Blog

Celana Dalam

Bercelana dalam, kami diminta lari ke lapangan. Nyawa belum terkumpul di subuh yang masih gulita. Tidur baru saja pulas di atas lembaran koran di kelas yang tak berpintu tak berjendela. Dingin tak terkatakan untuk kami yang biasa berkemul selimut di kamar yang tertutup rapat.

Di lapangan, kami disuruh bergulung-gulung di atas rumput yang sedang deras diguyur embun. Tubuh kami lengket oleh rumput yang terlindas. Gelap. Tak saling kami lihat empunya kawan. Milik sendiri saja tak tampak.

Belum tuntas tubuh ini menggigil, satu per satu kami dipanggil maju. Segayung air diguyurkan di kepala kami. Selangkah ke kanan sehelai kain merah dan putih dijulurkan ke wajah kami. Kami pun mencium bendera kebangsaan itu dengan syahdu.

Incoming search terms:

  • kolese de britto di mata saya

Guru Samino

Samino, Mister Yes! Yes, Berdikari! Foto: Kelik Broto

Begitu ingat bahwa hari ini Hari Guru, saya bersegera menulis. Sebagian besar guru berkesan bagi saya. Kesan kagum, tentu saja. Kagum akan kesederhanaan mereka, kagum tentang keteguhan hati mereka, kagum akan kebijaksanaan mereka. Beberapa sudah saya tulis di blog ini. Dan saya tak pernah bosan untuk menulis tentang mereka. Guru, inspirasi yang tak pernah kering.

Kali ini, saya ingin menulis tentang salah satu sosok guru yang fenomenal. Namanya Samino. Ia guru mata pelajaran Sejarah di SMA Kolese de Britto. Masih hidup, dan semoga panjang usia.

Samino guru yang bersahaja. Penampilannya tipikal guru-guru sekolah pedesaan yang kerap ditayangkan televisi Jakarta: berbaju batik, kadang safari, celana kain, dan bersepeda motor “CB” (Honda). Rambut ikalnya mulai menipis. Botaknya makin melebar. Selebar itu ia hadir di hati saya, juga di hati teman-teman yang pernah diajarnya.

“Isih melu uwong, Le?” Masih bekerja ikut orang, Le? Ini pertanyaan latah yang kerap ia lontarkan jika kami bertandang di rumahnya, 1 km sebelah barat Candi Prambanan, Kalasan. Jika jawabannya “ya”, ia akan menghardik, “Isih dadi batur yen ngono?” Masih jadi pesuruh!

Di matanya, kartu nama kami, dengan embel-embel jabatan supervisor, manajer, bahkan direktur, tidaklah membuatnya kagum. Pamer apa pun di depannya tiada berguna. “Lehmu entuk duit seka ngendi kuwi?” cecarnya jika kami pamer gaji atau kekayaan. Selagi masih diperoleh dengan cara bekerja sebagai karyawan, di matanya nilai kami masih 6.

Bagi Samino, profil murid yang ia kagumi adalah mereka yang berani mandiri. Wiraswasta!