Blog

Siap UN

UN semakin di pelupuk mata. Mata berkaca-kaca dibuatnya. Bagaimana mengusapnya?

Dua hari ini saya berbicara di depan 400-an siswa SMK 1 Sedayu, Bantul. Mereka dikumpulkan dalam acara AMT (Achievement Motivation Training) sebagai persiapan menghadapi UN (Ujian Nasional) pada 14-16 April 2014.

Di negeri ini, UN sedemikian hebohnya. Seperti hajatan besar, semua perhatian mengarah ke sana. Tak hanya siswa yang tersedot perhatiannya. Guru, orangtua siswa, bahkan masyarakat umum pun turut nimbrung dalam ingar-bingar perbincangannya. Juga saya—lewat tulisan ini setidaknya.

Tahun 2014 ini saja yang berbeda. Gunjingan seputar UN terasa tak begitu bergemuruh. Rasanya begitu. Ya, karena dalam waktu bersamaan, bangsa ini sedang punya perhelatan akbar bernama Pemilu (pemilihan umum), baik untuk memilih calon anggota legislatif maupun calon presiden.

Takhayul Ujian Nasional

Republik sedang galau. Persis ABG. Pejabatnya suka meracau, rakyatnya suka melow-melow. Goyang dombret rame-rame. Asal asoi.

Korbannya anak-anak sekolah. Mereka dicekoki dengan ritual takhayul bernama UN (ujian nasional). Mengapa takhayul?

Ujian adalah tahapan biasa, sangat biasa, dalam suatu proses pembelajaran. Entah sekolah, lebih-lebih hidup, ujian itu satu paket dengan pembelajaran.  Dan banyak sekali ujian di kehidupan ini: termasuk ujian SIM.

Lucunya, ujian di dunia pendidikan formallah yang paling heboh. Seolah-olah pendidikan formal itu instrumen paling yahud dalam penentuan keberhasilan seseorang-sebangsaan. Selain ujian nasional, ujian sertifikasi guru juga tak kurang ributnya.

Sebagai sebuah ritual takhayul, UN ditempatkan layaknya pohon beringin yang keramat. UN harus disembah supaya penyembahnya tidak kesurupan. Kemenyan-dupa disulut supaya aroma mistis merebak. Lampu petromaks diredupnya supaya kesan singup didapatkan. Sajen kembang tujuh rupa berupa soal-soal yang disegel pun dijaga punggawa nagari bersenjatakan bedil.