Blog

Pengakuan Pertama

Dalam beberapa kali tulisan, saya menyampaikan betapa penting sebuah bisnis dibangun dengan cerita. Cerita dianggap lebih efektif dalam menyampaikan pesan tentang bisnis, baik ke internal maupun eksternal.

Dalam NLP (neuro-linguistic programming), cerita dipercaya mampu membangun kepercayaan pendengar lewat serapan pikiran bawah sadar. Lewat cerita, pesan-pesan khusus suatu bisnis disampaikan secara tepat namun lembut. Pesan-pesan penting bisa diselipkan di tengah-tengah cerita di saat pendengar sedang sangat menikmati sambil mengizinkan pikiran kritisnya istirahat.

Minggu ini kita sudah memasuki tahun baru. Lazimnya, tahun baru ditandai dengan semangat dan strategi baru. Dalam hal ini, tahun baru perlu dibuka dengan cerita baru. Ini penting supaya pelanggan kita lebih percaya akan langkah yang akan kita tempuh di waktu yang akan datang. Penyampaian cerita secara terbuka membuka pula harapan akan keterbukaan bisnis yang kita jalankan.

Setidaknya, ada tiga langkah dalam menyusun cerita bisnis supaya kesan pertama sungguh menancap di benak pelanggan. Ketiganya sudah diuji oleh Paul Smith dalam buku apiknya Lead with A Story; memimpin dengan sebuah cerita.

Tahun Baru Sudah Berbulan-bulan Lalu

Doa St John de Britto

Kembang api di mana-mana. Langit gelap terpecah cahaya. Pekik terompet menyayat malam. Gempita sekali. Jalanan bersesakan. Pusat-pusat hiburan bertaburan bintang-bintang.

Semua bergembira. Detik-detik pergantian malam disepakati sebagai pergantian tahun. Pantas dirayakan sebab beda dengan malam-malam sebelumnya.

Selebrasi konsumsi pun seperti pesta suci. Banyak orang menyembah kalender baru. Litani tahun lawas masuk keranjang dosa. Ganti mereka berhala pada janji tahun baru. Demit anyar itu mereka kasih nama “resolusi”. Girang bukan kepalang mereka menemu harapan baru ini. Semoga demit itu tidak gentayangan sepanjang tahun, berujung di ujung kubur, resolusi mati tersambar petir.

Padahal, sejatinya, pesta pergantian tahun itu adalah milik para penyelenggara acara. Merekalah empunya pesta. Sudah jauh-jauh hari mereka merancang acara. Sudah jauh-jauh hari mereka tiba di tanggal 31 Desember-1 Januari. Pada penanggalan kerja mereka, sedari lama mereka sudah mencapainya. Maka, sedari itu, mereka telah mengalami tahun baru.