Blog

Tanggalkan Gelar Jika Tak Mampu Menulis Benar

Benar, gelar dan jabatan tak selalu mencerminkan isi kepala—apalagi isi hati.

Lebih dari setahun saya mengampu redaksi sebuah koran. Sesebentar itu pula saya menyiapkan portalnya. Sekaligus, ya menyelamatkan edisi cetak—yang sudah “senjakala” menurut seorang redaktur koran ibu kota—ya mengibarkan medium barunya.

Secara khusus, selain menjadi pemimpin redaksi, saya mengasuh rubrik inspirasi. Rubrik ini berisi esai-esai para penulis dengan semangat menggugah sesuatu, mencerahkan, dan oleh karenanya disajikan ringan. Beberapa bulan belakangan, karena redaktur pengampunya pensiun, saya didapuk menggantikan mengelola rubrik opini di halaman dalam. Oh ya, karena semangatnya, rubrik inspirasi ditampilkan di halaman depan, di atas berita utama.

Tanggalkan gelar jika tak mampu menulis benarSebelum ini saya adalah penulis opini di media massa. Saat menulis, dan mengirimkan ke redaksi media massa, yang ada dalam benak saya adalah selera redakturnya. Maka penting bagi saya mengenali redaktur media massa demi memastikan tulisan saya dimuat. Mengenali berarti memahami topik apa yang paling besar peluangnya dimuat, gaya bahasa seperti apa yang disukai, serta pantangan apa yang diemohi.

Balik Nama

Facebook menghalang-halangi saya. Saya nggak bisa lagi masuk ke akun saya sebagai “CoachWriter Kunto”. Saatnya sudah tiba. Seperti […]

Pensiunan Hore

Tak sengaja ketemu Pak Bernadus Widiyanto di peturasan ruang tunggu Bandara Adisucipto Yogyakarta, semalam. Mak jegagik! Kami sama-sama […]

Daur Kata

Sering terdengar keluhan dengan nada minor, “Saya kehabisan ide, Mas.” Ketimbang melanjutkan mendengarkan keluhan yang bukan keluhan saya, […]

Kelola Pengetahuan

IMG_20160619_210011Pagi ini saya ada pekerjaan di Semarang. Sebuah BUMN meminta saya meng-capture sosok dan kinerja seorang karyawan. Sebentar lagi karyawan itu pensiun. Ilmu berharganya perlu diturunkan kepada pengganti-penggantinya dalam rupa buku.

Mengingat Mas Handoko Wignjowargo sedang kesripahan adik kandungnya, Mas Yoyok, saya berangkat lebih awal supaya bisa melayat. Dan semalam saya tiba di rumah duka Tiong Hoa Ie Wan ketika acara hari itu sudah selesai. Tamu sedang makan malam, dan satu per satu pulang.

Beruntung saya datang malam. Bisa ngobrol panjang dengan Mas Han. Walau sedang berduka, Mas Han tak larut dalam obrolan seputar kematian. Kakak kelas 13 tahun di atas saya di SMA Kolese De Britto ini tak pernah kehabisan cerita. Ada saja kisah seru yang menjadikan obrolan semakin hangat dan seru. Di rumah duka ia pun berbagi suka.