Blog

Kabar Wartawan

Apa kabar pers arus utama? Bagaimana media mengawal demokratisasi? Masih menjadi pilar keempatkah? Apa saja yang terbuka dilakukan media massa dalam membangun optimisme hidup berbangsa?

Saat ini saya sedang tergabung dalam sebuah tim alih kelola (take over) sebuah perusahaan surat kabar. Masih negosiasi. Jika nanti pembicaraan pengelola lama dan calon pengelola baru sampai di titik sepakat, saya mendapat tugas masuk di tim redaksi. Kembali menjadi wartawan. Kembali ke dunia olah berita yang saya masuki 21 tahun lalu dan saya tinggalkan 12 tahun sesudahnya.

Zaman sudah berubah. Kehidupan bermedia sudah bukan monopoli pers arus utama. Media sosial salah satu pengubahnya. Setiap orang bisa jadi penyampai berita. Setiap orang bisa seketika menanggapi berita yang sampai di tangannya. Berita telah turun kasta sebagai kabar ketika informasi begitu mudah disebar tanpa filter-filter akurasi, kebenaran, dan kemanfaatan yang lazim dijunjung di jurnalisme.

Banyak wartawan yang terseret tsunami perubahan ini. Rezim kecepatan melemparkan banyak wartawan kepada cara kerja asal-asalan: asal kutip, asal tulis, asal tayang. Bertangkup pula mereka dengan pembaca yang turut asal-asalan: asal baca, asal komentar, asal menyebarkan. Tak banyak wartawan yang sanggup bertahan ketika kinerja mereka semata diukur dari berapa banyak pembaca meng-klik tautan berita mereka, berapa banyak pembaca membagi (to share) tautan mereka di media sosial. Rating jadi tolok ukur di mana-mana.

Berhenti Menonton

Hirup kebaikan. Hembus racun.

Ini hari kesepuluh saya tak lagi menonton teve merah itu. Oh, menonton sebentar saat Jerman menaklukkan Argentina 1-0 di menit-menit terakhir perpanjangan waktu final Piala Dunia, Senin, 21 Juli 2014 dinihari waktu Rio De Janeira, Brasil.

Tepatnya sejak sore usai coblosan pemilihan presiden, Rabu Wage, 9 Juli 2014, saya menyatakan tak lagi menonton teve milik pengusaha yang ketua partai politik itu. Saya tidak mau memakan sampah. Saya tidak mau mencium anyir. Saya tidak mau menelan racun. Keputusan saya ini saya tabuhkan secara ringan selayaknya teman-teman yang seringan itu memutuskan berhenti merokok. Ya, kalau mau berhenti merokok ya berhenti saja. Tidak usah berencana gaduh-gaduh atau datang ke saya minta dihipnoterapi. Berhenti merokok saja pakai hipnoterapi…