Tanpa Rokok: Bincang Bisnis Media

Ngopi bareng Fauzan Marassabesy

Ngopi bareng Fauzan Marassabesy

Sama-sama tinggal di Bali, sama-sama sering dapat tugas ke luar Bali. Maka, selagi tak ke mana-mana, berharga sekali perjumpaan seperti ini.

Ada banyak kesamaan cerita yang menautkan kami. Kami sama-sama pekerja media massa. Oh, lebih tepatnya, saya pernah, Mas Oezanee Marssy (Fauzan Marasabessy) masih aktif. Saya di redaksi, Mas Fauzan di bisnis. Ia sekarang Direktur Tribun Bali & Pos Kupang Kompas Gramedia.

“Kami ada ruangan. Kami ada program ke sekolah-sekolah. Kami ada…,” sekonyong-konyong peluang kerja bareng itu mengalir. “Siap!” respons saya cepat sambil mendengarkan cerita bagaimana kinerja Tribun Bali cetak dan daring. Takjub! Ada banyak kisah di balik layar yang bikin saya hanya bisa komentar, “Wow!”

Mas Fauzan pencerita yang baik. “Tapi belum nulis buku,” kilahnya seraya menceritakan isi buku saya 7 Steps of Writing Coaching yang sudah dibacanya. “Ya tinggal tulis saja kan, Mas,” balas saya mendorong. “Sebagai warisan. Bukan untuk komersial.”

Deg! Ia menatap saya tajam. Rupanya frasa “sebagai warisan” itu mengusiknya.

Buru-buru saya menyusulkan klarifikasi. “Supaya anak-anak tahu ada cerita apa di balik fam Marasabessy yang melekat di nama mereka. Betapa mereka mewarisi ketangguhan papanya,” kompor saya.

Sangat berharga, tandas saya, cerita bagaimana Fauzan belia, lulus SMP, naik kapal 5 malam dari Ambon merantau ke Jakarta. Tak tahu siapa yang dituju. Sesampai di Tanjung Priok ia datangi orang-orang Ambon lalu ia nyatakan niatnya ikut mereka.

Hari-hari berikutnya, sebelum bisa melanjutkan sekolah di SMA 50 Jakarta Timur, ia lakoni hidup dengan menjadi pencuci piring di sebuah rumah makan Padang depan Toko Gramedia Matraman. Lalu kuliah di Pulo Mas yang kampusnya kini bernama STIE ASMI dan bekerja di TRAC.

Jika kini ia bisa menakhodai Tribun Bali sebagai media terbesar yang diterima oleh masyarakat Bali, itu berkat kesediaannya membawa medianya hadir penuh lewat upacara adat seperti odalan dan metatah. Ia pun fasih berbahasa Bali setelah berhasil memaksa karyawan berbicara bahasa Bali padanya di hari tertentu.

“Ilmunya ‘building rapport’-nya yang kita pelajari bersama, Mas,” ujarnya sembari menyebut nama Richard Bandler, co-creator NLP, kakek guru kami.

Bali, 1 Agustus 2017
@AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *