Blog

Writing Coaching Hanya untuk Penulis Besar

WCR writeSupaya tahu, writing coaching memang sangat bisa membantu penulis besar, atau siapa pun yang mau jadi penulis besar, atau siapa pun yang bermimpi besar. Selain itu tidak.

 

“Mas, saya minta di-coaching menulis dong,” pinta seseorang di seberang pesan gawai.

Untuk apa?

“Ya biar bisa nulis aja,” jawabnya.

Emang mau nulis apa to?

“Ya nulis artikel apa cerpen gitu,” sahutnya.

Oh, kalau begitu, anda tidak butuh coaching.

“Lho…?”

Naikkan Harga

Sell the Mentor 1 Arus besar tak harus diikuti. Fokus pada mereka yang mau keluar dari arus yang melemahkan. Fokus pada yang hanya mau naik kelas.

 

Di saat perekonomian disebut-sebut sedang memburuk seperti sekarang, dan banyak orang bersepakat atasnya, dan sebagian dari mereka berjamaah menggerutui keadaan, dan kemudian makin benarlah keburukan itu, saya merasa ini saat yang tepat bagi saya untuk menyampaikan sikap. Bukan sikap yang menentukan perekonomian bangsa, lebih-lebih yang kemudian mengubah keadaan menjadi lebih baik, lebih-lebih yang kemudian mampu membangkitkan orang-orang dari keterpurukan, lebih-lebih membalik keadaan, melainkan hanya untuk mengurangi satu suara bahwa tidak selalu yang umum itu patut diikuti apalagi jadi rujukan kebenaran.

Kemah Menulis

IMG_20150607_110525Belajar dengan bermain. Sungguh-sungguh bermain yang belajar. Tentang “kemah menulis” yang dimuat di Harian Bernas, 10 Juni 2015.

 

Aldian Aldi berdiri tegap di depan barisan. Ia memberi aba-aba kepada teman-teman yang berbaris di depannya. Hari mulai malam. Sebanyak 155 murid SMP Maria Assumpta Klaten tengah ikuti kemah menulis bertajuk “writing tresna jalaran seka kulina”, Sabtu-Minggu, 6-7 Juni 2015 di lapangan kampus setempat. Aldian murid kelas 7 di sekolah tersebut. Ia anggota dewan penggalang yang sejak sehari sebelumnya menggelar kemah pramuka untuk peserta yang sama.

Malam itu terasa istimewa. Acara pelatihan menulis diadakan secara berbeda. Tidak di kelas atau aula, melainkan di lapangan terbuka. Duduk di lapangan basket, mereka beratapkan langit. Sedang tidak berbintang, langit hanya berhias secuil bulan. Itu pun sembunyi-sembunyi di balik awan.

Mengundang pembicara dan pelatih menulis AA Kunto A, kemah menulis dikemas sedemikian rupa menjadi ajang belajar menulis secara mudah dan menyenangkan. CoachWriter yang sekaligus Pemimpin Redaksi HarianBernas.com tersebut punya metode unik menggerakkan murid-murid antusias belajar menulis.

Kelas Inspirasi

CoachWriter? Profesi apa itu? Pekerjaan apa yang dilakukan?

Tak sepi lini masa saya @AAKuntoA @myCoachWriter bertaburan pertanyaan setara. Saya bungah-bungah saja dihampiri nada-nada penasaran seperti itu. Sebungah hasrat untuk menjernihkannya.

Namun, sebelum anda menuai jawaban atas penasaran serupa, dan saya juga menggelindingkan pengertian atas rasa penasaran tersebut, saya ingin bercerita hal lain dulu. Pada akhir cerita ini nanti saya akan kembali ke awal, ke titik ketika pertanyaan-pertanyaan di atas beranjak.

Senin, 16 Maret 2015, esok saya menggabungkan diri dalam Kelas Inspirasi. Selama sehari, saya mengajar di SDN Kebonagung 1, Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dari kelas satu sampai kelas enam.

Mengajar apa? Sebagaimana semangat Kelas Inspirasi “berbagi inspirasi lewat profesi”, saya bercerita tentang profesi CoachWriter yang selama 3 tahun teranyar saya tekuni dengan pelapis ilmu coaching, mentoring, dan training berpenggerak NLP (neuro-linguistic programming).

 

Belajar Menulis

150219 In House CoachingSangat beruntung. Saat sedang menyantap hidangan pada sebuah pesta manten, Minggu (15/2), saya bersua dengan guru menulis saya Pak St Kartono. Langka. Kerap bersua di buku wajah (facebook) namun kami jarang baku tatap di alam nyata. Tentu saja, kesempatan akik (karena sedang tidak tren emas) ini saya manfaatkan apik-apik.

Salah satu topik yang kami pertukarkan adalah agenda “tebar pesona” minggu ini. Beliau ke Jakarta atas undangan Alfa Anindito Pratomo, dan sudah pulang dinihari tadi menumpang maskapai singa, sedang saya ke Sidoarjo atas undangan Suster Lestari Caritas, akan menumpang ular besi petang nanti. Beliau berbagi kepada juru warta—profesi saya dulu, saya berbagi kepada pahlawan bersertifikasi—profesi beliau sekarang. Saling-silang rupanya.

Yang selalu inspiratif dari guru saya ini adalah kesediaannya untuk bertanya pada murid. Pada saya, beliau bertanya, topik apa yang sebaiknya digulirkan kepada jurnalis muda. Sebagai murid yang juga belajar percaya diri, termasuk percaya pada pendapat sendiri, dari beliau, saya tak ragu melontarkan isi kepala kepada beliau.