Tanggalkan Gelar Jika Tak Mampu Menulis Benar

Benar, gelar dan jabatan tak selalu mencerminkan isi kepala—apalagi isi hati.

Lebih dari setahun saya mengampu redaksi sebuah koran. Sesebentar itu pula saya menyiapkan portalnya. Sekaligus, ya menyelamatkan edisi cetak—yang sudah “senjakala” menurut seorang redaktur koran ibu kota—ya mengibarkan medium barunya.

Secara khusus, selain menjadi pemimpin redaksi, saya mengasuh rubrik inspirasi. Rubrik ini berisi esai-esai para penulis dengan semangat menggugah sesuatu, mencerahkan, dan oleh karenanya disajikan ringan. Beberapa bulan belakangan, karena redaktur pengampunya pensiun, saya didapuk menggantikan mengelola rubrik opini di halaman dalam. Oh ya, karena semangatnya, rubrik inspirasi ditampilkan di halaman depan, di atas berita utama.

Tanggalkan gelar jika tak mampu menulis benarSebelum ini saya adalah penulis opini di media massa. Saat menulis, dan mengirimkan ke redaksi media massa, yang ada dalam benak saya adalah selera redakturnya. Maka penting bagi saya mengenali redaktur media massa demi memastikan tulisan saya dimuat. Mengenali berarti memahami topik apa yang paling besar peluangnya dimuat, gaya bahasa seperti apa yang disukai, serta pantangan apa yang diemohi.

Tentu saja, karena redaktur adalah representasi dari media, maka penting juga memahami karakter media yang dikelolanya. Karakter tak sebatas pada kekhasan redaksional—model pemberitaan, gaya tutur—melainkan juga model bisnis yang menopangnya. Jika unsur bisnisnya lebih menonjol, saya pastikan media itu nggak galak isinya. Meskipun ada juga media galak yang bisnisnya jalan.

Kembali ke peran saya sebagai pengampu rubrik—istilah jadul khas media cetak. Saban hari ada banyak email masuk berisi artikel opini. Penulisnya beragam, apalagi topiknya.

Seleksi pertama saya tentukan dari judul email. Subjek yang miskin, seperti “opini saya”, “artikel untuk opini”, “kepada redaksi”, saya pastikan saya lewati. Ogah mencari tahu pesan yang tak jelas. Sebab, dari subjek email bisa ditebak berisi-tidaknya artikel yang disertakan.

Selalu begitu? Oh, tidak juga. Saya akan melihat, kedua, siapa pengirimnya. Pengirim yang menggunakan nama alay saya pastikan tidak saya tanggapi. Penulis yang saya kenal, baik kenal personal maupun kenal kiprahnya, saya pertimbangkan untuk saya buka pesannya.

Nah, di sini mulai lucu. Tak sedikit saya menjumpai email yang tidak disertai pengantar. Sudah subjeknya miskin, pengantarnya pun pelit. Sekadar menyapa “redaktur, saya sampaikan artikel opini berjudul…, dan berisi…” saja tidak. Ini ibarat orang nyegat saya di pinggir jalan, memberikan sesuatu tanpa ngomong langsung pergi. Ya kalau isinya memang benar untuk saya, dan bermanfaat. Kalau isinya untuk orang lain, atau barang berbahaya, bagaimana?

Banyak email seperti itu. Saya berpikir, ini rupanya alasan kenapa kelas-kelas pembelajaran “komunikasi” selalu relevan diadakan. Banyak orang untuk berkomunikasi hal-hal mendasar saja alpha. Apakah mereka tak diajari di sekolah hal seperti ini? Tak juga di rumah?

Ini baru kulit luarnya. Masuk ke dalam, pemandangan seru lain kerap saya jumpai. Ujungnya: saya semakin tidak silau dengan gelar akademik!

Kenapa? Entah dosen, guru, pejabat, pebisnis, atau siapa pun, yang mengirimkan tulisan dengan embel-embel gelar di depan dan di belakang, tak selalu sanggup mempertanggungjawabkan deretan gelar itu.  Yang paling jamak adalah gelar tak berhubungan dengan tulisan. Jadi sejatinya tak perlu dicantumkan.

Jamak berikutnya, gelar tak sepadan dengan bobot tulisan. Saya heran, ada yang bangga banget dengan gelarnya padahal hanya untuk berkomentar isu-isu ringan. Sudah isunya ringan, ulasannya pun enteng nyaris tanpa bobot seberat gelarnya.

Apa yang kemudian saya lakukan? Hapus gelar itu!

Ya, di setiap artikel yang saya muat, gelarnya saya hapus. Kasihan pembaca. Mereka akan malu terhadap penulis yang keberatan gelar!

Lho, tapi kan ada yang punya tujuan tertentu dengan mencantumkan gelar itu? Maksudnya? “Untuk ngumpulin angka kredit.” Glek. Bukan ada lagi. Banyak. Sedikit yang bermutu, kebanyakan bermutu sedikit. Sedih kadang membaca tulisan guru dan dosen yang selain rendah mutu juga berantakan penulisannya. Bukan saja bahasanya kaku bikin pegel, sebagian malah struktur berpikirnya hancur. Mereka menulis tanpa dasar pemikiran yang jelas, dan kemudian solusi yang mereka tawarkan pun daur ulang dari solusi-solusi pasaran.

Maklum, bisa jadi, gelar itu mereka unduh sudah terlalu lama. Sudah tumpul. Bisa juga mereka memang tak melatih terus kecakapan menulis. Mereka menulis hanya jika ada tugas. Itu pun tak pernah mereka kerjakan secara sungguh-sungguh. Asal menulis, tidak mengendap.

Saya kompromistis! Gelar saya cantumkan di akhir tulisan. Dan hanya untuk mereka yang membutuhkan gelar untuk urusan administratif seperti sertifikasi: guru, dosen, pejabat.

Ada satu penulis yang saya masukkan dalam daftar hitam. Setiap dia mengirim tulisan, saya abaikan. Tidak saya buka, apalagi saya baca. Saya tahu, tulisannya pasti buruk. Ya buruk ide, ya buruk pembahasannya. Penulis itu tak tahu diri. Sudah saya koreksi beberapa kali agar ketika menulis fokus pada ide pokok. Juga saya tunjukkan koreksi saya atas tulisannya, yakni agar satu paragraf dipecah dalam beberapa kalimat pendek, bukan satu alinea satu kalimat. Dia bebal, saya sebal.

Miris jika saya rasa-rasakan. Kemampuan menulis kebanyakan orang buruk sekali. Bahkan pada mereka yang profesi kesehariannya dekat dengan aktivitas menulis, membaca, meneliti, dan mengajar. Bahkan, ada penulis yang kacau tulisannya, berantakan tanda bacanya, dan terbalik-balik awalan-kata depannya. Ketika saya komentari, dia berkilah, “Kan ada editor!” Batin saya, kerja editor merapikan, bukan menulis ulang…

Dari semua itu saya belajar, kompetensi orang sama sekali tidak bisa ditakar dari tampak luar. Saya semakin hati-hati dalam mengukur kedalaman isi kepala orang—belum lagi isi hati. Apa yang tertuang dalam tulisan tak selalu mencerminkan kenyataan.

Konkretnya, saya kemudian berfokus pada “topik dan isi tulisan”, bukan “siapa yang menulis”. Beruntung, di antara kaisan, masih ada tulisan-tulisan yang bagus. Penulisnya kadang tak saya nyana: mahasiswa, pensiunan pegawai, ibu rumah tangga, praktisi bisnis. Mereka secara natural bukan penulis. Namun, kadang, karena mereka secara natural penutur, dan tak banyak dibebani oleh teori menulis, tulisan mereka lebih mengalir. Tentu, jika gaya penulisan mereka tak ciamik, sebagai redaktur yang meloloskan, saya tak harus memalingkan muka ketika pembaca menatapi tulisan mereka.

Itulah sekelumit cerita. Saya menerima pengalaman ini sebagai bagian dari penjuru ujian. Sebagai CoachWriter, yang banyak melatih penulis lewat coaching dan training, mengelola rubrik di koran merupakan ruang lain untuk menaikkan kelas saya. Saya justru berterima kasih kepada mereka yang di balik topik utama tentang penulisan telah melatih saya ketekunan.

@AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *