Blog

Jatah Bolos: Cerdas di Luar Kelas

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Jika tidak di kelas, kita belajar di mana?

Sayang sekali, saya kenal bolos baru ketika kuliah. Saat itu musim demonstrasi. Tak afdol rasanya jadi mahasiswa sospol tak ikut turun ke jalan. Lagi pula kelas juga kerap kosong karena dosen banyak ngajar di seminar-seminar. Dosen sospol kalau nggak terbang ke sana-sini kredibilitasnya diragukan.

Sebelum kuliah, tak ada bolos. Satu-satunya rekor bolos ketika kelas satu SMA: dua bulan! Itu pun karena tergolek sakit usai terjungkal di jalan raya.

Dari cerita-cerita mereka, saya jadi tahu, di luar kelas ada banyak pelajaran. Lebih dari itu, dari mereka, wajah sekolah yang menggembirakan itu terpancar.

Berani Berjarak dengan Diri Sendiri

Berani Berjarak dari Diri Sendiri

Bertemu Romo Bagyo SJ, 10 Februari 2015

Menilai diri sendiri, ternyata, tak lebih mudah dibandingkan menilai orang lain.

Siang itu pulang sekolah. Berjalan dengan kruk penyangga, saya menuju ke pastoran. Sesuai janji, saya hendak menghadap Rektor Kolese de Britto, Romo Y Subagyo SJ, untuk menempuh ujian susulan. Dua bulan saya mangkir dari sekolah gara-gara tersungkur di jalan raya, terbaring di rumah sakit, dan menjalani pemulihan kaki yang patah di rumah.

Itu Januari 1994. Minggu-minggu awal saya tempuh untuk melunasi ujian semester ganjil yang bolong. Juga ulangan harian yang nihil nilai. Berkat bantuan Pak Kristanto, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, saya diizinkan untuk menempuh ujian susulan. Kepada setiap guru mata pelajaran, saya harus menghadap sendiri untuk meminta waktu menempuh ujian susulan tersebut. Salah satunya menghadap Romo Bagyo—begitu kami memanggil beliau—untuk menempuh ujian “agama katolik”.

Setuju Hukuman Fisik

setuju hukuman fisikSaya setuju jika guru boleh memberi hukuman fisik. Ya, sesetuju guru juga boleh memberi pujian fisik.

Kalau apa-apa nggak boleh ada fisiknya, ya raga anak nggak boleh ikut ke sekolah. Biar jiwanya saja yang gentayangan ikut pelajaran di kelas.

Kenapa takut dengan hukuman fisik? Kenapa hukuman fisik selalu dilabel sebagai tindak kekerasan berujung kriminalisasi?

Pensiunan Hore

Tak sengaja ketemu Pak Bernadus Widiyanto di peturasan ruang tunggu Bandara Adisucipto Yogyakarta, semalam. Mak jegagik! Kami sama-sama […]

Tanya Kenapa

Malu bertanya sesat di jalan. Tak bisa bertanya tak tahu jalan sesat.

Di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini, saya ingin menghardik ruang imajinasi kita tentang “bertanya”. Sudahkah kita bertanya? Masih bisakah kita bertanya? Kita bertanya tentang apa saja?

Serta-merta, saya sodorkan dulu tujuan penulisan catatan ini: hapuskan Ujian Nasional (UN)! Tak perlu bertele-panjang alasan, semata karena lewat UN, pendidikan kita tak mendidik siswa bertanya. UN hanya mengizinkan siswa menjawab. Pun menjawab sesuai pilihan yang tersedia.

UN tak hanya mengerdilkan siswa, melainkan meniadakan kehadiran siswa sebagai pribadi yang luhur: manusia berakal-budi. Jahat sekali!