Tanya Kenapa

Malu bertanya sesat di jalan. Tak bisa bertanya tak tahu jalan sesat.

Di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini, saya ingin menghardik ruang imajinasi kita tentang “bertanya”. Sudahkah kita bertanya? Masih bisakah kita bertanya? Kita bertanya tentang apa saja?

Serta-merta, saya sodorkan dulu tujuan penulisan catatan ini: hapuskan Ujian Nasional (UN)! Tak perlu bertele-panjang alasan, semata karena lewat UN, pendidikan kita tak mendidik siswa bertanya. UN hanya mengizinkan siswa menjawab. Pun menjawab sesuai pilihan yang tersedia.

UN tak hanya mengerdilkan siswa, melainkan meniadakan kehadiran siswa sebagai pribadi yang luhur: manusia berakal-budi. Jahat sekali!

UN memberangus ruang imajinasi akan apa yang disebut Michel Foucoult sebagai ilusoris ruang (heterotopian space). Dalam bahasa Bachelard, UN menghapus kenangan akan ruang (inner space) yang melekat pada manusia. Kenangan akan apa? Akan keleluasan dan keleluasaan bertanya. Bertanya tentang apa? Tentang apa saja.

Bukankah saat lahir, manusia tak mengerti apa-apa, selain bahasa kasih ibunya? Bukankah, seiring pertumbuhannya, manusia sedikit-demi-sedikit mengerti sesuatu berkat bertanya? Betapa cakrawala pengetahuan makin membentang hanya dengan mengulang-ulang pertanyaan: “Ini apa?” Setiap menjumpai sesuatu, pertanyaan yang sama yang terlontar.

Berkat pertanyaan sederhana ini, makin tahulah kita apa ini apa itu. Kian berkembanglah pertanyaan kita: “Ini siapa?” Lalu: “Kenapa begini?” Dan seterusnya, dunia makin terang berkat cahaya pertanyaan. Berkat pertanyaan, kita terus menemukan sesuatu, dan kemudian memahaminya.

Pertanyaan itu mengagumkan. Tengok sejenak anak-anak di sekitar kita, terutama yang belum sekolah. Pernahkah kita dibikin kelabakan oleh pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang mereka lontarkan secara spontan dan jujur? Tajam kan pertanyaan mereka? Sebelum kita menjawab, kita dibuat kagum terlebih dulu betapa hebat pikiran anak-anak itu. Itulah, di balik pertanyaan, berkelindan pikiran yang imajinatif, melampaui apa pun: ruang, waktu, juga nalar.

Adagium “malu bertanya sesat di jalan” tentu sangat beralasan. Pepatah itu menunjukkan betapa pentingnya bertanya. Di ruang pendidikan apalagi, bertanya adalah jiwa. Setiap pengetahuan lahir dari pertanyaan. Setiap penelitian dimulai dari pertanyaan. Dan, setiap sintesis pun selalu mengundang pertanyaan baru. Nah, betapa hakikat pendidikan adalah bertanya.

Mestinya, pendidikan adalah planet imajinasi yang penuh pertanyaan. Setiap orang berpesta mempertanyakan sesuatu. Mulai dari bertanya “apa kabar” “apa yang anda pelajari” “mengapa anda lakukan itu” “bagaimana sesuatu bekerja”…

Akan muncul banyak cerita dari pertanyaan-pertanyaan itu. Setiap orang punya cerita unik, beda dari yang lain. Bukankah manusia memang tercipta beda-beda, dan tak perlu dipaksakan menjadi sama? Cerita-cerita yang beda dan unik itulah yang menumbuhsuburkan dunia pengetahuan. Akan lahir pemikiran-pemikiran baru dalam wujud artikel, buku, atau karya pikir lainnya. Pemikiran-pemikiran itu adalah penemuan, pembaruan, pembaikan.

Apa jadinya pendidikan tanpa habit bertanya? “Tak boleh bertanya, anda masuk jalan sesat.” Bertanyalah, mengapa?

 

Tanpa upacara bendera,

@AAKuntoA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *