Blog

Akal Sehat, Kritisi Aturan

Benar dulu baru mengatur

Benar dulu baru mengatur

Satu-satunya prinsip yang saya pegang ketika berkendara di jalan adalah “utamakan keselamatan”. Keselamatan saya, keselamatan orang lain.

Bagaimana dengan rambu-rambu? Tidak semua saya patuhi. Akal sehat lebih saya kedepankan. Seperti pada tengah malam seperti ini. Umumnya persimpangan jalan sudah sepi. Jika aman, lampu merah saya terabas.

Menolak Bodoh

Ruangan itu saya tinggalkan begitu saja. Gerah rasanya berada di sana. Bukan karena pendingin udara tak bekerja selayaknya. Sama sekali bukan. Bincangan di dalamnyalah yang jadi sebab.

Pagi itu hari pertama sebuah pelatihan menulis. Peserta dosen-dosen dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Pembicaranya dosen dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Pembicara satu lagi peneliti dari sebuah lembaga penelitian milik pemerintah di Jakarta. Tajuk acaranya lebih kurang tentang “menyusun proposal penelitian”.

Tampak mentereng namun tak sedikit pun memantik api penasaran saya. Entah kenapa, sejak lama saya tak pernah antusias dengan model penelitian a la planet akademis. Nyinyir, ya?

Menurut pendapat saya, meneliti dan menulis itu mengemukakan gagasan. Mimbar akademik adalah pijakan utama, yakni bahwa proses dan hasil karya tersebut menampakkan semangat kebebasan berpikir dan berpendapat. Terhormat sekali sejatinya.

Kenapa?

Saya sedang belajar bertanya. Bukan untuk mencari jawaban, dan apalagi kepuasan. Bukan pula untuk mengafirmasi jawaban yang saya […]