“Tangan-Tangan” Tangan Ibu

“Tangan-Tangan” karya Lilik Soekoer

Sudah setengah tahun buku “Tangan-Tangan” ini terbit dan beredar di toko buku. Sudah hampir setengah tahun buku ini diluncurkan di Kopi Tiam Oey yang adalah rumah semasa kecil si penulis.

Di hari yang istimewa ini, hari Ibu, saya ingin membagikan catatan saya atas buku yang ditulis Lilik Soekoer ini. Catatan lisan sudah saya sampaikan sewaktu saya diundang menjadi salah satu pembahas buku saat peluncuran.

Sejatinya, sempat ada rencana merilis tulisan ke media massa. Saya sudah menulisnya. Saya sudah berjanji pada penulis untuk mengirimkannya. Namun urung.

Saya ingin membuat catatan personal. Di rumah saya, bukan di rumah orang. Di blog saya, bukan di koran. Bisa berpanjang-panjang, bisa lebih leluasa. Lebih mengalir tanpa tuntutan menjadi “ilmiah”, “berbobot”, “sesuai dengan pembaca”, dan seterusnya. Bisa memilih waktu publikasi: hari Ibu.

“Tangan-Tangan” adalah buku yang ditulis seorang ibu. Ibu yang komplit. Ada ketegaran. Ada ketekunan. Ada kegundahan. Ada kegembiraan. Ada kesedihan. Ada cinta!

Ada cerita kecil. Ada cerita besar. Walau begitu, setiap cerita menempati peran yang istimewa. Cerita kecil melatari cerita besar. Cerita besar terbangun dari serpihan-serpihan kecil. Lalu kecil-besar itu melebur, tiada lagi. Tinggallah keutuhan kehidupan yang sangat pantas disyukuri.

Saya pun bersyukur mengenal penulis dalam berbagai dimensi. Juga dalam rentang waktu yang panjang. Buku ini adalah sosok kekinian penulis yang tertulis. Lebih dalam lagi, tulisan-tulisan terpilih dari beragam kisah-kisah hidup. Membaca buku ini, dan menuangkan catatan atasnya, tak bisa saya lepaskan dari perjalanan perkenalan saya dengan penulis.

Sekira tahun 1995, saya mengenal penulis. Kala itu saya masih SMA kelas dua. Mbak Lilik, begini saya memanggilnya, karyawan senior di Penerbit Kanisius. Ia bertugas mengepalai taman komunikasi. Saya belajar menulis di bawah bimbingan redaksi. Saya dan teman-teman kemudian mendirikan Sanggar Talenta, sanggar penulis remaja, dan menelorkan beberapa buku.

Saya kerap singgah di meja kerja Mbak Lilik. Pribadi yang hangat ini murah hati dalam berbagi cerita apa pun. Sejak itu pula saya mengenal Mas Totok, suaminya, yang rajin menjemput dengan Corvet (Corolla Veteran) 79 metalik. Kumis tebalnya tak seperti mengecoh bahwa sejatinya Mas Totok pribadi yang hangat dan murah senyum. Sesekali, turut pula menjemput Mirta dan Tito, putri dan putra mereka, yang kala itu masih kanak-kanak. Saya mengenali mereka karena kehadiran mereka cukup mencolok. Suami dan anak-anak menjemput ibunya.

“Mbak Lilik sudah resign,” kabar mengejutkan itu saya dengar di suatu hari tahun 2005. Saat itu sudah 2 tahun saya merantau. Kabar itu mengundang decak heran saya. Mbak Lilik memutuskan meninggalkan zona nyamannya justru ketika bisnis Mas Totok sedang bangkrut. Mas Totok adalah eksportir. Gendeng, pikir saya.

Rupanya, keputusan itu diambil setelah melewati pertimbangan yang sangat masak. Saya menyebutnya sebagai keputusan yang beda tipis antara keberanian dan kenekadan. Sepotong-sepotong saya dengar, Mbak Lilik memutuskan keluar dari bekerja kantoran justru supaya bisa sepenuhnya mendukung Mas Totok bangkit dari keterpurukan.

Di buku ini, yang terbit bertahun-tahun setelah masa kegelapan itu, yang terbit berkat dorongan dari teman-teman seangkatan Mbak Likik di SMA Kolese Loyola Semarang, titik balik itu terangkai dalam cerita yang begitu apik. Sebelumnya, cuilan-cuilan cerita hidupnya “hanya” dibagikan dengan orang-orang terbatas lewat Note di Facebook dan mailing list.

Berani sekali Mbak Lilik! Bukankah kegagalan itu aib? Rupanya tidak. Baginya, kegagalan adalah anugerah kehidupan yang layak disyukuri. Berkat kegagalan, ia belajar banyak bagaimana mencapai keberhasilan.

Apakah sekarang Mbak Lilik sudah sukses? Untungnya, ini bukan buku kisah sukses seperti kebanyakan buku yang sudah beredar. Kalau pun menggunakan terminologi sukses, isi buku berisi kesuksesan seorang ibu dalam memberi keteladanan bagi keluarganya. Teladan tentang apa? Banyak. Tentang keyakinan yang kuat untuk mencapai mimpi, tentang kesediaan bekerja keras dan bermati raga, tentang kepasrahan maha luas akan penyelenggaraan ilahi, dan tentang ketekunan untuk menjalani renda-demi-renda kehidupan.

Dengan judul “Tangan-Tangan”, Mbak Lilik sanggup untuk merengkuh kerasnya kehidupan yang ia hadapi lewat penceritaan yang lembut. Saya menyebut buku ini “teriakan-teriakan sunyi”. Sekeras-kerasnya Mbak Lilik berteriak, sesunyi-sunyinya Mbak Lilik berteriak. Teriakannya tak mendayu-dayu dengan nada Gregorian, melainkan seringan Mazmur, “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya.”

Judul “Tangan-Tangan” memang berangkat dari kontemplasinya. Satu, ia percaya, setiap perjalanan hidupnya sudah ditentukan oleh perenda hidupnya. Mbak Lilik yang hobi merenda mengumpamakan demikian hidupnya. Dua, ia percaya, banyak tangan yang menjulur kepadanya, yang memungkinkannya melangkah, yang menguatnya berdiri dari kejatuhan, dan yang membentenginya dari godaan keangkuhan. Ada banyak tangan yang campur tangan untuknya.

Ada tangan yang menuntun Mbak Lilik dan Mirta ketika itu berangkat ke Amerika, mendatangi buyer, supaya kembali memesan produk mereka. Ada tangan yang membeli rumah mereka sehingga utang terbayar. Ada tangan yang mendoakannya. Bahkan, lucunya: tangan Zulu pun menorehkan pesan di buku ini. Zulu adalah anjing kesayangan keluarga.

Saya tersentuh oleh beberapa kisah di buku ini:

“Abu Merapi di Atas Tanahku” adalah judul tulisan Mbak Lilik di halaman 153. Ia bertutur tentang sepetak tanah di Pakem, lereng selatan Merapi. Tanah yang ia sebut-sebut telah mencuri hatinya itu tertutup abu akibat letusan Merapi medio akhir 2010. Ditulisnya bagaimana rencana-rencana sudah dibuat: “… berkumpul dengan para penulis, membuka taman bacaan, belajar menari, melakukan kegiatan produktif yang melibatkan orang-orang, berbuat baik bagi orang lain.” Persis yang pernah Mbak Lilik sampaikan kepada saya sebelumnya. Ketika itu, saat mampir ke rumah sepasang sahabat usai bersepeda susur sawah, saya bertemu Mbak Lilik dan Mas Totok. Cerita tentang sepetak tanah ini memantik penasaran saya, hingga saya pun diajak menengoknya. Dan memang indah. Tanah itu berada di pinggir sungai kecil, tak jauh dari rumah pelukis Kartika Afandi. Sebatang pohon kelapa menjulur ke langit, persis di bibir sungai. Mbak Lilik begitu bersemangat ketika menyodorkan gagasan bagaimana di kesunyian rumahnya akan lahir penulis-penulis. Ah, betapa terpikat hati saya.

“Di sana juga nanti akan ada panti jompo yang cukup besar. Pasti banyak hal bisa dilakukan untuk berbuat baik, seperti memasakkan air kesukaan mereka, atau mungkin hanya sekadar membacakan buku. Aku belum pernah membalas cinta kasih bapak ibuku yang terlalu dini meninggalkanku. Jadi rasa hormat dan terima kasihku kepada orangtuaku dapat disalurkan kepada mereka.” (hlm. 155)

Namun, alam memiliki rencana lain. Letusan Merapi mengakibatkan rencana mendirikan “rumah batu” tertunda. “Rumah batu di Pakem membuatku berserah pada rencana-Nya. Kini yang ada hanya rumah mungil di Wedi-Klaten yang terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu dapur. Cukup untuk ditempati berdua.” (hlm. 161) Mirta dan Tito sudah bekerja dan merantau. Di rumah kecil yang disebutnya “shelter home” itu Mbak Lilik menemani Mas Totok membangun kembali usahanya. Di “shelter home” itu tulisan-tulisan untuk buku ini banyak terlahir. Sayang, saya belum juga menepati janji untuk singgah ke sana.

Saya mencatat khusus soal “rumah” Mbak Lilik. Dalam kisah-kisah hidup yang diceritakannya, nuansa “rumah” begitu kental. Secara fisik, Mbak Lilik pernah tinggal dan berpindah-pindah di beberapa rumah. Rumah waktu kecil, rumah waktu bertumbuh bersama orangtua, rumah waktu sudah berkeluarga, rumah yang sekaligus tempat kerja, rumah pengungsian, rumah persinggahan, dan rumah impian. Secara spiritual pun demikian: pernah mengredit rumah, pernah menjual rumah; datang dan pergi.

Bagi saya, seperti saya utarakan tatkala peluncuran buku, buku ini adalah warisan mewah seorang ibu. Terlebih untuk Mirta dan Tito. Warisan buku ini tak akan habis dibagi-bagi. Akan abadi. Lewat buku ini, Mirta dan Tito akan selalu bisa menimba nilai-nilai kehidupan yang diteladankan ibunya. Tak banyak anak yang seberuntung mereka menerima warisan seperti ini.

Mbak Lilik yang luar biasa, dan para ibu yang istimewa di hati anak-anaknya, selamat hari Ibu.

 

Salam hangat,

@AAKuntoA

[http://aakuntoa.com; aakuntoa@solusiide.com]

 

4 Comments

Add Yours
    • 2
      AA Kunto A

      Setuju Mbak Nilam. Buku ini sangat inspiratif untuk kita: kembali kepada kesederhanaan sekaligus kepada kemewahan hidup. Tidak perlu jauh-jauh. Semua ada di dekat kita, di kita.

      • 3
        Lilik Soekoer

        Kunto…Kunto…kenapa gak bilang kalau sudah nulis tentang bukuku di sini??? ini gak sengaja aku iseng-iseng buka… membaca… dan aku terharu… hiks…
        Kebetulan hari ini Hari Ibu Internasional… jadi pas banget dibaca hari ini….
        Thanks ya… indah banget komentarmu, aku bener2 jadi berkaca-kaca.
        hhhmmm… lama kita gak ketemu, banyak cerita yang baru kutulis di blog. Kalau kesuksesan di nilai dari harta benda, aku belum sukses.. tapi bagiku kesuksesan adalah ketika aku berhasil melewati setiap langkah hidup yang kuambil.. itu saja!.
        Trimakasih banyak yaaaa….. kangen ngobrol lagi… kapan??

        • 4
          AA Kunto A

          Hohoho… sengaja nggak ngabari sampeyan Mbak… karena yakin suatu saat sampeyan pasti singgah di rumahku ini hahaha… Dan benar! Iya, lama banget kita nggak ketemu dan ngobrol. Aku ya tetep belum jadi ke Klaten, piye jal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *