Blog

Merek Kampung Halaman

Siapa sanggup membendung arus mudik? Dari tahun ke tahun, arus ini makin kuat. Jumlah pemudik selalu meningkat. Hiruk-pikuk pemberitaan seputar arus mudik pun nyaris tidak pernah ada jeda. Perhatian hampir semua orang di Indonesia mengerucut pada perjalanan menuju kampung halaman ini.

Dari kacamata bisnis, kita bisa membaca, magnet bernama “kampung halaman” begitu memikat. Sebagai merek, ekuitasnya sangat kuat. Sebegitu kuatnya, seolah tiada kekuatan apa pun yang mampu membelokkan, alih-alih mementalkan. Macet, berdesak-desakan, tiket mahal, dan capek tidak menghalangi perjalanan menuju kampung halaman.

Saya pernah larut dalam barisan pemudik. Dua kali saya tempuh perjalanan darat, menaiki sepeda motor, dari ibu kota, pulang ke kampung halaman. Belasan jam di atas sadel tidak terasa. Hanya rindu yang membasuh dahaga.

Membidik Pemudik

Semilir hawa Lebaran sudah berhembus. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambutnya. Jalan-jalan diperbaiki. Transportasi ditambahi. Kanal komunikasi dibenahi. Maklum, Lebaran sudah menjadi hari besar nasional milik semua masyarakat. Mudik, tradisi yang menandai Lebaran, sudah meritual sedemikian rapi dan mengakar.

Diperkirakan, 17.393.016 jiwa akan memenuhi jalur-jalur mudik nasional. Jogja adalah salah satu tujuan mudik terbesar selain Jawa Timur dan Jawa Tengah. Secara ekonomi, arus mudik selalu berimbas pada perputaran uang yang sedemikian besar. Pemudik selalu identik dengan pembelanja.