Blog

Mengapa Menulis Perlu Undur Diri?

170131 Undur DiriSetiap #tulisan menyimpan cerita. Cerita yang terutama adalah tentang penulisnya. Ya, di balik tulisan apa pun ada pergulatan #penulis. Jika kemudian terhidang tulisan lezat di layar bacamu, bisa jadi tulisan itu diolah dari dapur yang berantakan, yang kokinya berpeluh keringat dan bau kecut.

Maka, banyak penulis yang tak mengizinkan dapurnya dimasuki. Mereka tak mau bumbu-bumbu rahasianya terkuak. Mereka takut resepnya dijiplak. Atau, mereka malu ketahuan jorok. Jaim, jaga image.

Jaga Film di Kepala, Nggak Nonton “Warkop DKI Reborn”

Film Warkop DKI Reborn

Peristiwa terjadi sekali di dunia. Peristiwa lahir berkali-kali di kepala. Masihkah mau melahirkan lagi peristiwa yang sudah mendunia?

Walau dikabarkan terlaris sepanjang masa, film WARKOP DKI REBORN tidak masuk dalam daftar film yang harus saya tonton. Bukan karena tidak suka atau karena film ini jelek. Tidak. Ada alasan lain.

Berani Berjarak dengan Diri Sendiri

Berani Berjarak dari Diri Sendiri

Bertemu Romo Bagyo SJ, 10 Februari 2015

Menilai diri sendiri, ternyata, tak lebih mudah dibandingkan menilai orang lain.

Siang itu pulang sekolah. Berjalan dengan kruk penyangga, saya menuju ke pastoran. Sesuai janji, saya hendak menghadap Rektor Kolese de Britto, Romo Y Subagyo SJ, untuk menempuh ujian susulan. Dua bulan saya mangkir dari sekolah gara-gara tersungkur di jalan raya, terbaring di rumah sakit, dan menjalani pemulihan kaki yang patah di rumah.

Itu Januari 1994. Minggu-minggu awal saya tempuh untuk melunasi ujian semester ganjil yang bolong. Juga ulangan harian yang nihil nilai. Berkat bantuan Pak Kristanto, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, saya diizinkan untuk menempuh ujian susulan. Kepada setiap guru mata pelajaran, saya harus menghadap sendiri untuk meminta waktu menempuh ujian susulan tersebut. Salah satunya menghadap Romo Bagyo—begitu kami memanggil beliau—untuk menempuh ujian “agama katolik”.

Tanggalkan Gelar Jika Tak Mampu Menulis Benar

Benar, gelar dan jabatan tak selalu mencerminkan isi kepala—apalagi isi hati.

Lebih dari setahun saya mengampu redaksi sebuah koran. Sesebentar itu pula saya menyiapkan portalnya. Sekaligus, ya menyelamatkan edisi cetak—yang sudah “senjakala” menurut seorang redaktur koran ibu kota—ya mengibarkan medium barunya.

Secara khusus, selain menjadi pemimpin redaksi, saya mengasuh rubrik inspirasi. Rubrik ini berisi esai-esai para penulis dengan semangat menggugah sesuatu, mencerahkan, dan oleh karenanya disajikan ringan. Beberapa bulan belakangan, karena redaktur pengampunya pensiun, saya didapuk menggantikan mengelola rubrik opini di halaman dalam. Oh ya, karena semangatnya, rubrik inspirasi ditampilkan di halaman depan, di atas berita utama.

Tanggalkan gelar jika tak mampu menulis benarSebelum ini saya adalah penulis opini di media massa. Saat menulis, dan mengirimkan ke redaksi media massa, yang ada dalam benak saya adalah selera redakturnya. Maka penting bagi saya mengenali redaktur media massa demi memastikan tulisan saya dimuat. Mengenali berarti memahami topik apa yang paling besar peluangnya dimuat, gaya bahasa seperti apa yang disukai, serta pantangan apa yang diemohi.

Setuju Hukuman Fisik

setuju hukuman fisikSaya setuju jika guru boleh memberi hukuman fisik. Ya, sesetuju guru juga boleh memberi pujian fisik.

Kalau apa-apa nggak boleh ada fisiknya, ya raga anak nggak boleh ikut ke sekolah. Biar jiwanya saja yang gentayangan ikut pelajaran di kelas.

Kenapa takut dengan hukuman fisik? Kenapa hukuman fisik selalu dilabel sebagai tindak kekerasan berujung kriminalisasi?