Blog

Suara Hati

Tak mudah menjatuhkan pilihan. Apalagi jika pertimbangannya ideologi.

Pagi ini saya memutuskan untuk menggunakan hak politik sebagai warga negara: mencoblos. Ini Pemilu legislatif ke sekian yang saya ikuti, setelah pernah golput-idelogis di penghujung pemerintahan Orde Baru. Sama, pada pemilu kali ini pun sejatinya saya juga dirundung kegalauan. Tak mudah menusukkan pilihan yang sesuai.

Sampai dengan pagi ini, saya masih menimbang-nimbang. Hati saya belum sinkron dengan nalar. Panggilan dan penolakan hinggap seiring. Baru satu calon legislator (caleg) yang saya kantongi namanya. Kepadanya saya beri mandat mewakili rakyat di DPR RI. Sudah teruji kiprah politiknya. Saya sudah merekam  sepak terjangnya di berbagai bidang. Saya mendengarkan sungguh-sungguh penilaian teman-teman tentang sosok ini. Saya pun menyimak betul pemikiran yang ia tulis dalam kampanye berupa poster artikel. Saya mendengarkan bisikan hati untuk menitipkan kepercayaan padanya.

Muke Lu Jauh

Tahun 2014 ini kita memasuki yang disebut “tahun politik”. Magnet politik seakan begitu kuat menyedot perhatian kita semua. Tiada jeda untuk pembicaraan di luar itu. Jika pun ada jeda langsung diseret-seret ke politik.

Syahdunya, politik yang diagung-agungkan saat ini adalah politik awang-awang. Jauh citra dari pencitraan. Disparitas kenyataan terhadap harapan begitu lebar. Melompat ke seberang tak punya daya, bertahan pun sudah berjinjit di pelupuk jurang. Mungkin hanya rahmat yang bisa menyelamatkan.