspor, lobster yang ia budidayakan mesti terangkut cepat ke pemesan. Semakin cepat kesegarannya terjaga. Bagi pecinta ikan, kesegaran inilah yang membuat mereka mau menebus mahal.

Namun, faktanya, ketika itu, pengangkutan ikan dari Pangandaran ke Jakarta hanya bisa melalui darat. Itu pun butuh 12 jam. Sampai di sini, bagaimana mau memenangi persaingan? Ibu Susi putar otak. Terpercik di pikirannya untuk mengangkut ikan dengan pesawat. Ups, bukankah mahal? Betul, memang mahal. Dan inilah rahasia kegilaannya. Ia punya perhitungan sehingga dengan volume dan frekuensi tertentu, pengangkutan mahal ini tidak akan membangkrutkan. Di sini, ia bisa menghitung yang orang lain tak ketemu angkanya.

Ketiga, ia berbisnis nasionalisme. Saat ini, Susi Air Group mempekerjakan sekira 1.000 karyawan, 250 di antaranya pekerja asing. Kebanyakan pilot. Sedangkan di manajemen hampir semua orang domestik. Kenapa Ibu Susi mempekerjakan orang asing? Di mana nasionalismenya? Mestinya kan ia mengutamakan warga negara sendiri?

“Di Susi Air, salah satu tugas pilot adalah ngosek WC pesawat. Pilot Indonesia mau? Tugas lain adalah pick up bagasi. Pilot Indonesia mau? Di beberapa bandara, jangan bayangkan bahwa di sana akan dilayani. Pilot juga mesti angkut sendiri bahan bakar pesawat. Pilot Indonesia mau?” gugat Ibu Susi. Ia bercerita, Susi Air menerapkan pengelolaan yang efisien. Karena efisien itulah bisnis bisa berkembang. Dan ini soal mental. Lalu saya jadi ingat, pilot-pilot komersial kita bahkan berinteraksi dengan penumpang saja tidak ya? Mereka sembunyi di kokpit.

Faktor lain, ungkapnya, lulus dari sekolah penerbang, pilot-pilot kita langsung direkrut oleh maskapai-maskapai besar. Sudah jumlah sedikit, habis sudah mereka. Alhasil, kritik Ibu Susi, “Industri penerbangan kita lakukan kanibalisme. Trainer-trainer penerbangan mereka rekrut sebagai pilot. Lalu calon pilot diajar oleh pengajar yang sudah tua, yang berjalan saja sudah susah, yang terakhir terbang 12 tahun lalu. Apa jadinya pilot kita?” Untuk itulah Ibu Susi sedang mengurus izin mendirikan sekolah pilot. Di awal akan menggunakan pengajar asing. Namun, itu ia lakukan supaya lahir banyak pilot dari negeri sendiri.

Keempat, Susi Air adalah pengangkut harapan. Komentar saya ketika mendapatkan kesempatan bertanya, “Menurut saya, jika Garuda Indonesia dan Lior Air adalah pengangkut penumpang, Susi Air adalah pengakut harapan.” Sontak hadirin bertepuk tangan. Tak berlebih, ini juga wujud tepuk tangan saya untuk Bu Susi, yang saat saya ucapkan ini ia tersenyum.

Apa latar komentar saya? Dalam presentasinya, Ibu Susi tampilkan peta penerbangan yang ditempuh Susi Air. Dengan konsentrasi utama di Papua, Susi Air menyinggahi 168 destinasi di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah ini jauh di atas destinasi Garuda Indonesia dan Lion Air, yang masing-masing tak lebih dari 50 destinasi. Destinasi itu menunjukkan bagaimana Susi Air menyinggahi daerah-daerah yang selama ini belum teterbangi dan terdarati. Ketika Merpati Nusantara bangkrut, padahal sebagai maskapai perintis beroleh subsidi dari pemerintah, Susi Air yang tanpa subsidi malah terus memperbanyak armadanya hingga kini memiliki 49 pesawat. Semua pesawat baru.

Bagi saya, ketika maskapai-maskapai besar, lebih tertarik menggarap destinasi yang sudah jelas potensi bisnisnya, yang sudah pasti okupansi penumpangnya tinggi, yang jelas-jelas menguntungkan, Susi Air memilih keluar dari kerumuman. Mereka betul-betul menjadi maskapai perintis di daerah-daerah yang bahkan dilirik saja tidak. Membayangkan menjadi warga di pedalaman Papua, Susi Air sungguh-sungguh menjadi pengangkut harapan. Susi Air memungkinkan mobilisasi manusia dan komoditas bergerak leluasa sehingga bukan saja perekonomian bertumbuh, harapan hidup pun mekar. Secara lebih emosional, saya membayangkan warga-warga di pelosok-pelosok berujar, “Berkat Susi Air, kami merasa menjadi bagian dari Republik Indonesia.” Berlebihankah saya?

Bisnis di awang-awang yang sangat membumi. Ini simpulan saya. Ibu Susi menunjukkan keteladanan bagaimana berbisnis yang cinta tanah air. Ia budidaya produk laut, jelajahi langit-langit nusantara, dan selalu mendarat di bumi Indonesia.

Mas Andi, terima kasih atas undangannya ya. Istimewa sekali…

Bu Susi, terima kasih atas inspirasi Ibu. Membanggakan…

Salam nusantara,

@AAKuntoA

 

 

Incoming search terms:

  • anything

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *