Blog

Menjadi Penonton #Ngayogjazz2012

Bertemu Kuncoro Kuncung di arena #Ngayogjazz2012, Minggu, 18 November 2012, berhamburanlah gojekan kere ini. Secara berseloroh namun serius, kami sepakat, “Hal yang tidak kita suka dari menonton pertunjukan di Jogja adalah bertemu terlalu banyak orang yang kita kenal.” Syahdan, lebih banyak bertegur sapa, dan ngobrol, ketimbang bertafakur menyimak pertunjukan secara khusuk.

Kuncoro Kuncung, seorang aktivis pertanian organik di Sleman itu terkekeh. Badannya yang kerempeng sejak saya kenal di zaman kuliah, jenggotnya yang memerah seperti rambut jagung, memancing tawa saya lebih lebar. Sudah lama saya tak bertemu dengannya. Terakhir, kami bertemu di upacara perkabungan almarhum Edi “Wedhus” Tanto, dedengkot pertanian alami yang layu akibat terlalu kerap cuci darah.

Sejenak kami tertawa bersama Garin Nugroho. Ia baru datang saat sore menjelang. Mungkin karena udara yang cukup dingin akibat mendung berkepanjangan usai guyuran hujan deras, sutradara #Soegija itu berdiri sambil menggembol tangan kanannya di saku celana. Jaket coklat yang “itu-itu saja” dikenakannya tanpa dikancingkan. Saya merogoh sakunya, memaksanya berjabat tangan. Sudah lama pula saya tak bersua dengan sutradara yang beranak dan bermenantu sutradara itu. Terakhir kami ngobrol di joglo rumahnya di Jogja soal buku “sejarah film” yang sedang disusunnya. Saya dan Dyna Herlina, penggiat film yang penulis dan dosen, diundang membantunya membesut gagasan itu. Sayang, naskah itu kusut, tak berlanjut hingga kini. Atau semoga sudah terbit tanpa saya tahu. Jika toh belum terbit, saya menuduh, Garin sedang menunggu satu babak dalam hidupnya yang akan penting dicantumkan di dalam buku, yakni menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah–entah jadi atau tidak pencalonan itu. Alangkah kasar tuduhan saya.