Blog

Bebas Subsidi

Apakah betul kita selalu butuh subsidi? Bisakah kita hidup tanpa subsidi? Catatan perjalanan saya ini menghadirkan perspektif lain tentang subsidi.

Sehari setelah pemerintah umumkan kenaikan harga BBM, saya tiba di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sepi, tidak ada gejolak apa pun sejak saya meninggalkan Bandara Tambolaka menuju Sumba Tengah. Siang itu pompa bensin tutup. Penjual bensin eceran berderet di sepanjang kiri dan kanan pompa bensin. Seliter Rp 20.000, naik Rp 5.000 dari hari sebelumnya. Padahal, NTT adalah provinsi termiskin di Indonesia, dan Sumba termiskin di NTT.

Tidak ada demonstrasi. Tidak seperti di beberapa kota di Jawa yang saya baca di media langsung menggelar aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga. Malah di Makasar ada korban jiwa. “Sudah biasa mahal,” kata Adi, sopir mobil sewaan yang menjemput saya. Nada berat terdengar lirih, terhapus semangatnya untuk melanjutkan tugas memegang kemudi.